
Laurent pergi mengajak istrinya Fara makan malam, walau sudah menikah agak lama mereka belum mendapatkan momongan.
Disela asyiknya mereka menyantap makan malam mereka, Ken ternyata berada di satu restoran dengan mereka, Ken menghampiri Laurent dan Fara.
"Wah kita bertemu lagi," sapa Ken yang berdiri di samping meja Laurent.
"Apa yang kau inginkan," kata Laurent yang nampak kesal dengan kedatangan Ken disana, dia menaruh alat makannya dan mengelap mulutnya.
"Tidak ada, hanya saja mungkin ada satu, kenapa kalian menyembunyikan putriku," Ken langsung to the point pada apa yang dia inginkan di sana.
"Apa maksutmu, kau membuang dan mengabaikan nya dan sekarang kau merasa kalau memiliki seorang putri, lucu sekali," perkataan Ken mengundang tawa geli Laurent.
"Dia tidak pernah mengatakannya padaku, bahkan saat dia pergi dia tidak pernah menyebutkannya," Ken terlihat menekan perkataan Laurent.
"Heh, kau yang tidak menginginkannya, lalu bagaimana bisa dia mengatakan kalau dia mengandung anak darimu,"
"Tapi sekarang aku ingin putriku, Julia sudah tiada jadi aku berhak atas putriku,"
"10 tahun kau tidak tau kenyataan kalau kau miliki seorang putri, dan sekarang dengan seenak hati kau menginginkannya lucu sekali, asal kau tau saja dia sudah memiliki seorang wali yang sah," Laurent berdiri dari mejanya diikuti oleh Fara.
"Siapa wali nya, katakan padaku," Ken memegang lengan Laurent saat dia ingin beranjak pergi dari sana.
"Bukan urusanmu," Laurent menepis tangan Ken, lalu menggandeng tangan istrinya.
"Dia pasti pria itu kan?" Teriak Ken.
Laurent dan Fara terhenti, Laurent tidak menoleh hanya Fara yang sedikit melirik kearah Ken.
"Aku tau pasti dia, dia yang begitu dicintai Julia, tapi lihat saja aku pasti akan merebutnya," Ancam Ken.
"Kalau begitu coba saja," Laurent bergegas mengajak Fara pergi dari sana, meninggalkan Ken yang kesal.
"Sial, bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan putriku," gerutu Ken.
DISISI LAIN.
Steve yang baru saja datang dari kota segera pergi menemui Luna di rumahnya begitu tau kabar tentang ayah Luna.
__ADS_1
"Luna," Panggil Steve ketika melihat Luna sedang duduk bersama Andrew.
Aku melihat Steve datang, dia terlihat terengah-engah saat sampai di depanku, aku pun seketika berdiri, tapi apa yang terjadi padanya dia menarik dan memelukku ini pertama kalinya dia berani memelukku.
"Luna, maaf aku tidak tau tentang hal yang menimpa ayahmu," ucap Steve yang memelukku erat.
"Steve lepaskan dulu," ucapku seraya berusaha melepaskan pelukannya.
Andrew yang melihat tentu saja tidak tinggal diam, dia melepaskan tangan Steve dari pelukanku dan menarik ku kebelakang tubuhnya berusaha untuk melindungi ku.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Andrew yang menghadang Steve dari ku.
"Kau tidak berhak mengatur, apa hak mu juga menghalangi," Steve mencoba meraihku tapi ditepis oleh Andrew.
"Aku berhak karena dia adalah kekasihku," Andrew masih berusaha menutupi ku.
"Kekasih? Hah, sejak kapan? Apa kau mencintainya Luna?" Tanya Steve yang menatap kearahku.
"Aku," aku sendiri belum yakin akan hal itu, dan kini aku diberikan pertanyaan seperti itu yang membuatku bingung bagaimana aku harus menjawabnya.
Aku melihat Andrew melirikku dengan rasa tidak senang, aku sendiri bingung dengan kedua orang ini, ada apa dengan mereka ini, satu teman yang sudah bersamaku selama 5 tahun ini, satu lagi mengatakan kekasih masa lalu ku, ini membuatku gila sikap mereka membuatku gila.
"Luna bisa kita bicara," ajak Steve.
"Kalau kau mau bicara dengannya bicara saja disini," Andrew yang tiba tiba saja jadi posesif.
