
Jihan menginap di rumah Vivian karena sudah lama dia tidak berkunjung ke rumah neneknya itu, bibi May pun ikut serta di antar oleh Laurent, lagi pula keesokan harinya adalah weekend.
"Nenek," teriak Jihan begitu keluar dari mobil Laurent dan berlari kearah Vivian yang sudah menunggunya didepan pintu, Jihan dengan cepat berlari dan memeluk neneknya itu.
"Sayang, nenek kangen," Vivian membalas pelukan Jihan dan mencium gadis kecilnya itu.
"Jihan juga, papa sibuk jadi tidak bisa mengajak Jihan main kesini,"
"Ya sudah ayo masuk dulu," Vivian mengajak Jihan masuk.
Malam itu Jihan menginap, dan bibi May menceritakan perihal ayah kandung Jihan yang sudah mengetahui keberadaan putrinya itu.
"Tidak bisa, aku tidak akan membiarkan laki laki itu mengambil cucuku," kata Vivian penuh emosi.
"Sabar sayang, yang perlu kita lakukan adalah menjaga gadis kecil kita agar tidak bertemu lagi dengan pria itu," ucap Edward berusaha menenangkan emosi istrinya.
"Lalu di mana Andrew? Bocah itu bagaimana bisa dia terus mengurus urusan kantor saat dia tau kalau putrinya akan terancam dibawa pergi seseorang," Vivian kembali kesal.
"Dia menemukan Julia," ucap bibi May yang sontak membuat 2 orang di depannya itu terkejut.
"Benarkah, itu kabar yang sangat baik," Vivian sangat bersemangat.
"Tapi katanya dia hilang ingatan," imbuh bibi May.
Mendengar perkataan hilang ingatan, orang tua Andrew sama sama berfikir, mereka hanya bis berdoa agar Julia bisa kembali seperti sedia kala, dan bisa berkumpul dengan mereka lagi.
PULAU KECIL.
Malam itu cuaca terlihat buruk, angin kencang terasa menerpa rumah itu, suara pohon pohon yang tertera angin terdengar jelas dari dalam rumah, aku mencoba mengintip dari jendela keadaan diluar, hujan seketika turun dengan deras, dan sepertinya akan di barengi dengan badai.
"Diluar ada badai kak?" Tanya Rey yang juga khawatir.
"Kakak tidak tau, tadi cuacanya baik baik saja, kenapa sekarang malah turun hujan deras seperti ini," bukan apa apa hanya saja dia khawatir dengan ayahnya yang sedang berlayar.
Andrew bisa melihat kekhawatiran Dimata wanita yang dia cintai itu, dia berjalan mendekat kearah Julia dan memegang kedua pundaknya.
"Jangan khawatir, mereka pasti baik baik saja," ucap Andrew yang ingin menenangkan.
__ADS_1
"Iya," aku memegang salah satu tangan Andrew yg berada di bahuku.
"Uhukkk, kalian sudah jadian?" Tanya Rey tiba tiba yang membuat ku dan Andrew terkejut, kami menoleh kerah Rey bersamaan.
"Iya," Andrew.
"Tidak," Luna.
Mereka menjawab secara bersamaan, hingga membuat Rey terkekeh melihat tingkah mereka berdua.
"Siapa yang bilang kita jadian?" Protes ku.
"Bukankah kita jadian 5 tahun lalu," Andrew membela diri.
"Tapi kan aku belum ingat," aku memaksa.
"Aku tidak peduli, mau 5 tahun lalu atau 5 tahun sekarang kau hanya kekasihku,"
Aku ingin sekali berdebat dengannya tapi entah kenapa malah tidak bisa.
Ah kenapa aku tiba tiba saja malu sendiri, tapi memang kalo di lihat kami berdebat seperti sepasang kekasih.
Malam itu terasa sangat panjang, aku tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana keadaan ayah, dia pasti harus berjuang menerjang badai ditengah laut, aku hanya membolak balikan tubuhku ke kanan dan kiri, benar benar tidak bisa tenang, aku pun bangun dan berjalan kearah ruang tamu, sesekali aku menengok kearah jendela tapi hujan masih turun dengan derasnya.
