PACAR BRONISKU

PACAR BRONISKU
Bab 76


__ADS_3

Setelah usai sarapan Andrew mengantar Jihan dan Rey, untuk Rey sendiri Andrew harus mendaftarkannya terlebih dahulu, Rey masuk di kelas 6 dan Jihan berada di kelas 3, mereka berada dalam satu sekolah.


"Jihan kau masuk kekelas terlebih dahulu, papa akan mendaftarkan Rey, oke.." perintah Andrew pada Jihan, dia mengusap kepala gadis kecilnya itu.


"Baik, bye papa," Jihan nampak senang, tapi dia tidak berpamitan pada Rey, dia langsung pergi begitu saja.


"Kak Andrew, sepertinya dia tidak menyukaiku," ucap Rey yang memandang Jihan berlalu.


"Hei jangan patah semangat, dia memang awalnya seperti itu, tapi dia juga anak yang baik sepertimu, kau sebagai seorang pria harus bisa lebih bersabar padanya," Andrew memberi nasehat.


"Aku mengerti," Rey mengiyakan.


PERUSAHAAN ANDREW


Setelah selesai mengurus semuanya akhirnya Andrew Kembali ke perusahaan, Miko sudah disana menunggunya bagaimanapun di sudah mengganti tempat Andrew selama dia pergi.


"Akhirnya kau kembali," Miko nampak bersemangat, dia sudah tidak perlu lagi mengurusi pekerjaan Andrew.


"Iya, terima kasih karena sudah banyak membantuku," ucap Andrew, dia kemudian duduk di kursinya.


"Jadi kau berhasil membawanya kembali?" Tanya Miko.


"Ya," Andrew tersenyum senang.


"Bagus sekali," Miko bis merasakan kebahagiaan Andrew, bagaimana pun dia sudah menemaninya selama bertahun-tahun dan dia tau betul bagaimana sikap dan sifat temannya itu.


Setelah kembali ke kota Luna hanya berdiam diri di rumah, dia masih tidak tau harus apa, baginya lingkungan itu rumah itu semuanya dia tidak mengenalnya.


"Julia, eh maksutku Luna, apa yang kau lakukan disana?" Tanya bibi May yang melihat Luna sedang berdiri di samping kolam ikan di samping rumah mereka.


"Tidak ada, hanya mencari udara segar, kalo bibi merasa susah memanggil nama baruku, panggil saja dengan nama lamaku," pinta Luna, dia tau akan susah bagi mereka yang terbiasa memanggil dirinya dengan namanya yang sekarang.


"Iya, maaf ya," ucap bibi May dengan senyum diwajah tuanya itu.


"Kue apa yang disukai Jihan, bagaimana jika kita membuat nya sebelum dia pulang," pinta Luna penuh semangat.


"Dia suka apapun yang berbau strawberi, mungkin kita bisa membuat kue rasa itu," bibi May tak kalah semangat.


"Oke,"


Mereka pun pergi kedapur, dan sibuk membuat kue untuk Jihan, Luna hanya ingin menyenangkan hati gadis kecilnya, berusaha mengingat masalalunya.


SEKOLAH JIHAN DAN REY.

__ADS_1


Jihan sedang berjalan dengan kedua temannya Chika dan Selly, hingga mereka melihat kerumunan siswi putri di sebuah bangku taman sekolah mereka.


"Ada apaan sih? Ramai sekali?" Tanya Chika penasaran.


"Ga tau juga," jawab Selly yang juga penasaran, sembari mengangkat kedua bahunya sedikit.


"Hei tunggu, sini bentar," Panggi Selly pada seorang siswi yang nampak ingin berlari kearah kerumunan itu.


"Iya apa?" Tanya siswi itu yang langsung berlari.


"Ada apa disana? Kenapa ramai sekali?" Tanya Selly.


"Oh...Ada siswa baru kelas 6, dia tampan aku penasaran dan mau melihatnya," jawab siswi itu penuh semangat, lalu pergi begitu saja meninggalkan Jihan dan yang lainnya.


"Siswa tampan?" Selly penuh tanda tanya.


"Ah, itu pasti dia, caper," gumam Jihan dalam hati.


"Bagaimana kalo kita lihat?" Chika nampak semangat juga.


"Lihat apa? kita masih anak-anak ngapain juga heboh seperti itu, ayo kekantin," Jihan langsung menarik kedua lengan temannya itu, belum sempat mereka pergi, dari kejauhan Rey melihat Jihan dan memanggil nya secara langsung.


