
Malam mulai bergulir,setiap malam Andrew selalu membayangkannya,dia masih bisa melihat bayangan itu hadir menemaninya,ada senyumnya disana,berbaring disisinya,dan telinga Andrew masih terngiang suara ucapan itu. "Selamat malam."
"Selamat malam Julia,aku merindukanmu setiap waktu,jika kau bisa merasakannya,maka hadirlah dalam mimpiku."Andrew memejamkan matanya,kata itu sudah dia ucapkan setiap malam selama 5 tahun ini,berharap suatu saat walau dalam mimpi Julia akan hadir menemaninya lagi.
TENGAH MALAM.
Pintu Andrew terlihat terbuka,Jihan nampak masuk kesana,wajahnya terlihat pucat pasif,nampaknya dia bermimpi buruk,Jihan berjalan perlahan kearah tempat tidur Andrew.
"Papa.."Ucapnya lirih,dia takut mengagetkan Andrew.
"Papa.."Jihan memanggil lagi karena Andrew tidak merespon,baru saat itu Andrew terbangun.
"Jihan,sudah jam berapa ini?Kenapa kau disini?"Andrew menyalakan lampu.
"Aku mimpi buruk lagi."Jihan terlihat takut.
"Baiklah,kemari.."Andrew mengulurkan tangannya.
Jihan pun mendekat,dan duduk di tempat tidur Andrew.
"Boleh Aku tidur disini?" Pintanya.
"Tentu."Andrew membuka selimut untuk Jihan.
Jihan berbaring disana,tapi dia nampak masih takut,Andrew menyelimutinya dan dia juga berbaring disana.
"Apa yang kau impikan?"Tanya Andrew sambil mengelus kepala Jihan.
"Mama,aku melihat mama,mama tersenyum padaku,lalu dia jatuh dan tenggelam dalam air,mama meminta tolong,dia tidak bisa bernafas,aku ingin menolong mama,tapi aku tidak bisa."Jihan berbicara dengan gemetar lalu seketika dia menangis.
Andrew tertegun mendengar perkataan Jihan,selama ini Andrew merahasiakan tragedi yang dialami Julia,tapi siapa sangka Jihan malah memimpikan hal yang hampir sama dengan yang Julia alami.
"Itu hanya mimpi buruk,kau tidak perlu khawatir."Andrew mencium kening Jihan.
"Papa,sebenarnya kemana mama?Ini sudah 5 tahun,dan mama belum kembali,bahkan aku tidak bisa menelfonnya,apa papa tidak rindu dengannya?"Tanya Jihan,dia sudah merasa aneh,itu sudah 5 tahun,tapi kenapa mamanya tidak juga kembali,bahkan kabarnya pun dia tidak mendengar.
"Mama,baik baik saja,dia akan kembali,papa janji,jadi sekarang tidurlah."Andrew mencoba menenangkan Jihan,dia sendiri ragu,sampai kapan dia harus berbohong pada gadis itu,Andrew hanya takut jika Jihan tidak akan bisa menerima apa yang terjadi.
"Baiklah."
Pada akhirnya Jihan mulai memejamkan matanya,dia mencoba tidur,walau dalam hatinya merasa takut akan mimpi buruk tentang mamanya.Andrew terlihat berfikir,kini dia yang tidak bisa tidur,dia hanya menidurkan gadis kecil itu membuatnya agar nyaman dan tenang.
__ADS_1
AKHIR PEKAN.
Akhir pekan pun tiba,dan sesuai janji Andrew,dia mengajak Jihan ketaman bermain,Jihan nampak senang disana,terkhir kali di ketaman bermain adalah disaat Julia mengajaknya kesana.
"Jihan,kau mau main apa lagi?"Tanya Andrew,mereka hanya pergi berdua.
"Ahhh,aku sudah lelah,ini sangat menyenangkan."Tawanya terlihat merekah.
"Baiklah,bagaimana jika kita mencari makan?"Tanya Andrew.
"Boleh."Jihan bersemangat.
Andrew menggandeng tangan Jihan,dia mengajaknya pergi kerestoran seafood.
RESTORAN SEAFOOD.
Tanpa Andrew sadari dia memesan makanan yang disukai Julia,dan dia mulai mengenang lagi setiap detik waktu yang dia habiskan bersama Julia.
