PACAR BRONISKU

PACAR BRONISKU
Bab 83


__ADS_3

Terasa sesak itulah yang Julia rasakan, dalam ketidaksadarannya ia merasakan seperti tenggelam dan terus tertarik kebawah hingga kedasar yang tak berujung, seberapapun berusahanya dia tetap tidak bisa naik kepermukaan, kakinya seperti terbelit sesuatu yang sangat sulit untuk dia lepaskan, putus asa, takut itulah yang dia rasakan.


Hingga samar-samar ia melihat seseorang berenang ke arahnya, terlihat seulas senyum mengarah padanya, tangan itu menggapai tangannya menariknya serta memeluknya erat, membawanya naik dan terus naik ke atas permukaan, Julia ingat senyum itu, dia ingat wajah yang amat dia rindukan, wajah yang dia harapkan ketika dia merasa menderita.


"An ... Drew!" teriak Julia.


Julia terbangun di atas tempat tidurnya, tangannya memegang kepalanya yang terasa amat berat, keringat keluar bercucuran di seluruh wajahnya.


"Kau sudah sadar!" Andrew yang tampak begitu senang melihat wanita pujaannya itu bangun setelah pingsan beberapa hari.


"Bagaimana bisa aku disini?" tanya Julia yang terlihat linglung.


Merasa khawatir, Andrew menggenggam erat telapak tangan Julia, menatap mata wanita yang ia cintai itu.


"Hal apa yang terakhir kau ingat?" tanya Andrew mencoba memahami apa yang terjadi pada kekasihnya itu.


Julia terlihat berpikir, kemudian ia tampak terkejut lalu menatap Andrew dengan tatapan sendu penuh kesedihan, tiba-tiba buliran kristal bening keluar dari kelopak matanya, melihat kekasih pujaannya baik-baik saja Julia langsung memeluk Andrew erat, seakan-akan ingin melepas semua kerinduannya.


Andrew kini yang merasa bingung, meski ia senang Julia sadar namun bingung karena tidak tau apa yang sedang dirasakan wanita yang dia cintai itu hingga menangis.


"Aku kira aku akan kehilanganmu! Melihatmu terbaring di atas ranjang dengan banyak alat yang terpasang di tubuhmu, membuatku merasa begitu sakit seakan-akan ada puluhan belati yang menyayat-nyayat dadaku," ungkap Julia yang menangis terisak-isak dalam pelukan Andrew.


Andrew tampak tersenyum senang, mendengar ungkapan Julia ia sadar jika ingatan kekasihnya itu sudah kembali. Andrew menciumi ujung kepala Julia berkali kali, bersyukur karena wanita itu sudah ingat kepada dirinya.


Julia bangkit dari pelukan Andrew, wanita itu tampak meneliti tubuh kekasihnya melihat dimana luka yang dulu pernah lihat.


"Apa ada yang masih sakit? Mana yang sakit?" tanya Julia bertubi-tubi.


"Hei ... Hei, aku tidak apa-apa," jawab Andrew lembut.


Pria itu menangkup kedua pipi Julia menempelkan keningnya ke dahi Julia, mencoba melepaskan rindunya selama ini.


Menyadari ada yang berbeda Julia pun akhirnya bertanya pada Andrew.


"Kau terlihat lebih dewasa," ucap Julia.


Andrew yang masih menempelkan keningnya terlihat tersenyum, ia mendekatkan bibirnya ke bibir kekasih yang sudah lama ia rindukan. Andrew berpindah posisi duduk dari kursi ke sisi ranjang Julia, pria itu mulai mengecup sekilas bibir wanitanya yang kemudian dia lanjutkan dengan mencium serta menyesap bibir ranum kekasihnya.

__ADS_1


"Aku lebih dewasa dan aku siap untuk membawamu ke pelaminan," jawab Andrew setelah ia melepaskan ciumannya.


Julia mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti, ia masih belum sadar dengan apa yang terjadi.


"Andrew, aku masih bingung," ungkap Julia.


"Apa kau ingat apa yang terjadi setelah aku mengalami kecelakaan?" tanya Andrew.


Pria itu terus menatap mata Julia yang terlihat bingung, tangannya masih menggenggam telapak tangan Julia dan mencium punggung tangannya sesekali.


