PACAR BRONISKU

PACAR BRONISKU
Bab 79


__ADS_3

Hari sudah siang dan ini sudah waktunya jam istirahat untuk Jihan dan Rey. Jihan nampak sedang berjalan bersama kedua temannya Chika dan Selly.


"Hei Jihan, Rey itu benar-benar saudaramu ya? kemarin kalian pulang bersama," tanya Chika.


"Hmm," jawab Jihan yang hanya bergumam.


"Itu bukannya kak Rey ya?" Ucap Selly seraya menunjuk kearah kerumunan di area lapangan olahraga.


Jihan nampak memperhatikan kearah Selly menunjuk dan benar ini kedua kalinya dia melihat Rey di kerumuni oleh siswi dari kelas lain.


"Kenapa dia tidak bisa lepas dari para siswi itu?" Gumam Jihan yang sedikit ada rasa kesal, tapi entah kesal karena apa.


Jihan berjalan menuju ke kerumunan itu diikuti Chika dan Shelly di belakangnya. Begitu sampai disana dia langsung menarik tangan Rey hingga Rey berdiri disampingnya.


"Kalian ini kurang kerjaan ya?!" Bentak Jihan kepada siswi yang mengerumuni Rey.


Rey nampak terkejut karena Jihan mau menyelamatkan nya dari siswi-siswi yang tidak mau pergi darinya sejak dari tadi.


Para gadis itu hanya terdiam memandang kearah Rey yang sudah berdiri di samping Jihan.


"Apa kalian lihat-lihat? Bubar!!" Perintah Jihan.


Para gadis itu pun membubarkan diri dari sana. Rey nampak menghela nafas lega karena dia akhirnya bisa terlepas dari para gadis itu.


"Terimakasih," ucap Rey kepada Jihan.


Jihan melirik kearah Rey dan melepaskan tangan Rey dari genggamannya.


"Kau ini tidak bisa ya jika tidak membuat masalah?!?" Bentak Jihan yang merasa kesal sendiri.


"Ya aku kan tidak tau, begitu kelas usai mereka terus saja mendatangiku," Rey membela diri.


"Hmmp," Jihan berjalan pergi menjauh dari Rey.


Rey masih tertegun melihat sikap Jihan, dia tidak mengerti apakah Jihan begitu karena peduli atau hanya malas melihatnya yang dirasa membuat kericuhan.


"Kak Rey," panggil Chika yang masih berdiri disisi Rey.


"Ya," Rey merespon panggilan Chika.


"Jangan di ambil hati, Jihan memang seperti itu, cuek tapi baik," Chika menasehati, dia tidak ingin Rey salah paham terhadap Jihan.


"Tidak kok, santai saja," Rey tetap tersenyum.


"Ikut kami ke kantin saya!" pinta Selly.


"Apa boleh? Bagaimana jika Jihan marah? Nampaknya dia tidak suka aku dekat dengannya," Rey bingung harus bagaimana.


"Sudah ikut saja!" Ajak Chika juga.


Jihan yang sedari tadi sudah berjalan nampak menghentikan langkah kakinya ketika menyadari kedua temannya tidak berada bersamanya. Jihan pun menoleh kebelakang dan berteriak ke arah mereka.


"Woi, mau jalan ga? Kau ikut sekalian!" Teriak Jihan yang ternyata mengajak ikut serta Rey.

__ADS_1


Rey nampak tersenyum ketika mendengar Jihan juga mengajaknya, dia bersemangat menerima ajakan itu.


"Tuh kan aku bilang apa, dia itu sebenarnya baik," ucap Chika.


"Iya, ayo!" ajak Selly.


"Cepetan!!" Teriak Jihan lagi.


"Iya iya," sahut Chika.


Mereka bertiga pun menyusul Jihan yang sudah melanjutkan langkahnya kearah kantin sekolah.


***


Di Cafe milik Julia, dia nampak ragu untuk turun tapi Andrew meyakinkannya bahwa semua pasti akan baik-baik saja.


Andrew menggandeng tangan Julia menuntunnya masuk kedalam Cafe. Fara yang pertama kali melihat Julia saat masuk pun langsung bergegas menghampirinya, terlihat rasa senang dan bahagia ketika melihat temannya itu dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Ya Tuhan, senang sekali bisa melihatmu lagi," ucap Fara seraya memeluk Julia.


Julia terlihat tertegun karena dia sendiri belum bisa mengingat siapapun. Andrew yang menyaksikan kebingungan Julia pun memahami hal itu dia lalu merangkulnya agar lepas dari pelukan Fara.


"Fara.. Julia mengalami amnesia jadi mungkin dia agak bingung dengan reaksimu," ucap Andrew.


Fara yang mendengar perkataan Andrew pun terkejut.


