
"Kalian jahat."Jihan menangis dan berlari keluar restoran.
Andrew merasa bingung,kenapa Jihan marah,dan apa yang dikatakan Hellen.
"Sudah 5 tahun dan kau tidak pernah berubah,ingat jangan campuri urusan ku,atau aku bisa melakukan apapun padamu,aku bahkan tidak peduli kalau kau perempuan."Andrew memberi tatapan dingin pada Hellen,seketika itu membuat Hellen merasa tidak nyaman.
Andrew mengejar Jihan yang berlari keluar,malam itu udara terasa dingin,Andrew bahkan tidak tau Jihan lari kearah mana,karena saat dia sampai di depan restoran Jihan sudah menghilang.
"Sial,kemana dia lari,lihat saja jika sesuatu terjadi pada Jihan,wanita itu dan keluarganya tidak akan kulepaskan."Andrew bergumam.
"Hah...Hilang ya?"Kata Hellen mengejek,dia mengikuti Andrew keluar.
"Apa maksut perkataanmu?Dan apa yang sebenarnya kau katakan padanya?"Andrew menarik dan mencengkeram tangan Hellen sangat kuat.
"An..Andrew,lepaskan ini sakit."Hellen merintih.
"Katakan apa yang kau katakan padanya?"Andrew mulai hilang kesabaran lagi,dia melepaskan tangan Hellen.
"Aku hanya bicara fakta,fakta bahwa ibunya sudah mati."Kata Hellen yang sambil mengusap usap tangannya yang sakit.
"Beraninya kau mengatakan hal itu,siapa yang menyuruhmu?"Andrew berteriak,dia sudah merahasikan hal itu bertahun tahun,kini malah dibongkar begitu saja oleh wanita itu.
"Berani,salah siapa kau mengabaikanku,bahkan saat wanita itu mati,kau masih mengabaikanku,bagaimana bisa kau membandingkan dia denganku."Hellen kesal.
"Tutup mulutmu,satu kata lagi kau mengatakan dia mati,maka kau yang akan mati."
Andrew berjalan pergi,dia sangat ingin memberi pelajaran pada Hellen,tapi dia lebih ingin menemukan Jihan dulu,Hellen nampak memandang kearah Andrew pergi.
"Wanita itu benar benar menyusahkan,sudah mati tapi masih memberikan beban,sungguh menyebalkan."
Andrew nampak mengemudikan mobilnya,dia berjalan pelan berharap melihat Jihan di jalan.
"Jihan,kau lari kemana?"Gumam Andrew dalam kecemasan.
Entah sudah berjalan berapa lama,hingga Andrew melihat gadis kecil itu nampak berjongkok didepan toko yang tutup,dia menundukan kepalanya dan menutupnya dengan kedua tangannya.
"Jihan."Ucap Andrew sambil buru buru menepikan mobilnya.
__ADS_1
Andrew segera keluar dari mobil dan berlari kearah Jihan,begitu sampai dia langsung memeluk gadis kecil itu.
"Jihan,kenapa kau lari,papa sangat khawatir."Ucap Andrew sambil mengusap kepala Jihan.
Jihan hanya diam,Andrew baru sadar kalau gadis kecilnya itu baru saja menangis.
"Papa...Apa mama benar benar sudah meninggal?"Tanya Jihan yang masih dalam dekapan Andrew.
"Itu.."Andrew tidak tau harus menjawab apa.
"Papa tidak bisa menjawabnya,berarti mama benar benar pergi."Jihan mulai menangis lagi,dia menenggelamkan wajahnya ke pundak Andrew.
Andrew hanya mengusap usap punggung Jihan,untuk sekarang dia juga tidak bisa berkata apa apa,juga tidak bisa berbohong lagi pada gadis kecil itu.
CAFE JULIA.
Setelah mengantar Jihan pulang,Andrew merasa ada beban lagi di pikirannya,dia datang ke cafe milik Julia.
"Selamat datang."Sapa Fara sebelum tau yang datang adalah Andrew.
"Hei,tumben sekali kau mampir?"Tanya Fara.
"Disini baik,mau minum?"
"Boleh."
Fara membuatkan secangkir kopi hitam untuk Andrew.
"Kau datang kesini bukan sekedar mampir kan?"Tanya Fara.
