
Seminggu kemudian.
Ini adalah pertama kali,sejak kecelakaan itu,Andrew pada akhirnya sadar,Miko masih setia menunggunya disana.
"Andrew,syukurlah...Akhirnya kau sadar juga."Miko nampak senang.
"Dimana aku?" Andrew yang bingung,karena terakhir yang dia ingat adalah disaat dia ingin menjemput Julia.
"Dirumah sakit,apa kau tidak ingat apa yang terjadi?" Miko cemas.
"Tidak,kenapa aku dirumah sakit?Kenapa kepalaku sakit?"Andrew memegangi kepalanya.
"Kau mengalami kecelakaan,jadi jangan terlalu banyak bergerak dulu,aku akan panggilkan dokter." Miko pergi keluar,dia harus memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Andrew.
Andrew masih terlihat linglung,mungkin karena benturan keras dikepalanya,tapi dia ingat orang-orang didekatny,bis terlihat jika dia mencari cari seseorang,dan itu sudah pasti Julia.
Miko datang bersama Dokter yang merawat Andrew,Andrew melakukan banyak pengecekan dalam tubunya,dan semua hasilnya bagus.
"Semua tidak ada masalah,4 atau 5 hari lagi sudah bisa keluar dari rumah sakit,tapi tetap harus melakukan pengecekan rutin." Ucap Dokter itu.
"Baik,terimakasih."Miko mengantar dokter itu keluar dari kamar Andrew.
Saat Miko kembali,dia melihat Andrew melihat sekitar ruangan.
"Kau sudah tidak sadar selama saru minggu,apa kau lapar?" Tanya Miko.
"Dimana dia?" Andrew langsung bertanya.
"Apa?"
"Dimana Julia?" Andrew terlihat gelisah,karena dia tidak melihat Julia.
"Oh...Iya..Dia.."Miko tidak tau harus berkata apa,bohongkah atau harus jujur.
"Dia kenapa?" Andrew tidak bisa bersabar.
Hingga orangtua Andrew datang bersama Jihan kesana untuk melihat keadaan Andrew.
"Ma.."Kata Andrew.
__ADS_1
"Sayang..Kau sudah sadar."Bibi Vivian langsung memeluknya.
"Iya..Aku baru saja bangun."
"Akhirnya kau bangun juga." Bibi Vivian sangat senang sekali.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Paman edward.
"Kakak Andrew sudah sembuh?" Tiba-tiba Jihan muncul didepan Andrew.
"Jihan disini,iya..Kakak Andrew baik-baik saja."Andrew mengusap kepala Jihan.
"Dimana mama?" Tanya Andrew pada Jihan,itu membuat semua yang disana terkejut.
"Jihan pergi sama nenek beli makan ya,kakak Andrew pasti lapar." Kata Bibi Vivian sambil memegang bahu Jihan.
"Baik."Jihan mengangguk.
Bibi Vivian terlihat mendekat kearah paman Edward,lalu dia berbisik kepadanya."Katakan padanya dengan perlahan." Lalu bibi Vivian pergi bersama Jihan.
Andrew tampak menatap Miko lalu menatap ayahnya,dia mulai merasa ada sesuatu,raut wajah 2 orang itu seperti tidak biasanya.
"Paman,aku yang akan memberitahunya,kalau paman ingi keluar dulu tidak apa?"
"Baiklah,aku percayakan hal ini padamu." Paman Edward menepuk bahu Miko,dia melihat kearah Andrew dan pergi meninggalkan mereka.
"Ada apa dengan kalian?Apa terjadi sesuatu?" Andrew terlihat sudah tidak tenang.
Miko memgambil kursi dan dia duduk di samping tempat tidur Andrew.
"Apa yang terjadi?Kenapa kau diam Miko?" Andrew berteriak dia tidak bisa mengontrol emosinya.
"Berjanjilah untuk tetap tenang,maka aku akan memberitahumu." Miko tetap tenang.
"Apa?Kenapa kau mengatakan itu,apa terjadi sesuatu padanya?Apa terjadi sesuatu pada Julia?" Andrew terdengar berteriak lagi.
"Aku sudah bilang,kalau kau berjanji untuk tenang,maka aku akan bicara,jika tidak maka lupakan saja untuk mendengar apa yang ingin kau dengar."
"Apa maksutmu?Kenapa kau berbelit belit."
__ADS_1
"Dengar atau tidak?" Miko terlihat serius.
Andrew terdiam,jika tetap seperti itu,maka dia tidak akan tau apa-apa.
"Baik,aku berjanji padamu."Andrew terlihat lebih tenang,melihat sikap Miko dia bis menebak bahwa itu bukanlah hal yang baik.
Miko nampak menarik nafas panjang dan menghembuskannya."Dia sudah pergi."
Andrew tercengang."Apa maksutmu dia pergi?"
"Ya..Dia mengatakan padaku bahwa dia akan pergi."
"Kemana?Dia pergi kemana?" Andrew hampir tidak bisa bicara karena syok,saat mengetahui Julia pergi begitu saja.
"Kami tidak tau,kami sudah berusaha mencarinya,tapi kami tidak menemukannya."
"Kalau dia pergi meninggalkanku,lalu kenapa dia tidak membawa Jihan?"Andrew merasa aneh.
"Itu juga yang menjadi pertanyaan kami,bahkan Jihan pun tidak tau dia pergi,dan Julia tidak berpamitan pada siapapun."
"Apa dia ketempat laki-laki itu?" Pikiran Andrew langsung tertuju pada Ken.
"Sepertinya tidak,aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki rumahnya,tapi dia juga tidak ada disana."
"Lalu dimana dia?dimana dia?" Andrew mulai hilang kendali.
"Apa kau bisa tenang?Apa dengan berteriak seperti itu akan membuatnya kembali?Bisakah kau berfikir dengan jernih?" Miko balik berteriam kepada Andrew.
"Bagaimana bisa aku tenang,bagaimana bisa aku berfikir jernih,membayangkan dia bersama pria itu,lalu apa aku harus diam saja." Andrew sudah hilang kendali.
"Sudah kubilang dia tidak disana." Miko menahan Andrew yang ingin melepas selang infusnya.
"Bagaimana kau tau?Apa kau melihatnya sendiri?Katakan padaku,bagaimana jika laki-laki itu menyembunyikannya,apa aku bisa tau?"
"Itu..."Miko terdiam,Andrew sudah berhenti memberontak,sehingga Miko melepaskannya.
"Dia menitipkan ini sebelum pergi."Miko mengambil secarik kertas dari kantongnya,itu adalah surat yang dititipkan oleh Julia untuk Andrew.
Andrew membukanya,dan dia mulai membacanya,dia tidak percaya dengan apa yang dia baca,dan tidak menyangka Julia akan menuliskan surat itu untuknya.
__ADS_1
"Kenapa?Kenapa Julia,kenapa kau melakukan ini padaku." Andrew menggenggam surat itu.
Miko tidak tau apa isi surat itu,tapi dari tatapan Andrew,bisa terlihat kesedihan yang dalam disana.