"Hmmm,udang pedas,mama suka udang pedas,apalagi yang gemuk,dia selalu mengupas kulitnya untukku."Ucap Jihan polos.
"Ya...Mama sangat suka itu,tapi sekarang papa yang akan mengupaskannya untukmu."Andrew bersiap mengupas.
"Papa?Kenapa kau tiba tiba tersenyum sendiri?"Tanya Jihan yang bingung.
"Tidak apa."Jawab Andrew canggung.
"Papa pasti mengingat mama ya.."Jihan menggoda Andrew.
Andrew pun tersenyum."Iya..Papa mengingat mama,sekarang habiskan makananmu,ini sudah cukup malam,jangan sampai nenek khawatir."Kata Andrew.
"Siap."
Mereka melanjutkan makan,hingga seseorang muncul disana.
"Andrew..Hai Andrew,tidak menyangka aku bertemu denganmu disini,sudah lama sekali ya,boleh aku bergabung?"Itu adalah Hellen,entah kenapa dia bisa kebetulan ada disana juga.
Andrew dan Jihan menatapnya,mereka sama sama terlihat tidak senang dengan kedatangan Hellen.
"Duduk saja."Kata Andrew dingin.
"Terimakasih."Hellen duduk disebelah Andrew,itu membuat Jihan terlihat tidak senang.
__ADS_1
"Apa dia adikmu,aku tidak tau kau punya adik,hai..Aku Hellen,teman kuliahnya."Hellen bersikap manis.
"Hmmm,aku Jihan,anaknya papa."Kata Jihan ketus.
Melihat Ekspresi Hellen yang terkejut,membuat Andrew ingin tertawa.
"Pa...Papa?Kau sudah menikah?Ke..Kenapa aku tidak tau?Tapi kenapa dia sudah cukup besar?"Tanya Hellen yang tidak percaya,dia tidak melihat Andrew 5 tahun,lalu bagaimana bisa Andrew punya anak umur 9 tahun.
"Iya,dia anakku."Andrew meyakinkan.
"Tunggu,aku tau siapa dia,dia adalah anak perempuan itu,ya aky yakin itu,sudah mati pun masih meninggalkan beban,menyusahkan sekali."Bisik Hellen dalam hati.
"Jihan,papa akan kekamar kecil sebentar,kamu tunggu disini dulu." Andrew berdiri.
"Baik."Jihan mengangguk.
Andrew pergi ke toilet,meninggalkan Jihan disana bersama Hellen.
"Emmm,bukankah mamamu itu Julia?"Tanya Hellen dengan nada yang halus.
"Ya,memangnya kenapa?"Jihan masih ketus,dari awal melihat Hellen dia sudah tidak menyukainya.
"Ahh..Jadi benar,kebetulan ya,tante ini kenal sama mama mu lo,dia wanita yang baik,tapi sayang ya..Mamamu pergi meninggalkanmu begitu saja."Hellen bicara berpura pura baik.
"Siapa yang meninggalkan?Mama ku tidak pernah pergi."Jihan nampak emosi.
Hellen sudah menduga gadia kecil itu tidak tau kalau ibunya sudah meninggal.
"Ahh,apa papamu tidak bilang,mamamu kan jatuh kelaut dan dia sudah meninggal,tante sangat sedih saat mendengar hal itu,bagaimana bisa dia bunuh diri dengan cara seperti itu."Hellen berpura pura sedih.
Jihan terlihat emosi,dia tidak percaya wanita itu mengatakan mama nya bunuh diru,Jihan menggebrak meja,dan berdiri. "Kau bohong,mamaku masih hidup,kau bohong."
"Aku..Bohong...Coba tanya papamu,aku yang bohong apa dia yang bohong."Hellen terlihat tersenyum puas,dia tidak menyukai Julia,bahkan saat Julia meninggal kenapa anaknya malah bersama Andrew.
Andrew sudah kembali dari kamarmandi,saat tiba dia bisa melihat Jihan yang amat marah menatap Hellen.
"Jihan,ayo kembali."Andrew bersiap pergi
"Papa,apa yang dikatakan wanita ini benar?"Jihan masih menatap tajam Hellen meski dia bicara dengan Andrew.
"Apanya yang benar?"Andrew bingung,dia langsung menatap Hellen,tapi Hellen nampak acuh.
__ADS_1