"Eh tunggu," Shelly berusaha menahan.


"Ketahuan," gumam Jihan dalam hati.


Akhirnya mereka berhenti disaat Rey memanggil dan berjalan kesana.


"Eh, dia mengenalmu?" Tanya Chika berbisik di telinga Jihan.


"Iya, ayo menoleh,". kata Shelly.


"Ga usah," Jihan menahan kedua tangan temannya.


"Jihan, kalian mau kemana? Aku tidak ada teman, boleh bareng kamu ga?" Tanya Rey.


jihan berbalik dan menoleh kearah Rey, lalu dia melirik kebelakanga Rey yang masih terlihat beberapa siswi berkumpul memandang kearah Rey dan dirinya.


"Ga ada teman, nah tu apa? Berjibun gitu," jawab Jihan jutek.


Rey menoleh kearah belakangnya lalu melihat kearah Jihan lagi.


"Aku tidak tau kenapa mereka seperti itu, tapi aku tidak kenal mereka," jawab Rey polos.

__ADS_1


"Bodoh amat," gumam Jihan kecil, dia berbalik lagi bermaksut meninggalkan Rey, tapi Chika dan Selly langsung menggandeng Rey.


"Ayo ikut kami kak, kita teman Jihan Lo," ucap Chika yang sudah memegang tangan kanan Rey.


"Iya, abaikan kata Jihan, udah ikut saja," imbuh Selly.


"Kalian," Jihan nampak kesal, lalu dia mengabaikan kedua temannya itu dan berjalan terlebih dahulu.


Rey merasa bingung kenapa sikap Jihan seperti itu, dia hanya ingin lebih dekat dengannya karena Jihan adalah anak dari kakak angkatnya.


Dikantin Rey duduk di himpit kedua gadis kecil yang umurnya dibawahnya, Jihan yang duduk di depannya terlihat kesal, dia hanya mengaduk aduk makanannya sembari menatap kearah kedua temannya yang masih kecil tapi terlihat centil itu.


"Kak Rey, kakak dari mana?" Tanya Chika.


"Iya, bagaimana bisa kenal Jihan?" Imbuh Selly.


"Itu, kakakku mamanya Jihan," ucap Rey.


Jihan langsung melirik kearah Rey, sampai detik itu dia belum menerima Rey sebagai anggota keluarganya.


"Kakak angkatmu, bukan kandung," Jihan protes dengan nada membentak.


Selly dan Chika langsung menatap kearah Rey lalu kearah Jihan secara bersamaan, mereka melihat rasa tidak senang dimata Jihan terhadap Rey, akhirnya kedua teman Jihan itu diam dan membuang muka kearah kanan dan kiri.


Rey manatap Jihan lembut, hanya saja Jihan menatapnya dengan perasaan kesal, Rey terlalu polos untuk menghadapi sikap Jihan.


Setelah pelajaran usai Jihan sudah menunggu Andrew didekat pos seperti biasanya, sedang Rey masih berusaha lepas dari para siswi yang mengikutinya, hingga membuatnya susah untuk berjalan.


Jihan menatap kearah Rey dengan perasaan masih tidak suka, entah kenapa rasa cemburu akan kasih sayang mamanya membuatnya seperti itu.


Mobil papanya sudah sampai didepannya, Jihan pun buru-buru masuk kedalam kekursi depan dan langsung memakai seatbelt nya.


"Dimana Rey?" Tanya Andrew sembari menoleh kearah luar jendela.


"Tuh, masih dikerubungi siswi banyak," Jihan menyilangka kedua tangannya didepan dada.


Andrew melihat perubahan pada putrinya itu semenjak pagi hari, entah kenapa Jihan menjadi pemarah.


"Baiklah, biar papa panggil dia," Andrew mengusap kepala Jihan, tapi Jihan tidak merespon.


Andrew pun turun dari mobil dan berjalan kearah Rey yang tidak berkutik, dia lalu memisah para siswi itu agar memberi ruang pada Rey.


"Baiklah gadis-gadis kecil, biarkan dia pulang oke," ucap Andrew sembari menggandeng tangan Rey.

__ADS_1


Jihan nampak. memperhatikan dari dalam mobil, dia merasa lebih tidak senang lagi, mungkin dia takut kasih sayang untuknya akan dibagi.


__ADS_2