PACAR BRONISKU

PACAR BRONISKU
Bab 69


__ADS_3

Entah kenapa aku mengiyakan semua ucapannya, tapi tiap katanya membuatku merasa nyaman, dia nampak penuh perhatian dan kasih sayang, tatapannya begitu lembut hingga bisa membuat siapapun akan jatuh hati padanya.


Dia menggandeng tanganku sepanjang jalan menuju rumah ku, tapi kenapa akupun tidak ingin menolaknya.


"Kenapa kau harus menggandengku?" Tanyaku padanya.


"Ini mengingatkanku saat kita berdua waktu itu," jawab Andrew, ada sedikit senyum kecil diwajahnya.


"Apa?" Tanyaku, aku mulai merasa nyaman dengannya, padahal pertama kali melihatnya aku tidak menyukainya, tapi entah kenapa sekarang aku merasa nyaman dengannya.


"Saat itu aku mengajakmu ke pantai, lalu kita bergandengan tangan seperti ini," Andrew mengangkat sedikit tangannya yang menggenggam tanganku, mencoba memperlihatkan apa yang dia lakukan.


Aku pun tersenyum, kenapa jadi terlihat kalau kami sedang berpacaran.


"Kenapa tersenyum senyum sendiri?" Tanya Andrew.


"Tidak, aku hilang ingatan aku tidak tau siapa diriku, bagaimana aku, juga kehidupanku yang lampau, lalu kau tiba tiba saja muncul dan mengatakan semua itu membuatku merasa sedikit aneh,"


Andrew berhenti berjalan dan menatap ku, dia tersenyum tipis, dia memegang kedua pipiku dengan tangannya. "karena itu aku minta untuk cukup percaya padaku, seperti dulu saat kita bersama, tiada keraguan antara aku dan kau,"


"Katakan padaku, apa aku yang dulu sangat mencintaimu?" Tanyaku.


"Bukan kau, tapi aku yang sangat mencintaimu," Andrew mencium keningku, dan aku tidak pernah berfikir untuk menolaknya.


Aku merasa benar benar tersentuh dengan sikapnya, dia begitu lemah lembut dan sangat perhatian, apa memang dia benar benar sangat mencintaiku seperti yang dia katakan padaku, saat aku menatap kedua bola matanya terpancar sebuah kebahagiaan yang benar benar belum pernah aku lihat pada siapapun.


"Luna, apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Steve dari kejauhan, Steve yang melihat kami saling bergandengan tangan pun mendekat kearah kami.

__ADS_1


"Hai Steve," sapaku saat melihatnya.


"Sedang apa kalian?" Tanya Steve yang terlihat tidak senang.


"Kalian sudah pernah bertemu, tapi belum mengenal satu sama lain, kenalkan Andrew ini Steve, Steve ini Andrew," aku pun memperkenalkan mereka.


"Hai," Andrew bermaksut berjabat tangan pada Steve, tapi nampaknya Steve tidak senang, dia hanya melirik tangan Andrew.


"Luna, sejak kapan kau akrab dengan orang asing?" Tanya Steve setelah mengabaikan Andrew.


"Steve, Andrew bukan orang asing, dia adalah orang yang tau masa laluku, aku berharap bisa mengingat semua nya lagi," jawabku.


"Masa lalu, lalu apa kau tidak berfikir dia jahat atau tidak? Bagaimana bisa kau percaya begitu saja padanya?" Ucap Steve yang mulai menggunakan nada tinggi.


Andrew pun terlihat mulai tidak senang dengan ucapan Steve, dia mulai waspada pada pria didepannya itu.


"Bagaimana jika dia bohong, bagaimana jika dia adalah orang yang sebenarnya ingin mencelakai mu, bagaimana kau tau kalau itu semua benar?" Steve mulai tidak bisa mengontrol emosinya.


Andrew yang sudah memperhatikan pun tidak bisa tinggal diam, dia menarik tanganku dan membiarkan aku berada dibelakangnya, seolah olah dia siap untuk melindungi ku.


