
Laurent memberitahu Andrew kalau Jihan sudah kembali, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiran bocah kecil itu yang membuatnya terlihat bersedih dan tidak bersemangat.
Akhirnya Andrew pun mengajak Luna untuk naik keatas menemui Jihan, awalnya Luna agak ragu karena dia belum bisa mengingat apapun, dia hanya takut mengecewakan gadis kecil itu.
Andrew berusaha membuka pintu kamar Jihan, tapi pintu itu terkunci, tidak biasanya Jihan mengunci kamarnya itu membuat Andrew yakin bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran putri kecilnya itu.
Andrew mengetuk pintu kamar Jihan tiga kali ketukan. "Jihan ini papa, apa kau tidur?" kata Andrew, tapi masih belum ada respon, sedangkan Luna sendiri berdiri di belakang Andrew.
"Jihan ini papa, apa kau benar benar tidak mau membuka pintu?" Tanya Andrew lagi, berharap putrinya itu akan membuka kan pintu untuknya.
Terdengar suara kunci diputar, dan pada akhirnya Jihan membuka pintu dia terlihat menundukkan kepalanya wajahnya sedikit merah sepertinya dia baru saja menangis.
"Hei sayang, kau tidak rindu papa?" Tanya Andrew sembari membuka kedua tangannya lebar, siap menerima pelukan dari putrinya itu.
Begitu melihat wajah Andrew, Jihan pun langsung masuk kedalam pelukan pria yang sudah dia anggap ayahnya sendiri, Jihan masih terdengar terisak, dan itu membuat dugaan Andrew benar kalo putrinya itu menangis.
"Hei, kau menangis?" Tanya Andrew yang masih mendekap putrinya itu.
Jihan nampak hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia masih melepas kerinduan karena ditinggal pergi ayahnya itu.
"Jihan, papa punya kejutan untukmu," ucap Andrew seraya melepas pelukannya pada Jihan.
Jihan pun penasaran kejutan apa yang papanya itu siapkan untuknya, Andrew menoleh kearah belakangnya lalu menggandenga tangan Luna agar dia berjalan maju supaya Jihan bisa melihatnya.
"Lihat," Kata Andrew, Luna pun memasang senyum diwajahnya agar gadis yang disebut putrinya itu senang.
Mata Jihan terbelalak ketika melihat siapa yang ada didepannya, dia seperti ingin berteriak dan menangis sekencang kencangnya, Jihan dengan cepat memeluk Luna, dan Luna pun langsung membalas pelukan itu dengan kasih sayang, dia mendekapnya erat, Luna pun bisa merasakan adanya ikatan antar dirinya dengan gadis kecil itu.
__ADS_1
"Mama, akhirnya kau kembali," Jihan menangis sejadinya di pelukan Luna.
"Iya mama sudah kembali," ucap Luna seraya membelai dan mencium ujung atas kepala putrinya itu, lalu dia melempar pandangan kearah Andrew.
Andrew mendekat dan ikut serta memeluk mereka, terlihat begitu harmonis seperti keluarga yang utuh.
Setelah pertemuan itu mereka duduk bersama di dalam kamar Jihan, Jihan terus memeluk mamanya itu seakan tidak ingin melepaskannya.
"Jihan, kata paman Laurent kau tidak ada disekolah disaat dia menjemputmu, kemana kau pergi?" Tanya Andrew mencoba menyelidiki apa yang terjadi dan kemana putri nya itu pergi.
Jihan melepas pelukannya, dan dia duduk dengan benar, Andrew dan Luna nampak begitu serius melihat kearah Jihan.
"Tadi siang aku..." Jihan mulai bercerita.
FLASHBACK SIANG TADI
"Bagaimana kalo kita makan siang dulu?" Tanya ken yang sedari tadi melihat sikap Jihan.
"Tidak perlu, aku tidak lapar," Jawab Jihan ketus.
"Walau kau tidak mau, aku tetap akan memaksa, cari restoran yang enak disini," perintah Ken pada sopirnya.
Jihan hanya memasang wajah kesal dan cemberut, dia tidak menyangka kalo ayah kandungnya ini ternyata type orang pemaksa.