"Luna," Steve masih berharap aku mau ikut dengannya.
"Maaf Steve, Andrew benar jika kau mau mengatakan sesuatu maka katakan saja disini," entah kenapa merasakan genggaman tangan Andrew dan lirikan matanya membuatku tidak berkutik dibuatnya.
"Kau dengarkan apa yang dia katakan," Andrew yang kini merasa bangga karena Luna mengikuti apa yang dia katakan.
"Oke kalo itu mau kalian aku akan mengatakannya disini, Luna aku tau meski terlambat tapi aku benar benar harus mengatakan ini, sejak pertama kali aku mengenalmu aku sudah jatuh cinta padamu, tapi aku terlalu takut untuk mengatakannya, jadi Luna apa kau bisa menerimaku," ucap steve dengan penuh keseriusan di tiap kata nya.
Andrew menggenggam erat tangan ku, dan kenapa aku seolah merasakan sebuah kecemburuan di hatinya, aku melihatnya menatap dingin kearah Steve, sedang Steve tetap fokus melihat kearahku menantikan jawaban dari ungkapan perasaannya.
"Steve selama ini aku hanya menganggap dirimu sebagai temanku saja dan tidak bisa lebih dari itu, aku memiliki sebuah kehidupan di masa lalu ku dan aku tidak bisa mengabaikan itu, aku berterimakasih atas semua kebaikanmu selama ini, tapi maaf aku benar benar tidak bisa menerima perasaanmu itu padaku, aku harap setelah ini kita bisa tetap berteman seperti dulu," Aku tau meski dia begitu baik tapi bagiku dia tetaplah seorang teman dan tidak lebih dari itu.
__ADS_1
"Jadi kau benar benar akan memilih masa lalumu, dan mengabaikan kehidupan yang telah kau jalani selama 5 tahun ini?" Tanya Steve yang kecewa dengan jawaban Luna.
"Aku memiliki seorang putri dan aku tidak mungkin bisa mengabaikannya," aku masih berusaha meyakinkan Steve agar dia mengerti.
"Hanya seorang putri kan? Aku bisa menerimanya sebagai putriku juga jika kau menginginkannya," Steve masih berusaha meyakinkan Luna agar mau bersamanya.
"Kau ini tuli atau bodoh, dia sudah mengatakan tidak ya tidak," Andrew sudah terlihat tidak sabar dengan percakapan mereka berdua.
"Diam kau," Steve menunjuk kan jarinya kearah Andrew yang memicu kemarahan Andrew.
Tanpa basa basi Andrew melayangkan pukulan kearah Steve dan tepat mengenai wajah Steve membuatnya jatuh tersungkur ke tanah.
"Aku peringatkan kau, dia akan tetap ikut denganku untuk bisa kembali ke masa lalunya, dan kau tidak berhak mengatur ataupun memaksanya," kini Andrew yang terlihat menunjuk nunjuk kearah Steve.
Steve pun bangkit dengan senyum pahit diwajahnya, dia mengusap bekas darah yang keluar dari ujung bibirnya.
"Banyak omong kau," Steve merasa tidak terima dan menyerang balik kearah Andrew.
Perkelahian kedua pria itu pun tidak terelakan, mereka saling pukul satu sama lain membuatku merasa tambah gila mengahadapi kedua pria ini.
"Cukup," teriakku, tapi mereka tidak mendengarkan ku.
Rey keluar dari rumah begitu mendengar suara keributan, dia juga nampak bingung dengan apa yang terjadi.
"Rey, bantu lerai mereka," perintahku.
Rey menahan Andrew dan aku mencoba menahan Steve.
"Cukup, aku bilang cukup apa kalian tidak mengerti," teriakku lagi.
Akhirnya mereka berdua pun berhenti, dan aku pun mulai kesal dengan sikap keduanya.
"Pergi atau tidak ini adalah keputusanku, kalian tidak perlu berkelahi seperti ini," ucapku yang melempar pandangan kearah steve juga ke arah Andrew.
"Steve keputusan ini adalah keinginanku, jadi tidak akan ada yang bisa merubahnya." ucapku pada Steve.
Dia menatapku dengan rasa tidak senang, lalu dia merapikan pakaiannya dan beranjak pergi dari sana, aku sendiri tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi kehidupanku yang tiba tiba saja menjadi serumit ini.
__ADS_1