
Ken kembali kerumahnya,rumah lama Julia,dirumah itu Susan juga tinggal disana sebagai nyonya besar.
"Ken,kau sudah pulang."Susan nampak tersenyum manis untuk menyambut Ken.
Ken terlihat cuek dan dingin,Susan melepas jas milik Ken,tapi dia mencium bau parfum lain di jas Ken,dan itu adalah parfum Julia,bagaimana pun Ken tadi nampak menempel pada julia.
"Ken,kenapa ada bau parfum lain,apa kau bersama wanita lain."Susan terdengar emosi.
"Bukan urusanmu."Ken masih tidak memperdulikan,dia melepas dasinya.
"Bagaimana kau bisa berkata ini bukan urusanku,aku istrimu,aku bahkan rela menemanimu dengan kondisi mu yang seperti itu,kenapa kau tidak memperdulikan perasaanku?"
"Kondisi?Kondisi seperti apa?Karena hasil tesku mengatakan aku mandul,lalu kenapa kau tidak mencari pria lain yang bisa memberikanmu keturunan?Katakan padaku Susan,kenapa?Bukankah kau wanita yang subur,kenapa kau tidak mencari pria lain."Ken berbicara dengan menatap Susan,tapi dalam tatapannya ada isyarat mengejek.
"Ken,apa yang kau bicarakan?Aku begini juga karena peduli denganmu,aku tidak peduli dengan anak,aku hanya peduli dengan mu."Susan tiba-tiba bicara dengan nada pelan,seakan-akan dia merasa bersalah.
"Oh,tidak peduli?Tapi aku peduli,aku peduli tentang keturunanku,kebohongan apalagi yang mau kau tunjukan padaku,lebih baik katakan saja."
"Ken,apa maksutmu,kenapa kau bicara seperti itu,aku tidak pernah membohongimu."
"Oh..Benarkah,kau tidak pernah membohongiku,lalu ini apa?"Ken mengeluarkan selembar kertas,dan melemparnya kearah Susan.Ken terlihat benar-benar marah.
Susan terbelalak,dia begitu terkejut dengan isi dalam kertas itu,itu adalah pemeriksaan kesehatan Ken,dan disitu Ken dinyatakan sehat dan subur.
"Ken,ini..."Susan terlihat gugup.
"Ini apa?Kau membohongiku dan terua membodohiku,apa aku terlihat bodoh?"
"Ken,aku tidak bermaksut seperti itu,aku hanya takut kau meninggalkanku."Susan memasang wajah memelas.
"Kau tau Susan,subur atau tidaknya dirimu,aku tidak menginginkanmu,aku memang terlalu bodoh membuang sebuah permata hanya untuk mendapatkan sebuah batu,yang bahkan tidak berguna sama sekali untukku."
"Ken,kau tidak akan mencampakkanku kan?Aku istrimu Ken,5 tahun aku menemanimu."Susan mencoba meraih Ken,tapi Ken menepis tangan Susan.
"Kau hanya lah istri diatas ranjangku,kau hanya penghangat ranjangku,kita tidak pernah mengurus surat nikah kita,bagaimana bisa kau bilang kau istriku."Ken nampak tersenyum jahat.
"Jadi kau benar-benar akan memcampakanku,dan kau akan menggantikanku,apa semua usahaku dan keluargaku membantumu mencapai pencapaianmu sampai saat ini tidak berarti?Katakan padaku Ken."Susan sudah sangat emosi.
Ken mencengkeram pipi Susan."Asal kau tau saja,membuang Julia dan memilihmu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku,aku baru sadar,kau bahkan tidak bisa dibandingkan seujung jari pun dengan Julia." Melepaskan cengkeramannya.
__ADS_1
"Jadi kau akan kembali padanya?Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini ken?"Susan menangis.
"Aku harap kau pergi dari sini,karena kau tidak pantas disini,dan aku tidak mau melihatmu lagi."Ken pergi meninggalkan Susan dikamarnya.
