
Andrew menyusul Luna di dapur, dia melihat wanita yang dia cintai itu tengah sibuk membereskan ikan yang ingin dia masak untuk makan malam, Andrew menatapnya sebentar, dan dia pun mengingat apa yang dikatakan oleh Rey "Pria yang bernama Steve itu sudah mendekati kak Luna sejak dulu, dia sering memberikan sesuatu pada kak Luna, tapi kak Luna hanya menganggapnya teman, kalau kakak benar benar suka dengan kak Luna kejar dia, aku mendukungmu," itu lah kata Rey.
Andrew berjalan kearah Luna dan berdiri tepat disampingnya.
"Biar aku bantu membersihkan ikannya," pinta Andrew.
"Apa?" Aku sedikit terkejut ketika dia tiba tiba disampingku.
Andrew merebut ikan dari tangan ku, itu membuatku terkejut, terkadang aku heran dengan pria ini, kenapa dia mau mau nya disini, bukankah kehidupan kota lebih mengenakan lalu kenapa dia malah tinggal disini.
"Ngapain bengong, ga ngurusin bahan lainnya?" Tanya Andrew.
mendengar ucapannya aku baru tersadar, dan entah kenapa aku merasa tidak bisa berkata apa apa, aku menyiapkan bahan lainnya, sesekali aku melirik kearahnya, melihatnya fokus membersihkan ikan ikan itu, entah kenapa aku merasa benar benar dekat dengannya, jantungku tiba tiba saja berdetak dengan cepat, aku bahkan tidak bisa mengalihkan pandangan ku darinya, senyumannya itu kenapa selalu terpajang di wajahnya, membuat sesuatu terjadi di hatiku.
"Ouch.." pekik ku yang tanpa aku sadari aku mengiris jariku sendiri saat memotong sayur.
Andrew bergegas meraih jariku yang terluka dan membasuhnya di bawah guyuran air keran, aku bisa melihat kecemasan dimatanya.
"Kau ini, kenapa tidak hati hati? Untung tidak dalam," Andrew mengamati luka dijariku.
"Maaf," ucapku yang entah kenapa aku malah merasa bersalah.
Andrew terlihat menatapku lagi dengan senyuman itu, membuat hatiku tak karuan rasanya, dia mengambil kotak obat, dan menyuruhku duduk lalu dia pun membersihkan lukaku serta mengobati dan menutup lukanya dengan plester.
"Sudah selesai, kau duduk saja urusan dapur serahkan padaku," ucap Andrew sembari berdiri dan mengusap kepalaku, tapi kali ini kenapa aku merasa tidak ingin marah.
"Kenapa kau mau melakukan semua ini?" Tanyaku pada nya.
"Ya bagaimanapun aku disini hanya menumpang, jadi aku juga harus ikut bekerja dong," jawab Andrew.
Aku hanya terdiam dan tidak berkata apa apa lagi, hanya memperhatikan dia memasak saja, walau dia seorang pria kota yang kaya, siapa sangka dia bisa melakukan hal yang biasa di lakukan oleh orang seperti kami ini.
__ADS_1
Malam itu kami makan bersama, aku melihat Rey yang begitu antusias pada pria itu, aku tidak tau kenapa Rey sepertinya sangat menyukainya apa karena dia dari kota atau karena hal lainnya.
setelah makan malam ayah berangkat mencari ikan, aku menemaninya sampai ke perahu kecilnya, dia pun ikut denganku walau aku sudah melarangnya untuk tidak usah menemani, tapi nampaknya memang dia keras kepala, kami pada akhirnya berjalan di pesisir pantai malam itu setelah Ayah berangkat.
"Luna," panggilnya kepadaku, dia berada dibelakangku.
"Apa," jawabku sembari menoleh kearahnya.
"Apa kau tidak ingin mengingat masalalumu?" Tanya pria itu kepadaku.
Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya, dari mana dia tau tentang ingatanku yang hilang, ya mungkin aku bisa menebak siapa yang bercerita.
"Aku tidak ingin mengingatnya," jawabku.
"Kenapa?" Andrew penasaran.
