
Andrew terkejut ketika melihat siapa yang ingin bertemu dengannya, nampak raut tidak senang muncul diwajahnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Andrew Ketus.
"Tentu saja membahas sesuatu yang sudah seharusnya menjadi milikku," ucap Ken yang nampak sudah duduk santai seraya menyilangkan kakinya.
"Tidak ada sesuatu yang seharusnya menjadi milikmu padaku, kau tidak memiliki apapun untuk kau ambil kembali," ujar Andrew.
"Benarkah? Bagaimanapun kau bukan ayah biologisnya jadi kau tidak berhak untuk mengambil alih hak asuh atas dirinya. Mungkin jika kau mau menyerahkannya dengan sukarela aku tidak akan membawa masalah ini sampai ke Pengadilan!!" ancam Ken.
"Kau bisa mencobanya! Kau memang ayah biologisnya tapi kau bahkan tega mengusir istri dan calon bayi mu. Cih dan sekarang kau masih mengaku sebagai ayahnya,
memangnya kau pantas?!" Cecar Andrew.
Mendengar perkataan Andrew, Ken pun naik pitam dia langsung berdiri dan berhadapan dengan Andrew.
"Kau bisa mengatakan kalau aku tidak pantas, tapi tetap saja aku adalah ayahnya dan pengadilan pasti akan memberikan hak Asuh atas Jihan padaku!" Tantang Ken seraya menatap tajam pada Andrew.
"Kau pikir aku takut, tidak akan pernah!" Tantang Andrew balik.
Mereka saling menatap tajam, seakan memberi isyarat bahwa tidak akan pernah ada yang akan mengalah diantara mereka.
Ken pergi meninggalkan Andrew begitu saja dari sana. Nampak Andrew yang begitu kesal dengan kedatangan Ken, dia tidak menyangka jika Ken akan mempunyai niat untuk merebut Jihan darinya.
Sore itu Andrew sudah kembali dari perusahaan, dia melihat Julia yang sedang duduk di halaman samping rumah bersama Rey dan Jihan.
"Selamat sore," sapa Andrew yang menghampiri mereka bertiga.
"Papa," teriak Jihan ketika melihat Andrew datang. Dia langsung memeluk papa angkatnya itu.
Julia hanya tersenyum melihat tingkah Jihan. Dia tidak melakukan banyak hal karena dia belum bisa memastikan hubungan mereka.
Andrew langsung memeluk Jihan yang berlari dan memeluknya itu. Tangan kanannya mengusap kepala Jihan.
"Hai gadis kecil, apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Andrew pada Jihan.
"Mama membuatkan ku kue, itu sangat enak. Papa mau coba?" Tanya Jihan.
"Boleh," jawab Andrew.
__ADS_1
Jihan menggandeng tangan Andrew, menuntunnya berjalan kearah meja Dimana Julia dan Rey sudah berada disana. Andrew duduk bersebelahan dengan Julia dan Jihan.
Sore itu jadi sore yang indah, dimana akhirnya mereka duduk bersama seraya bercanda gurau seperti sebuah keluarga yang utuh. Walau Julia belum ingat sama sekali tentang masa lalunya tapi dia tetap bahagia dengan hidup yang dia jalani itu.
Selepas malam tiba Julia baru saja selesai menidurkan Jihan di kamarnya. Dia nampak menutup pintu kamar Jihan ketika Andrew baru saja ingin mendatanginya.
"Jihan sudah tidur?" Tanya Andrew pada Julia yang baru saja menutup pintu.
"Iya," jawab Julia.
"Rey juga sudah tertidur. Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Andrew lagi.
"Tentu," Julia mengiyakan.
Mereka pun akhirnya berjalan di halaman rumah.
"Ada apa?" Tanya Julia membuka percakapan. Karena sejak keluar dan berjalan mereka tidak bicara sepatah katapun.
Langkah Andrew terhenti, begitupun dengan Julia. Kemudian dia berbalik menghadap kepada Julia.
"Aku sudah mendapatkan Dokter yang bisa melakukan terapi untukmu, apa kau siap?" Tanya Andrew. Dia ingin sekali agar
Julia bisa segera ingat akan dirinya.
Andrew mengerti akan kegelisahan itu, dia menggenggam telapak tangan Julia dengan lembut, dia menatap mata wanita di depannya itu.