Susan terduduk lemas,dia tidak percaya,kebohongan yang dia lakukan,kini menghancurkan hidupnya sendiri,segala usaha yang dia lakukan selama ini sia-sia belaka.
"Kenapa?Kenapa setelah sekian tahun,aku masih kalah dengan wanita itu?Apa hebatnya dia,kenapa dia mengalahkanku dalam segala hal?Kenapa?"Susan berteriak sekencang-kencangnya,dia tidak terima jikalau masih saja dikalahkan Julia.
RUMAH LAURA
Aku sudah bersiap untuk kembali,aku tidak bisa lebih lama disana,bagaimana pun aku tau pasti sifat Ken,dia tidak akan dengan mudah melepaskan apa yang ingin dia dapatkan.
Suara ponselku berdering,Jihan menghubungiku.Mengingat Jihan,ingin rasanya aku menangis,aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya,kemudian aku mengangkat panggilan dari Jihan.
"Halo sayang."
"Mama,kapan mama pulang?Jihan merindukan mama."
"Mama juga rindu Jihan,mama akan segera pulang,apa yang Jihan inginkan,mama akan membawakannya untukmu."
"Tidak,Jihan tidak mau apa-apa,Jihan mau mama."Mendengar suara manja putri kecilku,aku ingin sekali menangis.
"Tentu saja,Jihan jadi anak baik kok,bahkan kakak Andrew juga bilang kalau Jihan anak baik."
"Kakak Andrew?Apa dia datang?"
"Iya,dia membelikan Jihan banyak boneka,ada bando bunga-bunga juga."Jihan terdengar sangat senang.
"Benarkah?Sepertinya mama harus berterimakasih pada kakak Andrew saat mama pulang."
"Tidak usah nunggu pulang,kak Andrew disini kok,apa mama mau bicara dengannya."
"Dia disana?Baiklah,mama ingin bicara dengannya." Kenapa Andrew disana tanyaku bingung.
Jihan memberikan ponselnya pada Andrew.
"Halo Julia."
"Andrew,kau di tempatku?"
__ADS_1
"Ya,aku menemani Jihan seharian hari ini,kapan kau pulang?"
"A..Aku pulang hari ini." Entah kenapa mendengar suara Andrew aku juga ingin menangis,kenapa aku merasa kalau aku jadi wanita yang lemah yang cengeng.
"Julia,ada apa?Kenapa suaramu terdengar berbeda?"Andrew mengkhawatirkannya.
"Aku tidak apa-apa,aku sedang memesan tiket untuk hari ini."
"Baguslah,aku akan menjemputmu dibandara."
"Aku akan mengabarimu saat tiba,aku tutup telfonnya dulu."
"Julia,hati-hati..Aku merindukanmu."
Mendengarnya mengatakan itu,airmataku tak terasa menetes."Aku juga." Aku segera menutup telfonku.
Aku mencoba sebisa mungkin menahan airmataku,tapi itu sangat sulit.
"Julia,aku sudah mendapatkan tiketnya,penerbangannya malam ini pukul 11."
"Baiklah,kak Laura..Terimaksih atas bantuanmu."
"Tidak masalah,aku akan selalu ada untuk membantumu,bolehkan aku tanya satu hal?"
"Ya.."
"Aku mendengarmu memanggil nama seorang pria,siapa dia?"
"Dia temanku,teman yang sangat baik kepadaku."Aku merasa malu menjelaskannya pada Laura.
"Hanya teman?Tapi kenapa aku merasa itu lebih dari teman?"
"Kak Laura,kau terlalu berlebihan menanggapinya."
"Kenapa wajahmu memerah?Apa kau malu?Seumpama dia bukan sekedar teman biasa,aku akan mendukungmu,asal dia lebih baik berkali-kali lipat dari pria br*ngs*ek itu."
"Sudahlah kak,ini sudah pukul 9,aku harus segera kebandara."
"Baiklah,aku akan mengantarmu."
__ADS_1