PACAR BRONISKU

PACAR BRONISKU
Bab 77


__ADS_3

Jihan nampak. memperhatikan dari dalam mobil, dia merasa lebih tidak senang lagi, mungkin dia takut kasih sayang untuknya akan dibagi.


Andrew mengantar Jihan dan Rey kembali kerumah sebelum dia ke kantor. Terlihat Jihan membanting pintu mobil dengan keras dan langsung berlari kedalam rumah.


Andrew nampak terkejut begitupun dengan Rey. Andrew hanya bisa menghela nafas merasakan perubahan pada Jihan.


"Rey jangan di ambil hati sikap Jihan ya, sebenarnya dia gadis yang baik," pesan Andrew pada Rey agar Rey tidak salah paham dengan sikap Jihan.


"Iya kak, aku masuk kedalam dulu," ucap Rey.


"Baiklah,"


Rey membuka pintu mobil dan berjalan kearah rumah. Andrew buru-buru kembali ke kantor karena ada urusan yang harus dia selesaikan.


Jihan langsung masuk rumah dan membanting pintu sekali lagi serta tidak menyapa mama dan neneknya yang berada diruang keluarga.


"Halo sayang kau baru..pu..lang?" Tanya Julia mencoba mengakrabkan diri pada Jihan tapi Jihan nampak tidak menoleh ataupun menjawab sapaan mamanya itu.


Jihan langsung begitu saja menaiki anak tangga dan menuju kamarnya.


Julia dan Bibi May nampak tertegun melihat sikap Jihan itu. Rey nampak berjalan masuk dia terlihat polos dan lugu


kedua tangannya nampak memegangi tali tas ransel yang berada di punggung nya.


"Siang," salam sapa Rey.


"Siang sayang," balas Julia.


"Siang Rey," balas Bibi May.


"Rey, ada apa dengan Jihan? Apa ada masalah?" Tanya Julia pada Rey.


"Rey juga tidak tau, tapi sepertinya dia tidak suka dengan Rey," jawab Rey polos.


Julia dan Bibi May tertegun mereka pun saling beradu pandang.


"Biar aku bicara dengan Jihan," Bibi may bangkit dari duduknya dan bersiap untuk melangkah.


"Tidak bibi, biar aku saja," pinta Julia.

__ADS_1


"Rey kau masuk ke kamarmu ganti baju lalu makan, untuk Jihan kau jangan berfikir yang aneh-aneh, oke," mengusap rambut Rey.


"Iya," Rey mengiyakan.


Julia pun menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamar Jihan.


Begitu sampai di depan kamar Jihan, Julia mengetuk perlahan pintu kamar Jihan.


"Jihan sayang ini mama, apa mama boleh masuk?" Tanya Julia dari luar.


"Masuklah," Jihan menjawab dari balik pintu.


Julia pun memutar gagang pintu kamar Jihan serta membuka kamar itu dan masuk kedalam.


Julia melihat Jihan yang duduk di atas tempat tidurnya masih komplit memakai seragam sekolah nya. Julia pun berjalan menghampiri dan duduk disebelah Jihan, mereka nampak diam sejenak Julia pun harus benar-benar memikirkan kata-kata yang tepat untuk berbicara dengan Jihan.


"Jihan, sebelumnya Mama ingin minta maaf, mama sudah meninggalkan mu dan bahkan sekarang tidak mengingat mu, tapi walau begitu Mama tetap menyayangimu dan akan selalu ada untuk mu, bukan Mama ingin hanya saja Mama benar-benar belum bisa mengingat apapun," Julia mencoba merayu Jihan agar dia tidak beranggapan bahwa dia tidak menyayangi Jihan.


Jihan terlihat masih belum bicara apapun, tapi kedua tangannya nampak menggenggam erat rok yang dia pakai seakan dia menahan sesuatu.


"Jika Jihan mau marah, silahkan marah saja pada Mama, Mama tidak akan menyalahkan Jihan," imbuh Julia.


"Menangislah jika ingin menangis, Mama ada disini untukmu," ucap Julia seraya mengusap lembut kepala Jihan.


"Maaf kan Jihan, Jihan hanya tidak suka jika perhatian Mama di berikan ke orang lain," Jihan masih menangis tersedu-sedu dalam pelukan Mamanya itu.


