PACAR BRONISKU

PACAR BRONISKU
Bab 85


__ADS_3

Julia sudah sampai di depan gerbang sekolah Jihan dan Rey, dia memang sengaja datang untuk menjemput kedua bocah kesayangannya itu. Waktu jam sekolah masih kurang 30menit lagi, Julia sengaja datang lebih awal agar kedua bocah kesayangannya itu tidak menunggu terlalu lama.


"Kau disini untuk menjemput Jihan?" suara seseorang terdengar bertanya padanya.


Julia yang memang sudah berdiri bersandar di sisi mobilnya dan memainkan ponselnya itu pun menoleh ke arah suara itu, ia sedikit terkejut melihat siapa yang datang.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Julia.


"Bagaimana kabarmu beberapa hari ini?" tanya Ken yang mendekat ke arah Julia.


Bertemu dengan mantan suaminya yang pernah ia kagumi dan cintai itu pun membuat Julia merasa was was, terlebih jika mengingat hal-hal beberapa tahun yang lalu.


"Keadaanku bukankah itu tidak penting bagimu! Jika penting kau tidak akan membuat keluagaku hancur," sindir Julia menanggapi pertanyaan Ken.


Menyadari jika Julia yang ada di hadapannya bukanlah Julia yang ia temui beberapa yang lalu, Ken tampak tersenyum pahit, kini pria itu sudah berdiri tepat di hadapan Julia.


Julia yang sedari tadi bersandar di mobil pun akhinya berdiri dengan benar, sedikit mendongakkan kepalanya Julia memandang wajah yang pernah ia cintai.


"Ingatanmu sudah kembali?" tanya Ken, tangan kanannya mencoba menyentuh pipi Julia namun dengan segera di tepis oleh wanita itu.


"Tentu saja sudah! Apa kau berharap aku lupa ingatan terus hingga kau bisa meracuni pikiranku lagi untuk bisa kembali bersamamu?" jawab Julia sedikit ketus, "tapi seharusnya aku bersyukur dan berterima kasih telah bertemu denganmu, karena setelah berbincang denganmu aku bisa kembali mengingat masa laluku," imbuh Julia.


"Bukan seperti itu, demi Jihan! Apa bisa kita kembali lagi?" tanya Ken penuh harap.


Julia tersenyum sinis, ia menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan permintaan pria di depannya itu, ia mengangkat tangan kanannya memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.

__ADS_1


"Aku sudah menerima lamaran Andrew," jawab Julia.


Lagi-lagi Ken tersenyum pahit, ia kemudian mencoba mengajak Julia bicara atasnama Jihan.


"Mari bicara tentang Jihan," ajak Ken ketika tahu jika Julia sudah menerima lamaran Andrew.


Julia mempunyai perasaan yang tidak nyaman ketika Ken ingin membicarakan masalah Jihan, negatif thinking itulah yang ia rasakan.


Julia menyetujui permintaan Ken, namun ia ingin mengantar anak-anak pulang dulu karena ia tidak mau Jihan melihat jika kedua orangtuanya itu terlibat perdebatan.


Karena takut menghadapi Ken sendirian, akhirnya Julia menghubungi Andrew agar mau menemaninya bertemu dengan Ken, lagi pula jika dia tidak memberitahukan tentang pertemuannya dengan Ken, Julia takut Andrew akan salah paham.


Ken sudah menunggu Julia di sebuah cafe yang sudah mereka sepakati untuk bertemu, matanya tampak tak percaya ketika melihat mantan istrinya itu malah datang dengan kekasihnya.


Julia langsung duduk di ikuti oleh Andrew tanpa menyapa Ken terlebih dahulu.


Julia terus menggenggam telapak tangan Andrew yang jari jemarinya tampak saling bertautan dengan jari Andrew dan menaruhnya di pahanya, ia benar-benar gugup jika harus bertemu dengan Ken lagi.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Julia memulai pembicaraan.


"Aku ingin hak asuh atas Jihan!" jawab Ken.


