PACAR BRONISKU

PACAR BRONISKU
Bab 65


__ADS_3

PULAU KECIL,KOTA X.


Aku duduk di tepian pantai, merasakan hembusan angin dan mendengarkan deburan ombak, ini sangat menangkan, hingga pria kota itu tiba tiba saja duduk disampingku.


"Ahhh...Disini pemandanganya sangat bagus."Ucap pria itu.


Aku hanya meliriknya, aku heran kenapa dia ini malah sangat senang disini, padahal pria kota seperti dia seharusnya merasa buruk jika harus tinggal di tempat seperti ini.


"Kau nikmati saja pemandangannya."Aku berdiri dan bersiap pergi, lagi pula entah kenapa perasaanku terasa aneh jika dia didekatku.


Pria itu menarik tanganku hingga aku terduduk tepat didepannya, wajah kami terlihat sangat begitu dekat, aku bisa merasakan nafasnya yang berhembus kewajahku, dan jantungku entah kenapa jantungku tiba tiba saja berdetak dengan sangat cepat, seolah olah aku pun tidak bisa mengontrol detak jantungku sendiri, aku segera mungkin memalingkan wajahku dari tatapannya.


"Duduklah disini dan temani aku."Ucapnya yang masih memegangi tanganku.


"Kenapa aku harus menemanimu."Ucapku padanya sambil mencoba berusaha melepaskan tanganku darinya.


"Karena aku ingin kau menemaniku." Dia menatapku, membuatku semakin merasa aku pun tidak tau.


Aku tidak tau lagi harus bagaimana, sepertinya semakin aku memberontak, maka semakin dia tidak ingin melepaskanku, aku pun pada akhirnya duduk disampingnya dengan terpaksa, aku sedikit meliriknya, aku bisa melihat senyuman di bibirnya, matanya terlihat menatap laut lepas, entah kenapa aku malah merasa tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya, dia sedikit menoleh kearahku, dan aku pun segera membuang pandanganku ke arah lain.


"Kau tau, aku dulu pernah mengenal seseorang, dia seorang wanita yang begitu lemah lembut, senyumannya bisa membuat semua pria enggan berpaling darinya, dia suka sekali dengan pantai, dia juga suka makan udang terutama yang gemuk, tempat ini mengingatkan ku padanya."Andrew bicara dengan tatapan yang masih mengarah ke laut.


Apa dan siapa yang dia bicarakan, apa itu pacarnya?Apa dia rindu kekasihnya karena aku menahannya kesini?.


"Aku tidak tau dan aku tidak mau tau apa yang sedang kau bicarakan."Kataku ketus.


"Aku memang tidak ingin kau untuk mengerti, tapi aku hanya ingin kau tau, bahwa dia menghilang 5 tahun lalu, dan dia mempunyai seorang putri kecil yang dia tinggalkan."Mimik wajah Andrew berubah, dia terlihat lebih sedih.


Mendengar ucapannya kenapa aku merasa sakit, seperti ada sesuatu yang terasa aneh dan menusuk di dalam jantungku.


KOTA S,RUMAH ANDREW.


Bibi May masih mencoba membujuk Jihan agar dia mau bercerita, Jihan menangis tapi dia seperti sedikit menahannya.


"Jihan sayang...Apa ada masalah?Apa ada masalah disekolah?"Tanya bibi May sambil mengelus rambut gadis kecil itu.

__ADS_1


Jihan langsung bangun dan memeluk neneknya itu, dia menangis terisak dipelukan neneknya.Bibi May pun bingung kenapa Jihan menangis.


"Ada apa?Kenapa kau menangis seperti itu?"Tanya bibi may lagi.


Jihan bangun dari pelukan bibi may, dan dia menyeka airmatanya.


"Nenek, apa papa jihan benar benar sudah meninggal?"Tanya jihan langsung.


Bibi May pun terkejut, dia heran kenapa Jihan tiba tiba saja menanyakan hal itu.


"Kenapa kau menanyakan hal itu, tentu saja itu benar."Bibi May menjawab dengan suara sedikit terbata.


"Nenek bohong, mama bohong, kalian bohong, jelas jelas papa Jihan masih hidup, kenapa mama bilang sudah meninggal, tadi Jihan melihatnya, Paman Laurent juga bohong, Jihan dengar semuanya, itu papa Jihan."Suara tangisan Jihan terdengar lebih keras.