Julia nampak menghela nafas, dia mengerti perasaan putrinya itu bagaimanapun tidak ada orang yang rela kasih sayang orang yang dia sayangi dibagi ke orang lain lagi, terlebih Jihan sudah lama kehilangan kasih sayangnya jadi wajar saja jika dia merasa cemburu.


"Oke, Mama janji tidak akan memberi perhatian berlebih pada Rey, tapi bisakah kau janjikan sesuatu pada Mama?" Tany Julia, dia ingin agar Jihan mau dekat dengan Rey.


"Apa?" Jihan bangkit dari pelukan Mama nya itu kemudian mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


"Tolong jangan jauhi Rey, dia anak yang baik dan juga selama Mama kehilangan ingatan Rey adalah orang yang selalu menjaga keselamatan Mama, jadi mama harap kau bisa menghargai kerja keras yang pernah dia lakukan untuk Mama," Julia berusaha bicara dengan lembut agar Jihan bisa memahaminya dan tidak lagi bersikap egois.


"Jihan tidak janji, tapi Jihan akan berusaha," ucap Jihan.


"Iya, Mama menghargai itu," Julia membantu Jihan menyeka airmata yang masih sedikit tersisa di pipi putrinya itu.


"Jihan lapar," kata Jihan sembari memegangi perutnya yang sepertinya sudah mulai keroncongan.

__ADS_1


Julia hanya tertawa kecil merasa lucu melihat putrinya itu, dia pun mengajak Jihan untuk turun makan siang bersama.


Sesampainya di ruang makan nampak Rey yang sedang memulai makan, Rey yang melihat Jihan pun nampak terhenti dan menundukan kepalanya sendiri, dia hanya merasa tidak ingin membuat Jihan marah atau menyinggungnya.


Julia terlihat hanya bisa menghela nafas saja, dia tidak tau harus bagaimana mengakurkan dua bocah itu.


"Jihan duduk dulu, Mama akan mengambilkan makanan untukmu," suruh Julia.


Jihan hanya menganggukan kepalanya, kemudian menarik kursi yang ada di depannya serta duduk tepat berseberangan dengan Rey.


Terlihat mereka hanya diam saja, bahkan karena begitu takutnya jika menyinggung perasaan Jihan lagi Rey sampai tidak berani menyentuh makanannya. Jihan memperhatikan Rey dan dia akhirnya menghela nafas panjang.


"Kalau mau makan ya makan saja," ucap Jihan dengan nada rendah, dia mencoba untuk bersabar demi memenuhi janjinya pada Mamanya.


Rey sedikit melirik kearah Jihan dan dia mengucapkan terimakasih. " Terimakasih,"


Julia yang mendengar percakapan itu nampak tersenyum, lalu dia memberikan makanan milik Jihan.


"Sayang ini makananmu," ucap Julia sembari menaruh piring berisi makanan di meja depan Jihan.


"Terimakasih," ucap Jihan sembari tersenyum manja.


"Mama juga membuat kue rasa strawbery, setelah makan nanti dicoba ya," Julia masih terus merayu untuk menenangkan hati Jihan.


"Iya," Jihan nampak senang.


Jihan langsung memakan apa yang disiapkan Mamanya itu, dan Julia pun nampak duduk disebelahnya menemaninya makan. Rey yang berada di seberang meja juga ikut melanjutkan makannya, kali ini Julia sedikit mengurangi perhatiannya pada Rey, dia takut jika Jihan merasa. cemburu lagi.


KANTOR ANDREW


Andrew sudah sampai di perusahaan milik keluarganya, sesampainya disana dia di sambut oleh sekretaris barunya.


"Pak, ada seseorang yang mencari anda, dia ada di ruang tunggu," ucap sekretaris Andrew.


"Tamu? Bukankah aku tidak punya janji bertemu dengan siapapun?" Tanya Andrew heran, dia tidak punya jadwal bertemu dengan Klien manapun tapi kenapa ada yang ingin bertemu dengannya.


"Tapi dia mengatakan harus bertemu dengan anda karena itu penting," lanjut Sekretaris Andrew menjelaskan.


"Oke, aku akan menemuinya," Andrew mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2