PACAR BRONISKU

PACAR BRONISKU
Bab 67


__ADS_3

KOTA S.


Andrew sudah sampai dikota S, dia langsung pulang untuk bertemu dengan Jihan.


"Nak kau sudah pulang," bibi May menyambut.


"Dimana Jihan bibi?" Tanya Andrew.


"Dia dikamarnya," bibi May menunjuk keatas.


"Oke," Andrew bergegas naik keatas menuju kamar Jihan.


Jihan sedang berbaring dengan posisi menelungkup, tangan kirinya di gunakan untuk menyangga dagunya, dan tangan kanannya nampak asyik membolak balikan halaman buku.


"Jihan," panggil Andrew begitu sampai di kamar Jihan.


Mendengar suara papa nya itu, Jihan langsung bangkit dan menoleh ke arah papanya itu, dia langsung melompat begitu saja dari tempat tidur dan memeluk papanya.


"Wow, jangan melompat seperti itu," ucap Andrew sambil menangkap tubuh Jihan.


"Aku rindu papa," Kata Jihan.


Andrew tersenyum dan mengelus kepala Jihan. "Papa juga rindu padamu," Ucapnya.


Jihan langsung bercerita panjang lebar tentang kegiatannya disaat papa nya itu pergi, Andrew mendengarkan dengan seksama apa yang di ceritakan putrinya itu.


"Jihan apa seorang pria menemuimu?" Tanya Andrew di akhir cerita Jihan.


"Ya, dia bilang dia ayahku," ucap Jihan sedikit sedih.


"Apa Jihan ingin kembali padanya?" Tanya Andrew lagi.


Jihan menggelengkan kepalanya, lalu dia menatap mata pria yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sejak dulu.


"Bagiku, papaku hanyalah papa Andrew dan tidak ada yang lainnya," ucap Jihan.


Andrew tersenyum, lantas dia memeluk gadis kecilnya itu erat. "Bersabarlah sedikit lagi, papa akan membawa mama pulang," bisik Andrew dalam hati.


Malam itu Andrew duduk di teras depan, bibi May datang dengan segelas kopi untuk Andrew.


"Apa yang sedang kau pikirkan nak?" Tanya bibi May sembari duduk disebelah bibi May.


"Bibi, aku menemukan Julia, dan aku yakin itu dia," ucap Andrew.


Bibi May menutup mulutnya dengan kedua tangannya, seolah menahan keinginannya untuk berteriak.


"Apa, apa itu benar?" tanya bibi May yang masih tidak percaya Julia masih hidup.

__ADS_1


"Iya, aku yakin itu dia, tapi yang jadi masalahnya sekarang adalah dia hilang ingatan, dia tidak ingat siapa dia dan bagaimana kehidupannya sebelumnya," Jelas Andrew.


"Hilang ingatan?"


"Iya, karena itu aku sedikit lama disana, aku akan kembali lagi kesana besok, jika tidak aku takut aku akan kehilangannya lagi," ucap Andrew.


"Yang penting dia masih hidup itu sudah cukup, saat aku pergi tolong jaga Jihan baik baik bibi," pinta Andrew.


"Tentu saja," Janji bibi May.


Andrew sedikit tersenyum, dia bisa sedikit agak lega meninggalkan Jihan, mendengar dari ucapan Jihan bahwa dia tidak menginginkan pria itu.


KEESOKAN HARINYA.


Andrew mengantar Jihan kesekolah sebelum dia kembali kepulau itu.


"Sayang, papa akan pergi lagi, tapi papa janji saat kembali nanti papa punya sesuatu yang pasti akan membuatmu sangat senang," ucap Andrew sambil mengusap kepala Jihan.


"Papa menyiapkan ku sebuah kejutan? Baiklah aku akan menunggu," kata Jihan penuh semangat.


"Baik, jadi anak pintar, dan menurutlah pada paman Laurent, oke,"


"Oke," Jihan turun dari mobil dan menutup pintunya lagi.


Jihan melambaikan tangannya dan melihat mobil papa nya itu berlalu.


Entah kenapa baru beberapa jam pria itu pergi, tapi rasanya sudah berhari hari, apa yang sebenarnya terjadi padaku, kenapa aku merasa ada yang berbeda tapi apa? Aku masih mencoba menebaknya.


"Luna," panggil Steve dari jauh, ya itu steve.