"Tidak bisa tidur?" Tanya Andrew tiba tiba yang baru saja keluar dari kamar Rey.
Aku menoleh kearahnya begitu mendengar suaranya, di wajahku mungkin bisa terlihat sebuah kecemasan.
"Iya," jawabku pelan.
"Sepertinya hujan tidak akan berhenti sampai pagi," jelas Andrew yang berjalan mendekat kearahku.
"Iya, karena itu aku tidak bisa tidur," aku melipat kedua tanganku didepan dada, sembari sesekali mengusap kedua lenganku sendiri.
"Mengkhawatirkan ayahmu?" Tanya Andrew.
Aku hanya menganggukan kepalaku, malam itu Andrew menemaniku hingga larut, dia bercerita banyak hal tentangku dari apa yang aku suka dan apa yang tidak suka, ternyata aku yang lupa ingatan dengan aku yang dulu memang tidak berubah, aku masih sama, dan dia sepertinya memang benar benar pria yang mencintaiku dimasa lalu.
__ADS_1
"Julia, eh maksudku Luna, setelah ini ikutlah denganku, kita kembali ke kota dan mencari cara agar ingatanmu bisa pulih," pinta Andrew.
Aku terdiam sejenak mendengar permintaan pria ini, aku tidak tau apa aku harus ikut atau tidak, dulu aku tidak pernah sekalipun berfikir untuk mengingat kembali masa laluku, tapi setelah aku bertemu dengannya aku merasa ingin sekali mengingat siapa diriku ini.
"Itu aku tidak bisa memutuskan nya, aku harus bertanya pada ayah dulu, walau aku bukan bagian dari keluarga ini tapi dia lah yang sudah menampung dan memberi kehidupan padaku," jawab ku.
"Aku mengerti, jika ayahmu keberatan kalau kau pergi aku bisa mengajak ayahmu dan Rey ikut ke kota, asal kau suka apapun akan aku lakukan untukmu," ucap Andrew.
Aku menatap mata pria di depanku, aku bisa melihat keseriusan di matanya, dia benar benar membuat sesuatu terjadi pada hatiku.
Tanpa terasa malam semakin larut, kami tidak sadar bahwa kami sudah bercerita tentang banyak hal, tapi ada dirinya disini membuat hatiku sedikit tenang, dan aku mulai merasa tidak gelisah lagi.
Entah jam berapa aku tertidur, aku membuka mataku dipagi hari aku tersadar bahwa aku tertidur di ruang tamu dengannya, bahkan aku tidak sadar kapan aku meletakkan kepalaku di pundaknya, tangan kanan nya merengkuh bahu ku, aku menggosok mataku perlahan dan aku melihatnya masih tertidur pulas, entah kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya, dia tetap saja tampan walau dia dalam posisi tertidur.
Aku buru buru bangkit dari pelukannya sehingga membuatnya terbangun.
"Pagi," ucapnya yang sudah membuka mata.
"Pagi juga," ucapku sembari berdiri.
"apa sudah pagi?" Tanya Andrew yang masih terlihat belum sadar sepenuhnya.
"iya, dan sepertinya hujannya sudah berhenti," aku menengok ke arah jendela.
"Baguslah."
Aku hanya tersenyum, aku mengambil ikat rambutku dan mengikat rambut ku agar tidak terurai, aku berjalan kedapur bersiap untuk membuat sarapan.
"Apa perlu bantuan?" Tanya Andrew yang mengikutiku ke dapur.
"Tidak perlu, tidak banyak yang harus dikerjakan, aku bisa melakukannya sendiri."
"Baiklah, aku akan melakukan hal lainnya."
"Ya," jawabku singkat.
Aku sudah selesai mempersiapkan bahan untuk membuat sarapan hingga seseorang terdengar dari luar mengetuk-ngetuk pintu serta memanggil namaku, aku pun bergegas kearah pintu depan untuk membuka pintu, aku melihat anak teman ayah sudah didepan pintu dia terlihat kacau dengan nafas yang terengah-engah.
__ADS_1