Tentu saja jawaban Ken membuat Julia dan Andrew naik pitam, bagaimana tidak mereka sudah susah payah merawat serta memberikan kasih sayang yang sepenuh hati kini malah harus memberikannya kepada pria yang bahkan baru mengetahui jika dia memiliki seorang putri.


"Apa kau gila!" teriak Julia seraya melepas genggaman tangannya dari Andrew untuk menggebrak meja.

__ADS_1


Tentu saja seisi cafe menatap ke arah mereka karena suara Julia yang terdengar nyaring menggema di seluruh ruangan itu.


Andrew memegang pundak Julia mencoba meredakan emosi kekasihnya itu.


"Ya aku gila! Semua ini juga bukan semata-mata kesalahanku, kau yang tidak jujur dengan kehamilanmu, lalu bagaimana bisa aku tahu kalau aku memiliki seorang putri," jawab Ken dengan nada santai.


"Hah! Kau yang sudah dibutakan oleh harta, memangnya kau akan peduli dengan seonggok darah yang ada di rahimku waktu itu?" tanya Julia yang tak ingin kalah dengan mantan suaminya.


"Jul! Aku juga seorang manusia, meski dulu aku jahat dan hanya harta yang aku pikirkan, tapi aku juga memiliki harapan bisa memiliki seorang keturunan, dan kini aku sadar jika aku merasa ada sesuatu yang kurang setelah aku bertemu dengan Jihan," ungkap Ken.


Andrew menghela nafas, Julia sendiri sudah tidak bisa berkata apa-apa untuk membantah perkataan mantan suaminya itu.


"Jadi memang benar, selama ini kau dengan sembunyi-sembunyi menemui Jihan?" tanya Andrew tiba-tiba.


"Ya! Dan Jihan juga tidak pernah keberatan, dia bahkan telah menerimaku dengan mau memanggilku dengan sebutan 'Ayah'," jawab Ken.


Julia tidak sanggup berkata-kata jika putrinya memang benar sudah menerima ayah kandungnya itu, ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, jarinya tampak memijit keningnya yang merasa pening.


"Jihan tahu jika kau akan marah kalau tahu aku menemuinya, karena itu aku setuju untuk Secara diam-diam bertemu dengannya, aku harap kau mengerti perasaan Jihan yang sudah menerimaku sebagai ayahnya, dan perasaanku sebagai ayahnya," ulas Ken seraya menatap ke arah Andrew.


"Tapi kau tau betulkan! Tidak mungkin bagi kami untuk mengalihkan hak asuh Jihan padamu, kami juga tidak ingin dia pergi!" tolak Andrew.


"Kau sudah mendapatkan Julia, kenapa kau tidak bisa memberikan Jihan padaku?" bentak Ken yang memang benar-benar ingin mendapatkan hak asuh Jihan.


Andrew mengepalkan tangannya yang ada diatas meja, seakan dia siap untuk memukul pria di depannya itu jika bicara lagi. Namun seketika jari jemarinya terurai ketika ia mendengar pernyataan Ken.

__ADS_1


"Aku tahu aku sudah banyak melakukan kesalahan baik dengan Julia ataupun denganmu. Selama beberapa tahun ini aku merenungi semua perbuatanku , aku ingin sekali memperbaiki semuanya memperbaiki apa yang telah aku hancurkan meski itu tidak mungkin. Karena itu aku mohon beri aku kesempatan untuk memberikan Jihan kasih sayang, aku sudah mengikhlaskan Julia untukmu, tapi tolong jangan jauhkan Jihan dariku," pinta Ken memelas, tampak manik matanya sudah berkaca-kaca.


Julia yang sedari tadi memejamkan matanya dengan memijit keningnya pun langsung membuka matanya begitu mendengar pernyataan Ken, ia menyadari Ken bukanlah pria arogan yang ia kenal beberapa tahun lalu, Julia menatap mata Ken dengan penuh rasa iba. Meski dia pernah membenci pria itu karena telah membuatnya kehilangan ayah serta kebahagiaan tapi ia juga tidak bisa mengabaikan keinginan Jihan untuk menerima pria itu sebagai ayah kandungnya.


__ADS_2