"Hei bung, jangan berkata keras pada seorang wanita, lagi pula jika kau tidak tau apa apa jangan bicara sembarangan," kata Andrew yang masih terlihat dan terdengar sabar.


"Bukan urusanmu, menyingkir darinya," perintah Steve.


"Kalau aku tidak mau, kau bisa apa?" Andrew sudah mulai memberikan tatapan tidak sukanya.


"Ah banyak omong," Steve bermaksut melayangkan pukulan kearah Andrew tapi dengan sigap Andrew menangkap tangan itu dan berbalik memukul Steve dengan tangan satunya.

__ADS_1


Steve jatuh ketanah, itu membuatku terkejut, tapi itu salahnya juga, dia yang memulai perkelahian itu, akupun tidak mengerti kenapa Steve menjadi seperti itu, Andrew bermaksut memberi pelajaran lagi pada Steve tapi aku berusaha menghalanginya.


"Hei, sudah cukup abaikan dia," ucapku sembari memegang tangannya yang membuat Andrew terhenti.


"Steve, aku tidak tau apa yang terjadi padamu, tapi sebagai seorang teman aku berharap kau bisa mendukungku, aku tidak menyangka kau akan seperti ini, kau teman terbaikku, jadi tolong jangan seperti ini," ucapku.


Steve hanya terdiam, dia berdiri dari tanah dan menatap kearahku.


"Ini sudah 5 tahun tapi kau tidak mengerti apa yang aku rasakan, aku pikir dengan tidak mengatakannya lambat lalun kau akan mengerti, tapi aku yang bodoh karena menganggap semua ini berlebihan," ucap steve dengan sedikit tertawa kecil.


"Apa? Aku tidak mengerti maksutmu?" Ucapku bingung.


"Apa kau tidak mengerti, aku sudah menyukai mu selama 5 tahun ini, aku berusaha bersabar berharap kau akan jatuh cinta padaku suatu saat nanti, tapi apa yang aku dapat, kau malah akan pergi dan bersama pria lain yang bahkan kau sendiri tidak tau dia itu baik atau tidak,"


"Menyukaiku? Tapi aku pikir kita ini hanya teman biasa, sedikit pun aku tidak memiliki perasaan padamu, satu satunya yang aku rasakan adalah kau menjadi teman terbaikku selama ini, dan tidak lebih dari itu," ucapku agar dia mengerti.


"Jadi pada akhirnya harus seperti ini, kau mengabaikan ku karena pria ini, aku tidak menyangka kau akan seperti ini, atau mungkin hanya karena dia kaya makanya kau lebih memilihnya?" Steve tersenyum pahit.


"Cukup Steve, aku tidak suka perkataan mu, lagi pula ini adalah hidupku kau tidak berhak ikut campur dalam hal ini," aku sudah mulai kesal dengan sikap dan perkataan Steve, akupun menggandeng tangan Andrew dan bermaksut meninggalkan Steve disana.


"Luna, kenapa kau berubah?" Steve nampaknya masih tidak mau menyerah.


"Bukan aku yang berubah, tapi kau yang berubah," ucapku sembari meninggalkannya.


Aku pun tidak mengerti kenapa Steve menjadi seperti itu, aku tau dia sangat baik terhadapku tapi bukan berarti aku juga harus menyukainya kan, selama ini bagiku dia adalah teman dan selamanya akan menjadi teman bagiku dan tidak akan pernah lebih dari itu, karena aku tau walau aku hilang ingatan tapi hatiku seperti sudah terisi sebuah nama yang tidak bisa aku buang begitu saja, dan mungkin benar pria ini pria yang berjalan di sampingku adalah benar dia, pria yang selalu berdiri menanti ku dan tersenyum padaku setiap malam, pria yang tidak bisa kulihat jelas wajahnya, tapi aku tau hatiku tidak bisa ku bohongi kalau aku benar benar mengagumi nya, mungkin ini adalah perasaan lamaku yang masih selalu ada di dalam hatiku.


Kami kembali ke gubuk kecilku, Rey terlihat belum tidur, melihat kami yang kembali bersama dan saling bergandengan tangan membuatnya tersenyum, ya sepertinya aku bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2