
Andrew tiba-tiba saja begitu dekat denganku,itu membuatku tidak nyaman,ini masih dikampus,dan mungkin banyak orang yang melihat kearah kami,tapi dia seperti masih menungguku,dan aku saat ini benar-benar ingin melihatnya sukses,mencapai semua apa yang dia citakan,mendukungnya dan selalu berjalan disisinya.
"Andrew,mungkin aku pikir itu bisa kita bicarakan lain waktu,aku hanya ingin kau fokus belajar." Aku berusaha mengalihkan keinginannya.
"Kau tidak ingin menikah denganku?"
"Tentu aku mau,tapi...Mungkin belum saatnya,aku ingin melihatmu sukses,aku ingin kau menjadi seorang pria yang luar biasa."
"Setelah itu,apa kau baru mau menikah denganku." Andrew menatapku.Aku sendiri tidak bisa mengalihkan pandanganku dari tatapannya.
"Ya,setelah itu kita menikah.."
"Baiklah,kau sudah janji padaku,jangan ingkari itu,jangan bersama pria lain,dan jangan pernah tinggalkan aku." Andrew mencium tanganku.
"Tentu...Aku janji padamu."
Suara ponsel Andrew terdengar,dia menerima sebuah pesan,Andrew nampak serius membacanya.
"Siapa?Kenapa wajahmu nampak serius sekali?"
"Hiss...Ini calon mertuamu,mereka sepertinya tidak sabar melihat calon cucunya." Andrew memasukan ponselnya kembali kekantongnya.
"Hei...Apa maksutnya dengan calon mertua,juga
calon cucu?" Aku jadi bingung dengan kata-katanya yang seenaknya dia ucapkan itu.
"Ayo jemput Jihan." Andrew membukakan pintu mobilnya untukku.
"Apa?" Aku jadi tambah bingung.
Akhirnya kami pergi dari kampus,dari kata-kat Andrew,sepertinya aku mengerti,bahwa itu pesan dari orang tuanya.
__ADS_1
KOTA Z
Laurent masih disana,dia menunggu Laura hingga pulih.
"Bagaimana kabar Julia?"
"Sepertinya baik,apa dia sedang dekat dengan seseorang?Aku lihat dia sedikit berbeda dari biasanya." Laurent yang belum tau kedekatan Julia dan Andrew.
"Aku juga kurang tau,tapi aku pernah dengar dia bicara dengan seorang pria,aku pikir dia menyukai pria itu."
"Pria?Seingatku dia selalu menolak semua pria yang mengejarnya,teman-teman kantorku saja dia tolak.Hemmm,jadi siapa yang bisa mengambil hatinya?"
"Mungkin Fara tau." Laura ingat dengan Fara.
"Fara?Darimana kau tau Fara?" Laurent terkejut,dia ingat dia belum pernah menceritakan Fara pada Laura.
"Aku pernah bertemu dengannya,dan aku tau dia pacarmu,kenapa tidak memberitahuku soal hubunganmu?Kau tidak muda lagi,jadi kapan kau akan memperkenalkanku secara resmi dengannya." Laura bicara tanpa henti.
"Ayolah...Aku juga ingin tau soal kau dan Fara itu."
"Oke...Aku akan memperkenalkanmu secara resmi saat kau sudah keluar dari rumahsakit,puas??"
"Puas..Puas..."
"Oh ya...Kondisi Deon sepertinya sudah mulai membaik,meski dia belum sadar,tapi dokter bilang kondisi alat vitalnya sudah bekerja dengan normal,penggumpalan darah dikepalanya juga berhasil diangkat."
"Syukurlah...Aku bisa lega sekarang." Laura nampak tenang.
Laurent tiba-tiba menatap Laura dengan tajam,itu membuat Laura bingung.
"Kak...Ada apa?Apa ada sesuatu diwajahku?Kenapa kau melihatku seperti itu?" Laura meraba-raba wajahnya.
__ADS_1
"Kau dan dia,apa kalian berpacaran?Bukan suatu kebetulan kalian pergi bersama kan?Dan persoalan Julia kau jadikan alasan saja."
"Ah...Itu...Iya...Aku memang berpacaran dengannya,apa salah?" Laura mengaku.
"Hah...Kau ini,mengatakan kalau aku tidak memberitakan tentang hubunganku dan kau ternyata juga sama."
"Ya ya...Kan beda,sudahlah...Aku mau istirahat."Laura langsung berbaring dan menarik selimutnya keatas.
Laurent meninggalkan Laura,dan dia mengecek keadaan Deon,meski kondisinya sudah lebih baik,tapi dokter juga tidak bisa mengatakan kapan dia bisa bangun.
Laurent nampak menarik nafas dan menghembuskannya."Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu,Julia..."
KOTA S,RUMAH KELUARGA ANDREW.
Andrew benar-benar membawa kami kerumah,tapi Jihan terlihat takut.
Jihan menarik baju Andrew."Kakak Andrew,ini rumah siapa?"
Andrew berjongkok didepan Jihan."Ini rumah nya kak Andrew."
"Kenapa Kak Andrew membawa Jihan dan mama kesini?"
Andrew menggendong Jihan."Itu karena mama nya Kak Andrew mau melihat Jihan,katanya dia suka sama Jihan,apa jihan mau menemuinya?"
"Apa Mama nya kak Andrew baik?Jihan takut."
"Tentu saja,dia baik sekali,sama seperti mamanya Jihan."
"Oke..."
Jihan akhirnya setuju untuk masuk,Andrew menggendongnya dan tangan satunya memegangi tanganku,jika dilihat sekilas bukankan kami nampak seperti keluarga utuh yang bahagia.
__ADS_1