"Aku melupakan segalanya berarti aku memang ingin melupakannya, lalu untuk apa aku mengingatnya," entah kenapa ada rasa kesal saat itu, aku membalikan badanku dan bersiap untuk pergi, hingga pria itu menarik tanganku kemudian menggenggam kedua lenganku erat.
"Apa kau tidak tau bagaimana perasaan orang yang kau tinggalkan? Mereka benar benar hampir gila mencarimu kesana kemari, dan berharap kau kembali dengan selamat, lalu kenapa kau malah mengatakan kalau kau tidak ingin mengingatnya?" Andrew sedikit kesal mendengar jawaban wanita yang dia cintai nya itu.
"Lepaskan, aku tidak tau maksutmu," aku mencoba memberontak, agar bisa lepas darinya.
"Dengarkan aku, kau Julia kau dan aku, kita pernah berjanji bersama, kenapa kau meninggalkan ku seperti itu," Andrew bicara dengan nada sedikit tinggi.
"Aku tidak mengenalmu, kita juga baru saja bertemu, ada apa denganmu ini?" Aku mencoba mengelak semua yang dia katakan.
Entah apa yang dia pikirkan, dia begitu saja memeluk ku, dan mencium bibirku lembut, aku merasa terkejut, tapi kenapa aku juga tidak sanggup menolaknya, perasaan ini seperti pernah aku rasakan sebelumnya, tapi kapan dan dimana aku tidak tau, atau memang yang dia katakan benar, aku dan dia memiliki sebuah hubungan.
Setelah beberapa detik dia melepaskan ciuman itu, dia menempelkan dahinya ke dahiku serta memegang lembut kedua pipiku dengan kedua tangannya.
"Julia, kembalilah padaku pulanglah bersamaku, kami sangat merindukanmu, aku begitu sangat merindukanmu, Jihan merindukanmu," ucap Andrew dengan sedikit airmata yang menetes dari matanya.
__ADS_1
Apa? Apa yang dia maksud, apa benar aku ada hubungan dengannya.
"Apa hubunganku denganmu? Siapa Jihan?" Tanyaku penasaran.
Andrew mengangkat kepalanya dari dahi ku, dan dia menatap mataku lembut.
"Kita dulu sepasang kekasih, walau umurku lebih muda darimu tapi kita saling mencintai, Jihan adalah putrimu dia merindukanmu sepanjang waktu," jawab Andrew.
Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku, aku tidak menyangka aku sudah memiliki seorang putri, dan aku malah menolak untuk mengingatnya, aku merasa bahwa aku adaah wanita yang begitu jahat.
"Dia putri kita?" Tanyaku lagi.
"Puftt," Andrew menahan tawa.
"Apa? Apa kau membohongiku?" Tanyaku kesal.
"Bukan anak kita, dia putrimu dari pria lain, tapi aku sangat menyayanginya seperti putriku sendiri, bahkan dia sekarang memanggilku dengan sebutan papa," jelas Andrew.
"Seperti apa dia?" Tanyaku lagi penasaran.
Andrew mengeluarkan ponselnya, lalu dia memperlihatkan foto disaat kami berlibur dipantai, bisa terlihat jelas itu aku dan dia dengan seorang gadis kecil yang lucu.
"Ini Jihan?" Tanyaku sembari menunjuk ke foto di ponsel itu.
"Iya, ini kau dan aku, kita berlibur saat itu, Jihan sangat senang aku masih mengingat tawa kecilnya itu."
"Jadi aku sudah melupakan banyak hal?" Aku tiba tiba saja merasa sedih.
" Dia sudah menjadi seorang gadis cantik, apa kau tidak ingin menemuinya? Dia merindukanmu setiap waktu."
"Tapi aku belum bisa mengingat apapun," ucapku.
__ADS_1
"Mari perlahan mengembalikan ingatanmu, aku akan selalu ada untukmu," Andrew menggenggam tangan kiri ku, seolah dia siap selalu ada untuk ku, tapi aku pun merasa heran mengapa aku merasa begitu sangat nyaman dengannya, atau memang benar ada hubungan yang spesial diantara kami berdua.