Mereka sudah sampai di sebuah restoran, dan sudah memesan beberapa makanan, Jihan masih saja memasang wajah kesalnya, dan enggan menyentuh makanannya.
"Makanlah walau sedikit," pinta Ken secara halus.
__ADS_1
"Tidak," Jihan memalingkan wajahnya kearah sisi kanannya.
Ken pun manaruh alat makannya, menyandarkan siku tangan kanannya di meja dan telapak tangannya menyangga dagunya.
"Apa sebegitu bencinya kau dengan ayah kandungmu ini?" Tanya ken yang menatap kearah jihan.
Jihan hanya melirik sedikit kearah Ken lalu membuang tatapannya lagi.
"Aku tau aku mempunyai banyak kesalahan, walau bagaimanapun aku hanyalah seorang manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan, dan apa kau pikir aku tidak punya kesempatan lain untuk menebus kesalahanku?" Tanya Ken, dia mengangkat tangannya dari meja lalu dia bersandar pada sandaran kursi, tatapannya masih tertuju pada Jihan saat itu Jihan masih terdiam.
"Aku tau aku salah, tapi apa aku tidak berhak mendapat kesempatan lainnya, aku hanya ingin menjadi pria baik dan ayah yang baik, saat aku kehilangan mamamu aku baru sadar bahwa aku sudah melepas sebuah permata yang indah, dan lebih menyesal lagi saat tau kalau kami memiliki putri sepertimu, mamamu tidak pernah sekalipun memberitahuku tentang keberadaanmu, kalau aku tidak tau apa-apa tentangmu apa aku juga salah? Apa ingin menjadi pria baik pun salah?" Tanya Ken serta ingin menggoyahkan hati bocah kecil itu.
Jihan masih terdiam, walau dia enggan mengakui tapi hatinya sedikit tergerak, walau bagaimanapun sejak dari kecil dia sangat merindukan sesosok ayah kandungnya, meski Andrew sudah mengisi kekosongan hatinya itu tetap saja baginya masih kurang lengkap.
"Jihan, aku tidak akan memaksamu ikut denganku, tapi setidaknya beri aku kesempatan agar aku bisa lebih dekat mengenalmu dan memahami mu, bagaimanapun aku masih ayahmu, tolong beri aku kesempatan menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan," imbuh Ken.
Jihan nampak sedikit merubah ekspresinya, lalu dia mengalihkan pandangannya pada pria yang ada didepannya itu, dia melihat ada sebuah keseriusan di mata pria yang menjadi ayah kandungnya itu, walau awalnya dia membenci pria itu karena telah menelantarkannya dan mamanya tapi tetap saja hubungan antara Ayah dan anak diantara mereka tidak akan pernah bisa dia hilangkan.
"Apa kau janji tidak akan memaksaku juga kau tidak akan menelantarkanku lagi?" Tanya Jihan.
"Aku janji, aku tidak akan memaksamu meninggalkan papamu yang sekarang, aku hanya butuh sedikit waktumu untuk memahami," bujuk Ken.
Jihan nampak berfikir lagi, dia tidak tau apa keputusannya itu benar, tapi pergulatan batin yang dia rasakan menggoyahkan keyakinan yang pernah tertanam pada dirinya tentang ayahnya itu, pada akhirnya dia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya bersama ayah yang selalu dia rindukan selama bertahun tahun itu.
Pada akhirnya Jihan menyetujui permintaan Ken untuk memberinya kesempatan membuktikan kalau dia layak dan serius menjadi ayah yang baik untuknya, setelah itu Ken mengantar Jihan kembali ke rumah Andrew.
FLASHBACK BERAKHIR
__ADS_1
Jihan menceritakan semua pada Andrew, kecuali di bagian dia menerima permintaan Ken lah yang tidak dia ceritakan, dia takut kalau papa nya itu tidak akan setuju, dan itulah yang membuat kebimbangan di hati gadis kecil itu, dia merasa takut membohongi papanya itu tapi dia juga ingin merasakan kasih sayang papa kandungnya, karena itu terdapat pergulatan batin yang kuat dalam hatinya.