"Hai," sapaku.


"Aku membawakan sesuatu untukmu," ucap steve, dia terlihat membawa sebuah kotak bok kertas ditangannya.


"Apa itu?" Tanyaku penasaran.


"Ayo duduk dulu," Steve mengajakku duduk di sebuah bangku di halaman depan rumah kami.


"Aku membelinya saat akan kembali, ini masih baru," Steve membuka kotak itu, dan aku bisa melihat cheescake disana, itu nampak menggiurkan.


"Itu terlihat enak," ucapku.


"Mari makan," Steve sudah menyiapkan sendok juga.


Rey melihat kakaknya itu dari dalam rumah, tapi dia tidak menyukain steve dia lebih suka Andrew, melihat Steve yang sedang mencoba mendekati kakaknya itu pun membuat Rey tidak senang, dia berjalan perlahan dengan di bantu tongkatnya kearah kakaknya itu sedang duduk.


"Kakak, sedang apa?" Tanya Rey basa basi.

__ADS_1


"Rey, kemari ayo makan bersama," ucapku sembari menuntun Rey untuk duduk.


Aku menyuapi Rey kue itu, tapi entah kenapa Rey terus menatap kearah Steve, membuatku bertanya tanya ada apa.


Andrew sudah tiba disana, dia bisa melihat ke tiga orang itu sedang duduk bersama, dia pun bergegas menghampiri mereka, Rey yang melihat Andrew duluan pun langsung menyapanya.


"Kak Andrew," sapa Rey sembari melambaikan tangannya.


Aku bergegas menoleh saat Rey memanggil nam itu, entah kenapa bisa melihatnya lagi membuatku merasa senang, bibir ini rasanya ingin tersenyum tapi masih aku tahan.


"Hai semua," sapa balik Andrew saat sampai disana.


"Hai kak, kau bawa apa?" Tanya Rey saat melihat bungkusan yang di pegang Andrew.


Steve nampak melihat kearah Andrew, ini pertama kali Steve melihat ada pria lain di sana, terlebih lagi Rey nampak menyukai pria itu.


"Coba tebak, aku membawa kue dan buah untukmu," ucap Andrew sembari memberikan bungkusan itu pada Rey.


Rey nampak berinisiatif, dia langsung membukanya dan melihat isi didalamnya.


"Wow ini nampak enak," guman Rey mengabaikan kakaknya dan Steve yang ada disana.


Aku menatap pria itu, aku heran dia sudah bebas lalu kenapa dia memilih kembali lagi kesini.


"Kenapa kau kesini lagi? Bukankah aku sudah mengatakan kau bebas," ucapku.


"Ada apa Luna? Apanya yang bebas?"Tanya Steve yang tidak tau apa apa.


"Dia adalah pria yang menabrak Rey," ucapku menjawab pertanyaan Steve.


"Benarkah," Steve menatap Andrew, sepertinya dia tidak menyukai Andrew, dia sudah menyukai Luna sejak lama tapi tidak berani mengungkapkannya, dan sekarang malah bertambah satu pria didekatnya, tentu saja membuatnya menjadi tidak senang.


"Ya, sebenarnya juga bukan kesalahan ku sepenuhnya, aku hanya bertanggung jawab atas sopirku, dan aku sudah menebusnya kan," ucap Andrew yang mulai tidak nyaman mendapatkan tatapan dari Steve.


"Aku sudah menyuruhmu pergi, lalu kenapa kau kembali?" Tanyaku lagi.


"Ada sesuatu yang harus aku lakukan, jadi aky tidak akan pergi sebelum apa yang ingin aku capai terkabul," jawab Andrew.


"Terserah kau sajalah," aku pun beranjak dari bangku dan berjalan kedalam.


"Rey, aku tidur lagi denganmu ya," pinta Andrew pada Rey sambil mengulurkan telapak tangannya meminta Tos.


Tentu saja Rey membalasnya memberikan Tos pada Andrew.


"Oke," ucap Rey yang masih fokus di kuenya.


Steve nampak tidak senang, pertama karena Andrew disana, kedua karena Rey akrab dengannya, ketiga dia tinggal disana, Steve pun pergi tanpa pamit.

__ADS_1


Melihat pria itu pergi, Andrew buru buru duduk disebelah Rey dan mencoba mencari tau siapa pria itu.


__ADS_2