"Amnesia?" Fara mengulang perkataan Andrew.


Julia hanya tersenyum, karena tidak tau harus bagaimana menanggapi sikap semua orang.


Satu persatu karyawan Julia memperkenalkan ulang diri mereka, berharap Julia bisa sedikit mengingat kenangan akan kebersamaan mereka, bukan antara bos dan anak buahnya, tapi antara teman satu dengan yang lainnya.


Hari itu Julia dan semua yang ada di cafe itu duduk bersama, Cafe secara khusus ditutup sementara agar mereka bisa melepas rindu pada Julia, terutama Fara yang belum tau jika Julia sudah kembali. Mereka bersendau gurau menceritakan masa lalu yang membuat Julia nampak bahagia. Andrew terus memperhatikan senyum wanita yang dia cintai itu, dia merasa bahagia melihat Julia bisa tersenyum dan tertawa seperti itu.


***


Disekolah Jihan setelah jam istirahat. Rey kembali ke kelasnya, sedang Jihan bersama kedua temannya itu masih berjalan menuju kelas mereka.


Hingga kepala sekolah memanggil Jihan sekali lagi.


"Jihan, kepala sekolah memanggilmu!" perintah salah satu guru disana.


"Oh baik," jawab Jihan.


"Mau kami temani?" Tanya Chika.


"Tidak, kalian masuklah terlebih dahulu!" perintah Jihan.


"Oke," Chika mengiyakan.


Chika dan Selly berjalan kembali menuju kelas, sedangkan Jihan berbalik lagi berjalan menuju ruang Kepala sekolah.


RUANG KEPALA SEKOLAH

__ADS_1


Jihan mengetuk pintu itu sebelum dia masuk, terdengar suara Kepala sekolah yang mengiyakan dirinya masuk, Jihan pun masuk kedalam perlahan.


"Jihan kau sudah datang, mari sini masuklah!" perintah Kepala sekolah.


"Bapak mencari saya ada apa?" Tanya Jihan seraya mendekat.


"Bukan saya, tapi papa mu," jawab Kepala sekolah.


Jihan menoleh kearah sofa di sisi kanan ruangan itu, dan itu terlihat seperti yang dia duga, Ayah kandungnya lah yang mencarinya.


"Saya akan tinggalkan kalian," Kepala sekolah meninggalkan Jihan bersama Ken.


"Halo sayang, bagaimana kabarmu?" Tanya Ken yang mendekat kearah Jihan.


"Baik," jawab Jihan.


Kalo ini sikap Jihan sedikit sopan pada Ken, mungkin karena ucapan Ken tempo hari yang membuat kebimbangan di dalam dirinya.


"Kau sudah makan siang? Papa membawakanmu makan siang, bagaimana jika kita makan bersama?" Pinta Ken.


"Sebenarnya aku sudah makan bersama teman-teman," jawab Jihan.


mendengar jawaban Jihan membuat raut wajah Ken nampak terlihat kecewa. Jihan yang menyadari hal itu pun nampak menghela nafas.


"Mungkin aku bisa makan sedikit lagi," ucap Jihan mencoba menyenangkan Ayah kandungnya itu.


Terlihat senyum mengembang dibibir Ken, dia senang disaat Jihan mau menanggapi maksudnya dengan baik.


"Sedikit pun tidak apa, ayo duduk!" Ajak Ken.


Jihan hanya menurut, dia duduk bersebelahan dengan Ken dan pria itu mulai menyajikan makan siang untuk mereka.


Walau awalnya Jihan enggan terlalu dekat dengan Ayah kandungnya itu, tapi sedikit demi sedikit hatinya luluh oleh niat Ayahnya itu yang terus menunjukkan sikap yang baik kepadanya.


"Papa ikut saranmu, untuk tetap sembunyi-sembunyi jika ingin bertemu denganmu," ucap Ken.


"Bisa tidak jika aku tidak memanggil papa?" Tanya Jihan.


"Bisa, Jihan ingin memanggilku apa?" Tanya Ken.


"Boleh aku panggil ayah saja? Karena aku sudah memiliki papa," pinta Jihan.


Ken nampak terkejut, dia tau papa mana yang dia maksud. tapi demi menyenangkan hati Jihan dia rela menuruti apapun permintaan Jihan.


"Boleh, selama kau suka Ayah akan mengabulkannya," jawab Ken dengan senyum diwajahnya.


Jihan membalas senyuman Ken, dia kemudian melanjutkan makannya karena dia tidak ingin mengecewakan niat baik Ayahnya itu.



NAMA: REYNAND


INI ADALAH VISUALISASI REY DI IMAJINASI AUTHOR, TERIMAKASIH

__ADS_1


__ADS_2