
Cahaya matahari menyelinap masuk dari celah jendela menembus tirai penghalangnya, merambah masuk merayap ke wajah-wajah yang terlihat masih tertidur lelap.
Julia membuka matanya perlahan, tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya, wajah pria yang telah sedia menunggunya sekian tahun, senyum merekah menghiasi bibir wanita itu, memandang dalam ke wajah polos yang masih tampak terlelap di hadapannya.
Julia ingat kejadian semalam dimana Andrew mengajaknya keluar kesuatu tempat, dengan mata tertutup kain hitam Julia mengikuti langkah Andrew yang menuntunnya.
"Kau bawa aku kemana?" tanya Julia yang begitu penasaran.
"Tunggu sebentar! Hampir sampai," jawab Andrew.
Mereka akhirnya berhenti melangkah, Andrew melepaskan tangannya dari pundak Julia, membuat wanita itu bingung karena ia belum boleh membuka matanya.
"Andrew! Apa aku sudah boleh membuka penutup mataku?" tanya Julia yang tidak mendapatkan jawaban dari Andrew.
Hingga sebuah sinar terang menembus penutup matanya, sedikit membuat silau meski tidak melihat langsung.
"Buka lah," ucap Andrew.
Julia melepas simpul kain yang menutupi matanya dengan penuh rasa penasaran ia membuka matanya perlahan yang sedikit silau dengan cahaya yang memantul ke arahnya.
Julia akhirnya bisa melihat dengan jelas sekelilingnya, banyak rangkain bunga mawar dan lilin yang berjajar di sepanjang sisi kanan dan kirinya, namun matanya tetap tertuju pada pria yang berdiri di depannya itu.
Andrew terlihat berpakaian rapi dengan jas hitam, tangan kanannya memegang sebuah buket bunga mawar sedangkan tangan kirinya ia sembunyikan di belakang pinggangnya.
Andrew berjalan menghampiri Julia yang masih terpaku dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat, suasana romantis yang membuat meleleh setiap hati wanita yang melihatnya, candle and Roses mungkin itu adalah tema yang cocok untuk menjelaskan suasana malam itu.
Julia masih menatap kekasihnya yang berjalan ke arahnya itu dengan seulas senyum.
Andrew menyodorkan bunga mawar yang ada ditangannya pada Julia, wanita itu pun langsung menerimanya, hingga tanpa Julia sadari Andrew langsung berlutut di bawahnya dengan bertumpu pada satu kakinya.
"Julia, Will you marry me?" pinta Andrew seraya menyodorkan sebuah kotak kecil berbentuk persegi dengan cincin di dalamnya.
Merasa terharu dan tidak percaya, Julia menahan rasa senangnya dengan menutup mulutnya sendiri, ia merasa sedang berada di film romantis dimana dia sebagai pemeran utama wanita yang tengah di lamar kekasihnya dengan cara yang begitu romantis.
__ADS_1
Julia mengeluarkan bulir kristal bening dari kelopak matanya tanda kebahagiaan. Tidak ingin menunda lagi Julia menganggukkan kepalanya tanda dia menerima pinangan sang kekasih.
Tangan kanannya ia ulurkan ke arah Andrew yang sudah siap memakaikan cincin di jari manisnya. Melihat cincin berhias permata melingkar di jari manisnya membuat airmata Julia mengalir tak terbendung.
Andrew yang menyadari hal itupun langsung berdiri dan memeluk wanita yang sudah sekian lama sangat ia nantikan.
"Terimakasih," lirih Julia yang masih tenggelam dalam pelukan Andrew.
"Untuk apa?" tanya Andrew yang malah bingung.
Julia bangkit dari pelukan Andrew menatap wajah sang kekasih, melihat jarak umur antara keduanya yang membuat Julia tidak menyangka jika Andrew akan terus memilihnya.
"Terimakasih telah memilihku," jawab Julia.
Andrew tersenyum, ia menangkup kedua pipi Julia, mendekatkan wajahnya kemudian mengecup kening hidung hingga ke bibir wanita yang ia cintai itu.
"Aku yang berterimakasih karena kau sudah hadir mewarnai duniaku," balas Andrew.
Julia masih menatap wajah Andrew tanpa rasa bosan, hingga pria itu membuka matanya.
"Pagi," sapa Julia.
Sekilas senyum muncul dibibir Andrew, ia mengecup kening Julia dan membalas sapaan kekasihnya itu.
"Pagi juga,"
Julia buru-buru bangun, ia lupa jika anak-anak harus kesekolah dan ia harus menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Cepatlah bangun dan mandi, aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian," kata Julia yang tengah turun dari ranjang.
"Apa kau tahu?" tanya Andrew yang masih berbaring miring dengan tangan yang menyangga kepalanya.
"Apa?" tanya Julia balik, wanita itu menoleh ke arah Andrew.
__ADS_1
"Kau sudah seperti seorang istri yang benar'perhatian kepada suaminya," jawab Andrew yang menggoda Julia.
Julia hanya tersenyum, kemudian menjulurkan lidahnya tanda mengejek, Julia pun bergegas keluar dari kamar milik Andrew.
Andrew duduk dan tersenyum, tidak menyangka jika hari dimana dia akan memiliki kekasihnya seutuhnya akan tiba juga.
"Pagi, Mama!" sapa Jihan yang baru saja tiba di meja makan.
Dengan masih memakai celemek Julia mengecup kening Jihan yang sudah duduk di kursi meja makan, kemudian wanita itu juga menghampiri Rey yang datang bersamaan dengan Jihan dia juga mengecup kening Rey.
"Sarapan!" ucap Julia seraya mengambilkan kedua bocah itu sarapan mereka.
Bibi Mai begitu bahagia bisa melihat Julia yang dulu, yang ceria dan selalu penuh kasih sayang.
"Pagi sayang," Andrew yang entah kapan datangnya, muncul disana dan langsung mengecup bibir Julia membuat wanita itu terkejut.
"Apa apaan?" protes Julia seraya memukul lengan Andrew karena disana ada bibi Mai dan anak-anak.
Bibi Mai tampak memalingkan wajah pura-pura tidak tahu, sedangkan Jihan dan Rey hanya menunduk menghadap ke sarapan mereka.
Julia merasa tersipu dan malu karena sikap Andrew, sedangkan pria itu tampak santai dan duduk di kursinya tanpa rasa bersalah karena kelakuannya dilihat oleh kedua bocah disana.
Selepas mengantar Jihan dan Rey, Julia kembali ke Cafe miliknya, sungguh betapa gembiranya orang-orang yang berada disana mengetahui jika ingatan Julia sudah kembali pulih.
"Ya Tuhan, ini adalah mukjizat, aku sangat senang," ungkap Fara yang benar-benar bahagia.
Semua orang disana saling bergantian memeluk Julia menyambut kedatangannya kembali.
Julia kembali ke ruang kerjanya, ia melihat kembali isi ruangannya meski sudah lima tahun namun ruangan itu tidak berubah sama sekali, tembok berwarna biru muda, foto dirinya yang terpajang di dinding semua masih sama.
"Selama kau pergi, aku tetap berusaha agar ruangan ini tidak berubah," ujar Fara yang sudah berdiri di belakang Julia.
Julia pun menoleh ketika mendengar perkataan Fara, ia hanya tersenyum sebagai tanda terima kasih karena temannya itu terus menjaga usaha yang ia rintis susah payah hingga sekarang.
__ADS_1