
PACAR BRONIS
Steve berjalan di sekitar rumah lama Julia, dia duduk di bangku yang terdapat di halaman rumah Julia semasa tinggal disana.
"Kau dimana? Aku merindukanmu," gumam Steve dalam hati.
Steve nampak memperhatikan genggamannya, ada sebuah gelang disana. Awalnya sebelum hari Julia pergi dia ingin memberikan itu sebagai hadiah dari kota, tapi siapa sangka jika Julia malah pergi ke kota. Ia sangat merindukan wanita yang pernah jadi temannya itu selama lima tahun ini.
"Aku akan mencarinya apapun yang terjadi!" gumam Steve.
Steve berdiri serta bergegas pergi dari sana.
***
Hari berikutnya Julia sedang mempersiapkan sarapan untuk semua orang di bantu oleh bibi Mai.
"Pagi!" sapa Andrew yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Julia.
"Pa … gi," sahut Julia seraya bermaksud menoleh kearah Andrew.
Tanpa disangka Andrew yang begitu dekat dengannya malah membuat pipi Julia menempel ke bibir Andrew, hingga akhirnya tampak seperti Andrew mencium Julia.
Bibi Mai yang melihat itupun tersenyum malu sendiri.
"Bibi akan memanggil anak-anak," kata bibi Mai yang langsung pergi dari dapur.
"Bibi," panggil Julia yang merasa canggung bersama Andrew.
"Sepertinya Bibi Mai sangat perhatian dengan kita!" goda Andrew.
Andrew memeluk tubuh Julia dari belakang, ia mencium rambut Julia membuat wanita itu begitu bingung harus apa.
"Andrew … anak-anak akan segera datang, lepaskan!" pinta Julia.
"Mereka masih lama!" kata Andrew yang tidak mau melepas pelukannya itu.
Meski dari awal Julia ingin lebih dulu mengingat siapa dirinya di masa lalu, tapi semua sikap Andrew membuatnya lupa akan hal itu.
"Julia … kenapa kita tidak menikah saja?" tanya Andrew tiba-tiba.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Andrew membuat jantung Julia berdetak dengan cepat, wajahnya terlihat merona. Ini kedua kalinya Andrew memintanya, tapi perasaan yang dirasakan Julia berbeda dengan pertama kali Andrew mengatakan hal itu.
"Apa kamu sedang mencoba melamarku?" tanya Julia yang mencoba tetap tenang agar tidak terlihat gugup.
"Mungkin iya!" jawab Andrew.
"Aku membayangkan akan ada lilin bunga juga musik yang indah saat seseorang melamarku, tapi ternyata hanya ada panci dan spatula yang menemani," kata Julia yang mencoba untuk sedikit bercanda dengan Andrew.
Mendengar perkataan Julia membuat Andrew terlihat senang, kata-kata itu menunjukkan jika ada lampu hijau untuknya.
Andrew membalikan tubuh Julia hingga mereka saling berhadapan.
"Kamu serius dengan perkataanmu?" tanya Andrew yang menatap mata Julia dengan dalam.
"Apanya yang serius?" tanya Julia balik seraya mengalihkan pandangannya.
Sebenarnya Julia malu mengatakan hal itu, tapi hatinya sendiri tidak ingin berbohong.
Andrew memegang dagu Julia dengan kedua jarinya, ia mengarahkan tatapan Julia kearahnya. Wajahnya mereka begitu dekat dan semakin dekat, bibir mereka hampir saling menyentuh hingga ….
"Pagi papa … pagi mama …." sapa Jihan begitu sampai di meja makan.
"Pagi sayang!" sahut Julia dan Andrew bersamaan.
Jihan yang merasa aneh dengan keadaan yang sedang terjadi disana pun menatap ke arah mamanya kemudian papanya.
"Ehmm … kalian sedang apa?" tanya Jihan yang polos.
"Oh, papa hanya membantu mama mencicipi masakannya," jawab Andrew.
"Oh!" Jihan hanya mengiyakan.
Andrew menarikkan kursi untuk Jihan duduk di meja makan, baru kemudian ia duduk bersama.
"Pagi semua," Rey juga tiba disana.
Rey datang bersama bibi Mai. Ia langsung duduk di kursi yang biasa ia tempati.
Bibi Mai pun langsung membantu Julia, namun ketika itu ia masih melihat Julia dengan wajah yang memerah serta sedikit senyum di wajahnya. Bibi Mai pun bisa menangkap apa yang terjadi, ia ikut senang jika akhirnya dua orang itu pada akhirnya akan bisa bersama.
__ADS_1
Setelah sarapan Andrew mengantar Jihan dan Rey seperti biasa, untuk masalah Ken ia belum punya rencana untuk mengatasinya.
***
Julia pamit pada bibi Mai untuk berbelanja, ia pergi sendiri karena bibi Mai masih mempunyai banyak pekerjaan di rumah.
Julia pergi ke supermarket yang paling dekat dengan rumah mereka. Tetapi setelah berbelanja di saat ia ingin kembali, Julia di hadang oleh Ken yang membuat Julia pun bingung karena ia belum mengingat siapapun di kota itu.
"Julia … senang rasanya bisa melihatmu lagi!" kata Ken.
Julia tidak menjawab, ia hanya menatap pria yang ada di depannya itu dengan tatapan penasaran dan penuh tanda tanya.
"Maaf … tapi aku tidak mengingatmu!" ucap Julia yang berusaha menghindar.
Ken tampak terkejut, yang ia dengar kata tidak mengingatmu bukan mengenalmu, Ken pun mulai berpikir lagi.
"Tunggu! Kau tidak mengingatku?!" tanya Ken seraya menarik lengan Julia yang berusaha untuk menghindar dan pergi.
"Iya Tuan! Sebaiknya anda berlaku sopan atau saya akan berteriak!" ancam Julia.
Ken pun dengan spontan melepas genggamannya, dan ia mencoba memahami apa yang terjadi.
"Maaf … bukan bermaksud tidak sopan. Bisakah kita bicara sebentar, aku janji tidak akan lama!" kata Ken meyakinkan.
Julia tampak terdiam, ia hilang ingatan dan tidak mengenal siapapun. Tapi ia juga ingin segera mengingat bagaimana masa lalunya.
"Oke. Tapi kita bicara di tempat umum!" pinta Julia yang mengiyakan permintaan Ken.
Ken pun tersenyum, kemudian mereka pergi ke sebuah cafe terdekat yang berada di sana.
*
*
*
*
COMING SOON!! JANGAN LUPA BACA JUGA NOVEL OWNER YANG AKAN TAYANG SENIN, 19 OCT PUKUL 00-00 .
__ADS_1