Andrew meminum kopinya perlahan,dan dia baru menjawab pertanyaan Fara."Ya...Aku hanya rindu tempat ini,kau merawatnya begitu baik selama ini." Andrew memperhatikan sekeliling cafe.
"Ya...Bagaimana tidak aku merawatnya,bagi sebagian orang tempat ini mungkin biasa biasa saja,tapi bagi kami yang disini,tempat ini adalah tempat yang penuh kasih sayang dan kenangan indah,bahkan para pekerja disini saja menolak untuk keluar."Ucap Fara mengingat sambil tersenyum.
"Ya...Bagiku ini juga tempat yang spesial."
"Bagaimana kabar Jihan?"
__ADS_1
"Dia baik,hanya saja dia akhirnya tau kalau Julia sudah..."Andrew berhenti bicara.
"Kau memberitahukannya?"Tanya Fara penasaran.
"Hellen,dia mengatakan itu pada Jihan,aku merasa sakit saat melihat airmatanya."
"Hellen?Oh aku ingat,wanita itu benar benar,bahkan saat Julia sudah tidak ada,dia masih tidak bisa berhenti mengganggunya."Ucap Fara kesal.
"Mungkin salahku juga,andai aku memberitahu kebenaranya pada Jihan sejak awal,dia mungkin tidak sesakit ini."Kata Andrew menyesal.
"Kau hanya ingin yang terbaik untuknya,bahkan kau sudah melakukan hal yang baik untuknya selama 5 tahun ini,jangan menyalahkan dirimu sendiri,oke." Fara mencoba menghibur.
Andrew segera menghabiskan kopinya,dia kesana hanya ingin melepas rindu akan kenangannya bersama Julia,dia bahkan menatap tempat dimana mobil Julia biasa terparkir,dia mengingat saat dia membetulkan mobil Julia yang mogok,bahkan saat dia diganggu beberapa preman,senyumannya muncul saat itu,kalau bukan karena kejadian kejadian itu,dia tidak akan bisa dekat dengan Julia.
RUMAH ANDREW.
Andrew kembali setelah melepas rasa rindunya,dia pergi kekamar Jihan,dia melihat gadis kecil itu sudah tertidur,Andrew duduk di sebelah tempat tidur Jihan,ada sebuah bingkai foto terpajang di meja nya,Andrew mengambil dan memandanginya,foto itu mereka ambil saat mereka berada dipantai,Andrew menggendong Jihan dan memegang tangan Julia,dia masih ingat sekali dengan senyuman itu,senyuman yang begitu hangat dan ramah.
"Jihan maafkan papa,aku tidak bermaksut seperti itu."Andrew mengecup kening Jihan,lalu dia beranjak dari sana.
Jihan mendengar suara Andrew,tapi hatinya masih tidak bisa menerima,bagaimanapum dibohongi selama 5 tahun,itu adalah hal yang terburuk yang dia alami. "Mama.."Suara Jihan lirih,dia menangis dalam tidurnya.
Pagi hari.
Andrew bangun lebih awal pagi itu,dia sudah bersiap kekantor dan mengantar Jihan,saat menuruni tangga,dia melihat Jihan sudah dimeja makan.
"Pagi sa..."Andrew berhenti bicara saat Jihan memalingkan kepalanya saat Andrew ingin menciumnya.
Bibi May tau Jihan masih terpukul dan marah.
"Nak,sarapan dulu."Ucap Bibi May pada Andrew.
"Ya..."Andrew menarik kursi dan duduk,dia mengamati Jihan,tapi Jihan terus memalingkan wajahnya.
"Aku sudah selesai."Jihan berdiri dan langsung berjalan pergi.
"Jihan.."Bibi May memanggil.
__ADS_1
"Bibi...Sudahlah,dia mungkin masih marah,ini semua juga salahku telah menyembunyikan kebenaran ini."Kata Andrew yang masih terlihat tenang.
"Ini tidak sepenuhnya kesalahanmu,kami juga bersalah padanya,jadi jangan memikul beban ini sendiri."Bibi May juga merasa bersalah,lagi pula dalam 5 tahun ini dia tau Andrew lah yang paling menderita,dia haru pura pura bahagia disaat yang lainnya bisa menangis,bahkan dia selalu menyembunyikan kesedihannya demi Jihan,dia selalu beerusaha dan berusaha membuat gadis kecil itu tersenyum.