Julia terlihat berpikir, dengan dahi yang mengerut juga ekspresi serius berpikir, akhirnya Julia ingat apa yang terjadi.


Julia ingat dia menemui Ken hari itu, dengan dalih mengancam Ken, Julia malah benar-benar tersapu ombak. Awalnya dia ingin melompat lalu bersembunyi dari Ken agar pria itu berpikir dirinya meninggal dan berhenti mengganggu kehidupannya juga kehidupan Andrew. Namun malang tak bisa di hindar, bukannya sukses dengan rencananya Julia malah tersapu ombak yang tiba-tiba saja datang dengan sangat besar. Setelah itu tentu saja dia yang ditemukan ayahnya Rey, mulai dari situ Julia sudah bisa mengingat semuanya.


"Jadi ini sudah lima tahun?" tanya Julia menatap Andrew.


Andrew hanya menganggukkan kepalanya, ia masih menciumi punggung tangan kekasihnya itu.


"Dimana Jihan?" tanya Julia.


Andrew menengok ke arah jam tangannya, "dia masih di sekolah."


"Banyak! Banyak sekali, itu karena aku yakin bahwa kau masih akan kembali, sehingga aku hanya menyimpan cinta ini untukmu," goda Andrew balik.


Mereka saling bertatapan, seakan mencoba melepas kerinduan di antara mereka, senyum bahagia terlihat di raut keduanya.


"Julia, berjanjilah padaku kalau kau tidak akan melakukan hal bodoh seperti lima tahun lalu," pinta Andrew.


"Maaf," kata itu yang muncul dari bibir Julia.


Andrew tersenyum lagi, ia meraih tengkuk leher wanita di hadapannya itu, menyentuhkan bibir mereka sekali lagi mencium dengan lembut bibir ranum yang benar-benar ia rindukan.


***


Siang hari Jihan dan Rey tampak sudah selesai dengan kelas mereka, mereka sudah berdiri di depan gerbang sekolah menunggu Andrew menjemput mereka.


Hingga mobil yang mereka nanti berhenti tepat di depan mereka, Jihan sudah tampak senang dan ingin segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Julia yang ikut menjemput putri kesayangannya itu tampak terharu begitu sadar buah hatinya sudah begitu besar, dia turun dari mobil menatap ke arah gadis kecilnya yang terpaku karena melihat sang mama yang sudah sadar setelah beberapa hari terbaring tak sadarkan diri.


"Jihan," panggil Julia dengan nada sendu.


Wanita itu berlari menghampiri putrinya sebelum Jihan yang ingin menghampirinya. Julia mengecupi kening pipi hidung setiap inci wajah gadis mungilnya, dengan berlinang air mata Julia memeluk putri yang begitu ia rindukan.


Jihan tampak tertegun dengan sikap Julia, ini jelas bukan mamanya yang amnesia, menyadari jika mamanya sudah kembali ingatannya Jihan pun membalas pelukan sang mama.


"Mama," lirih Jihan yang sudah menangis.


"Maafin mama, sayang! Mama janji tidak akan meninggalkanmu lagi," ucap Julia berkali-kali, ia masih terus menciumi rambut leher dan pipi gadis itu.


Rey yang melihat adegan haru itu tampak berjalan mendekat ke arah Andrew yang juga menyaksikan hal itu, Rey melihat ke arah Andrew dengan rasa khawatir.


"Apa kak Julia akan lupa padaku?" tanya Rey pada Andrew.


"Tentu saja tidak, dia tetap ingat dan sayang padamu," jawab Andrew mencoba menenangkan hati bocah kecil itu, Andrew mengusap kepala Rey pelan.


Malam hari Julia tampak duduk di teras balkonnya, ia terlihat sesekali mengusap kedua telapak tangannya untuk bisa sedikit membuatnya merasa hangat dari terpaan angin malam itu.


Andrew yang melihat Julia sedang duduk sendiri pun mendekat ke arahnya, ia sudah berdiri tepat di samping Julia duduk.


*


*


*


*


Hai para readers, makasih udah nyempetin mampir dan nunggu, terima kasih buat like koment sekalian, itu sangat berarti buat author, sekedar mengingatkan janban vote ya, jangan vote! cukup like koment saja.


makasih


haturnuwun


matursuwun

__ADS_1


Thank u


__ADS_2