
Jihan menceritakan semua pada Andrew, kecuali di bagian dia menerima permintaan Ken lah yang tidak dia ceritakan, dia takut kalau papa nya itu tidak akan setuju, dan itulah yang membuat kebimbangan di hati gadis kecil itu, dia merasa takut membohongi papanya itu tapi dia juga ingin merasakan kasih sayang papa kandungnya, karena itu terdapat pergulatan batin yang kuat dalam hatinya.
Andrew menatap lembut gadis kecilnya itu, dia tau gadis seusia dia pastilah berat menerima kenyataan yang seharusnya dia tidak tau.
"Lalu, apa dia memaksamu?" Tanya Andrew pada Jihan sembari mengusap kepala Jihan yang masih dalam pelukan Luna.
Jihan hanya menggelengkan kepalanya, Jihan sedikit takut jika papanya itu mengetahui apa yang sebenarnya.
"Baiklah, Kembalilah istirahat oke," Andrew bangkit dari duduknya.
"Bisakah mama menemaniku, aku masih rindu," pinta Jihan.
Luna melihat kearah Andrew, dia sendiri bingung jikalau gadis kecil itu tiba-tiba menanyakan sesuatu tentang masa lalu yang sama sekali belum dia ingat.
"Kalo itu tanya mama saja," jawab Andrew sembari melirik ke arah Luna.
"Ah..Mama tidak masalah," jawab Luna tersenyum kepada Jihan.
"Tapi ingat, mama masih belum bisa mengingat masalalu, jadi jangan repotkan mama dengan pertanyaan yang aneh-aneh," pinta Andrew.
"Aku mengerti," Jihan menganggukan kepalanya.
Andrew pun meninggalkan mereka berdua, mungkin Jihan ingin melepas rindunya yang sudah dia tahan bertahun tahun ini.
Andrew Kembali ke ruang tamu, Rey masih ada disana dan dia sudah punya rencana untuk bocah laki laki itu.
"Dimana kak Luna?" Tanya Rey yang begitu melihat Andrew muncul.
"Sedang melepas rindu," Andrew mengusap kepala Rey lalu duduk disebelahnya.
"Bagaimana Jihan?" Tanya Laurent yang masih khawatir.
"Tidak apa apa, hanya saja Ken mengajak nya berbincang, mungkin itu yang membuat nya gelisah, bagaimanapun dia masih kecil dan perasaannya pasti belum stabil," jelas Andrew
Laurent dan bibi May yang mendengar hal itu pun sedikit merasa cemas, mereka tidak menyangka kalau Ken akan berani mengajak Jihan pergi dengannya.
"Kalian tidak usah khawatir, Jihan berkata kalo laki-laki itu hanya mengajaknya makan saja," Andrew berusaha meredam kecemasan dua orang itu.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, tapi sekarang Julia sudah kembali, apa kau berniat mengambil alih lagi cafe miliknya?" Tanya Laurent, bagaimana pun cafe itu hanya dikelola sementara oleh istrinya.
"Tidak perlu, Julia belum mengingat apapun, aku tidak ingin itu menambah bebannya lagi," jawab Andrew.
"Aku mengerti,"
Rey sendiri hanya bisa mendengarkan para orang dewasa itu bicara, dia sudah berumur 12 tahun dan dia mencoba memahami situasi dalam keluarga itu, karena pada akhirnya mereka akan menjadi satu keluarga.
Disisi lain di kamar Jihan, Luna masih dalam posisi setengah berbaring, tangan kirinya menyanggah kepalanya sedangkan tangan kanannya mengusap pelan rambut Jihan.
"Mama," panggil Jihan pelan.
"Hmm, iya"
"Selama lima tahun ini, apa yang mama lakukan?" Tanya Jihan yang belum bisa tertidur.
"Ehmmm, banyak...mama tinggal di keluarga nelayan, tiap hari mama membantu orang yang merawat mama menjual ikan, kadang mama membaca buku ditepian pantai, tidak ada yang spesial, hanya melakukan kegiatan biasa," Luna bercerita.
"Apa orang itu baik? orang yang merawat mama?" Tanya Jihan penasaran.