"Apapun yang terjadi, mari hadapi semuanya bersama, jangan tanggung semua beban itu sendiri karena aku akan selalu ada untukmu," ucap Andrew berusaha menenangkan hati Julia yang bimbang.
Julia sedikit tersenyum mendengar perkataan Andrew. Dia tau semua perhatian yang di berikan Andrew kepadanya itu sangatlah tulus.
"Terimakasih," ucap Julia.
Andrew nampak meraih tubuh Julia dan merengkuhnya dalam pelukannya. Julia pun terdiam tanpa bicara sepatah katapun.
"Julia," panggil Andrew lirih.
"Ya," sahut Julia.
"Setelah kau ingat semuanya, mari menikah!" Ajak Andrew.
__ADS_1
Julia lagi-lagi terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa, dia tidak tau apa jawabannya akan menyakiti atau tidak seseorang, karena dia sendiri tidak tau bagaimana kehidupannya yang lalu.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, mari pikirkan itu setelah kau ingat semuanya," imbuh Andrew lagi.
Julia hanya tersenyum dalam pelukan Andrew, dia senang jika pria itu mengerti akan kondisinya yang sekarang ini.
"Aku berjanji padamu Julia, aku berjanji aku tidak akan membuatmu menderita ataupun menanggung beban itu sendirian lagi seperti 5 tahun lalu." gumam Andrew dalam hati.
Hari berikutnya setelah mengantar Jihan dan Rey. Andrew dan Julia menuju Rumah sakit dimana Andrew sudah membuat janji dengan Dokter yang akan melakukan terapi untuk Julia. Bisa terlihat jelas raut cemas dan takut di wajah Julia, Andrew yang mengetahui akan hal itu nampak setia duduk di sebelah ranjang tempat Julia berbaring.
"Hei tenanglah, aku akan selalu ada disini," hibur Andrew.
Julia hanya tersenyum kecil, dia terlihat sesekali menarik nafas dan membuangnya perlahan.
Dokter sudah mulai memberikan obat bius untuk Julia dan memulai terapi itu. Andrew melihat Julia yang terkadang mengernyitkan dahinya ketika Dokter itu mulai mengucapkan kata demi kata untuk membangkitkan ingatannya.
Perkataan yang di ucapkan Dokter itu berdasarkan info yang di ketahui oleh Andrew tentang kehidupan Julia saat dia bersamanya dan sedikit info tentang orang tuanya.
Setengah jam pun berlalu, Dokter sudah selesai dengan semua pernyataan yang di butuhkan untuk terapi itu. Julia terbangun dengan wajah kusut dan lemas, dan Andrew pun masih setia menunggunya disana.
Julia terduduk di atas ranjang itu, tangan kanannya nampak memegangi keningnya, dia hanya merasa pening setelah terapi itu karena dia belum sepenuhnya bisa mengingat apa yang terjadi dan bagaimana kehidupannya di masa lalu.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Andrew seraya menggenggam telapak tangan Julia.
"Entahlah, aku hanya melihat nya samar-samar," jawab Julia.
"Oke, pelan-pelan saja jangan terlalu di paksakan," pinta Andrew.
Julia hanya menganggukkan kepalanya dengan sedikit senyum diwajahnya.
Setelah selesai dengan terapi itu Andrew mengajak Julia pergi ke cafe miliknya, dia berharap agar Julia bisa sedikit mengingat jika dia mengajaknya ketempat dimana dia pernah memiliki kenangan.
Andrew memarkirkan mobilnya dia halaman parkir Cafe milik Julia. Julia sendiri nampak menengok dari luar jendela mobil itu menatap ke arah Cafe itu.
"Kau ingin mengajakku minum kopi?" Tanya Julia.
"Cafe ini milikmu, karyawan disini sangat merindukanmu, tidak ada salahnya kan jika kau mengunjungi mereka," jawab Andrew.
"Milikku!" Julia terkejut. Dia masih nampak mengamati cafe tersebut.
__ADS_1
"Ayo turun," ajak Andrew seraya melepas seat beltnya, kemudian dia membuka pintu mobilnya.
Julia awalnya sedikit ragu untuk turun, dia hanya takut jika dia akan mengecewakan pekerja disana karena dia belum bisa mengingat apapun tentang masa lalunya.