"Jihan dengar penjelasan nenek, mama dan lainnya tidak bermaksut membohongi Jihan, hanya saja dulu papa tidak menginginkan mama, karena itu mama pergi, dan tinggal disini untuk merawatmu."Bibi May mencoba menjelaskan.


"Nenek tidak bohong?"Ucap Jihan sedikit tenang.


"Iya...Nenek tidak bohong, dan tidak akan bohong lagi."


"Iya, kalo tidak dia tidak akan mengusir mama mu."Imbuh Bibi May.


"Jihan mengerti."Jihan menganggukkan kepalanya.


HARI BERIKUTNYA.


Jihan melakukan aktifitasnya seperti biasa, dia pergi kesekolah diantar Laurent, tapi hari itu menjadi hari yang paling tidak diduga.


Ruang kelas.


"Jihan, pergilah ke Ruang kepala sekolah sekarang." Perintah seorang guru kepadanya.


"Baik bu." Jihan bangkit dari bangkunya, lalu dia meninggalkan pelajaran yang sedang dia ikuti dan keluar dari kelas.


Jihan berjalan kearah ruang kepala sekolah, dia bertanya tanya kenapa kepala sekolah memanggilnya, dia merasa tidak melakukan kesalahan.

__ADS_1


Jihan sudah sampai didepan pintu kepala sekolah, dia memandang pintu didepannya itu dengan perasaan was was dan penasaran, Jihan mengetuk pintunya tiga kali ketukan.


"Masuklah." Suara kepala sekolah terdengar dari dalam.


Jihan membuka pintu perlahan, hingga dia melihat kepala sekolah yang duduk dikursinya. "Bapak memanggil saya." Ucap Jihan.


"Oh iya..kemarilah."Perintah kepala sekolah itu.


Jihan pun masuk dan berjalan kearah meja kepala sekolah, tapi dia tidak menyadari jika ada seseorang lagi disana.


"Ada seseorang yang mencarimu." Kepala sekolah menunjuk kearah sudut ruangan disana yang terdapat sofa untuk menunggu, Jihan terkejut melihat siapa yang mencarinya.


"Kenapa dia disini?"Pikirnya.


Kepala sekolah bangun dari kursinya, lalu dia berjalan kearah Jihan. "Kalian bicaralah, bapak akan pergi keluar." Ucap kepala sekolah.


"Tapi pak.."Jihan ingin menolak tapi kepala sekolah terlanjur langsung pergi.


Jihan melihat kearah pria itu dengan tatapan tidak senang.


"Kita akhirnya bertemu lagi." Ucapnya.


"Ini disengaja." Ucap Jihan ketus.


"Aku tidak menyangka akan melihatmu, bolehkah aku memelukmu." Itu adalah Ken, pada akhirnya setelah menyelidiki dia tau bahwa dia punya seorang putri dengan Julia, Ken berjalan kearah Jihan dan Jihan malah mundur, membuat Ken berhenti melangkah.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Jihan dingin.


"Tentu saja menemui putriku, apalagi?" Jawab Ken.


"Kau ingat jika kau mempunyai seorang putri, lalu dimana kau selama 9 tahun ini tuan, aku tidak punya seorang ayah sepertimu tuan."


"Bukan aku tidak ingat, tapi aku tidak tau, mama mu pergi tanpa memberitahuku kalau dia sedang mengandungmu, kalo aku tau aku pasti tidak akan membiarkannya pergi."Jelas Ken.


"Membiarkan?Maksut anda mengusirnya...Anda mengusir mama ku dan anda bilang anda tidak akan membiarkan pergi, anda sangat pandai bercanda tuan." Jihan tersenyum sinis, walaupun dia pernah merindukan sosok ayah nya yang sebenarnya, tapi setelah mendengar penjelasan neneknya dia merasa tidak ingin dan tidak mau lagi merindukan ayah kandungnya, karena kenyataan bahwa ayahnya sendiri mencampakan ibunya itu sudah sangat menyakitkan bagi seorang gadis kecil sepertinya.

__ADS_1


"Oke..Aku akui waktu itu aku membuat pilihan yang salah, tapi bisakah kau memberiku kesempatan menebusnya, hanya sebagai seorang ayah yang baik untukmu." Ken berusaha membujuk Jihan.


__ADS_2