"Dia kenapa?" Jihan tambah penasaran.
"Tuhan sudah membawanya pergi," Luna menitikkan airmata.
Jihan yang melihatnya pun langsung bangun dan mengusap airmata itu, dia menjadi bersalah karena sudah banyak bertanya.
"Mama maaf, harusnya aku tidak bertanya, mama jangan sedih," ucap Jihan seraya memeluk Luna.
Luna pun tersenyum, dia membalas pelukan hangat dari putrinya itu, dia bisa merasa lebih tenang mungkin itulah yang dinamakan ikatan batin antara ibu dan anak.
Keesokan harinya Luna sudah sibuk membantu bibi May di dapur, selama amnesia dia sudah terbiasa seperti itu karena itu dia pun melakukannya juga di sana.
"Bibi, apa yang disukai Jihan?" Tanya Luna, walau dia tidak ingat tapi dia ingin tau lagi apa yang suka dan tidak disukai putrinya.
"Jihan ya, dia suka sarapan dengan roti selai strawberry, dia benci kacang jadi jangan beri dia kacang, kalo malam dia suka makan biskuit sebelum tidur," jelas bibi May yang masih sibuk menyiapkan sarapan.
"Begitu ya, aku mengerti,"
__ADS_1
"Pagi mama," Jihan tiba-tiba sudah muncul disana memeluk Luna dari belakang, sudah lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Pagi," sapa balik Luna sembari membalikan badannya agar bisa melihat putri nya itu.
"Pagi nenek," Jihan menyapa neneknya juga.
"Pagi sayang," sapa balik bibi May.
"Duduklah, mama akan menyiapkan sarapan mu," perintah Luna.
Jihan hanya mengangguk senang, selang beberapa menit Andrew dan Rey juga sudah berada di ruang makan, Jihan nampak memperhatikan Rey, dia tidak melihatnya semalam makanya dia tidak tau Rey, Andrew duduk dikursi utama Jihan ada disebelah kanannya, Rey duduk berhadapan dengan Jihan sedang Luna ada disebelah Rey.
"Aku akan membawa Rey mendaftar sekolah hari ini," ucap Andrew.
"Itu bagus," Luna mengambilkan sarapan untuk Jihan kemudian Rey.
"Makan yang banyak," ucap Luna pada Rey pelan.
"Iya," Rey tersenyum.
Jihan memperhatikan Rey lalu melihat kearah mamanya yang begitu perhatian dengan anak lain, Jihan terlihat tidak senang akan hal itu.
"Jihan sayang, Rey akan sekolah satu sekolah denganmu, kau harus jadi teman yang baik untuknya walau kau tidak sekelas dengannya," pesan Andrew pada Jihan.
"Memang siapa dia? Aku tidak tau dan mengenalnya," ekspresi dan sikap Jihan berubah, dia hanya merasa papa dan mama nya itu perhatian dengan anak baru itu.
"Oh mama lupa memperkenalkan kalian, Jihan ini adik mama namanya Reynand, dan Rey ini anak kakak namanya Jihan," Luna memperkenalkan.
Rey nampak senang, dia memiliki ponakan dan bisa jadi akan di panggil om kecil walau itu hanya ada di angan-angan, Rey berdiri dan mendekat kearah Jihan untuk bersalaman memperkenalkan dirinya pada Jihan.
"Hai aku Rey," sapa Rey pada Jihan sembari mengulurkan tangannya.
Jihan nampak mengabaikannya, Andrew dan Luna pun memperhatikan sikap Jihan, Luna tidak berani menegurnya bagaimana pun dia baru tiba dan tidak tau apa-apa tentang Jihan, dan Andrew dia melihat ada kecemburuan dalam mata Jihan, mungkin karena Luna yang terlihat lebih akrab dengan Rey.
"Jihan, bagaimanapun dia anggota keluarga kita, kau tidak boleh mengabaikannya," Andrew menasehati.
Akhirnya mau tidak mau Jihan membalas jabat tangan dari Rey, tapi dia juga menarik tangannya dengan cepat, Rey bocah desa yang polos tidak memahami sikap dari Jihan.
__ADS_1