
WARNING!!!!!!
CHECK YOUR AGE,
21++ Ya Guys ... yang belum cukup umur jangan baca!!!
*
*
*
*
Julia berjalan pelan dengan menggandeng tangan Andrew menuju kamar yang sudah dipesan khusus oleh Ken untuk kedua mempelai itu, karena seharian memakai High heels membuat betis Julia terasa pegal.
Andrew yang menyadari hal itu pun tiba-tiba membopong tubuh wanita yang sudah berstatus istrinya itu dengan cara ala Putri kerajaan, tentu saja hal itu membuat Julia terkejut namun senang. Julia melingkarkan lengannya ke leher Andrew, matanya terus memandang ke wajah suaminya yang ia rasa begitu tampan dan manis.
Mereka sampai di sebuah kamar yang ditunjukan oleh pelayan resort, Andrew membuka pintu kamar itu dengan satu tangan dan langsung mendorongnya dengan bahunya.
Betapa terkejutnya mereka dengan apa yang sudah disiapkan Ken, ranjang dengan hiasan kelopak mawar merah, view pantai dan kolam renang di depannya.
Andrew menurunkan Julia di atas ranjang dengan perlahan, Julia yang masih melingkarkan lengannya di leher suaminya pun membuat pemuda itu menjadi setengah membungkuk.
"Mantan suamimu ternyata sangat romantis ya!" goda Andrew.
"Cemburu, ya!" goda Julia balik
Andrew merebahkan tubuhnya disamping Julia, ia memiringkan tubuhnya menyangga kepalanya dengan satu tangannya, menatap ke wajah istrinya yang terlihat terus senyum bahagia.
"Untuk apa cemburu? Cemburu mana dia denganku, sedangkan aku sudah mendapatkan wanitanya," balas Andrew.
"Ish ... kenapa kita jadi membahas cemburu," gerutu Julia.
Julia bangun dari tempat tidurnya, ia bermaksud membersihkan diri karena keringat dan panas yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Mau kemana?" tanya Andrew sambil memegangi pergelangan tangan Julia.
"Mandi! Aku merasa sangat lengket," jawab Julia.
Andrew melepaskan genggamannya, melihat istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi.
Alasan Julia ke kamar mandi bukanlah semata-mata hanya karena tubuhnya yang merasa tidak nyaman tapi karena dia takut dan gugup, bagaimanapun itu sudah sangat lama sejak dia melakukan hubungan suami-istri.
__ADS_1
Dengan handuk yang masih membalut tubuhnya, serta rambut yang ia gulung di atas kepala. Julia memandang dirinya di pantulan cermin kamar mandi, mencoba mengatur napasnya yang memang tak beraturan karena gugup, Julia menangkup kedua pipinya.
"Ayolah Julia, kamu pasti bisa!" Julia menyemangati diri sendiri.
Dengan memakai jubah mandinya, Julia akhirnya keluar dari kamar mandi setelah berada di sana selama hampir satu jam. Andrew yang masih duduk di sisi ranjang pun terlihat menatap ke arah istrinya yang sedang berjalan menuju ke tempatnya berada, pemuda itu sudah melepas jasnya serta bisa terlihat kancing kemejanya sudah terbuka beberapa biji.
"Aku akan mandi dulu," ucap Andrew seraya mengecup kening Julia, kemudian ia bergantian masuk ke dalam kamar mandi.
Perlakuan Andrew tentu saja membuat jantungnya berdegup dengan sangat kencang, perasaan gugup dan tersentuh membuatnya tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Ayolah Julia, jangan seperti ini, rileks ... rileks," gumamnya dalam hati.
Julia mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, ia terus menatap dirinya dari pantulan cermin, jelas terlihat rona merah di wajahnya. Hingga ia dikejutkan dengan kedatangan Andrew yang langsung memegang pundaknya, dia terkejut karena dirinya yang tengah berpikir kemana-mana.
Tanpa sengaja karena terlalu gugup dan terkejut, Julia sampai terjingkat dan kepalanya membentur dagu Andrew yang saat itu tengah membungkuk ingin mencium ujung kepala Julia.
"Aw ... aw!" pekik Andrew seraya memegangi dagunya, ia langsung duduk disisi ranjang.
Julia yang tak sengaja pun merasa bersalah, ia membungkuk mencoba untuk melihat dagu sang suami, Julia mengalihkan tangan Andrew agar bisa melihat apa benturan yang tanpa sengaja ia lakukan itu melukai dagu suaminya.
Andrew yang berpura-pura kesakitan pun tampak tersenyum licik, ia langsung menarik tangan Julia dan menjatuhkah tubuh istrinya itu di atas ranjang, mengukungnya serta menguncinya tepat di bawahnya.
Saling mengunci pandangan, suara jantung Julia maupun Andrew terdengar seperti genderang yang bersautan, terlihat rona merah di wajah keduanya, sama-sama malu! Tentu saja.
"Julia," panggil Andrew lirih.
Andrew mencium kening Julia, turun hingga ke ujung hidung dan berakhir di bibir wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Andrew mencium hingga mengulum bibir ranum nan manis milik istrinya itu. Tanpa aba-aba Julia membuka bibirnya membiarkan lidah suaminya masuk dan menjelajah rongga mulut miliknya, saling mengulum, menyesap hingga menggigit kecil bibir keduanya.
Andrew melepaskan ciumannya, keduanya sama-sama mengambil napas. Bisa terlihat keduanya sama-sama merasakan napas mereka yang memburu, Andrew terus memandang manik mata istrinya yang baginya terlihat begitu cantik.
"Bolehkah?" ijin Andrew pada Julia.
Dengan wajah menahan malu, Julia hanya menganggukkan kepalanya. Andrew menarik tali jubah mandi milik istrinya, membiarkan matanya melihat keindahan yang sudah lama ia dambakan.
Andrew menciumi leher Julia, terus turun menjelajahi setiap jengkal tubuh mulus istrinya, hingga ia sampai di dua buah persik yang terpampang bulat tak terbungkus, menyesap pelan dan sesekali menciumi kedua buah itu secara bergantian, membuat sang empu menggeliat geli, merasakan sesuatu yang aneh menjalar di seluruh tubuhnya, iapun mencengkeram sprei yang bisa ia gapai, menikmati apa yang diperbuat oleh suaminya itu kepada buah kesayangannya.
Andrew menggeser tubuh istrinya itu ke tengah ranjang, ia menarik tali jubah mandi miliknya membuatnya terlihat polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Julia yang malu, wajahnya semakin terlihat merona dan panas.
Andrew kembali mencium dan mengulum lagi bibir Julia, tangannya bergerilya meremas pelan buah persik milik istrinya secara bergantian, nafas mereka semakin memburu ketika benda berharga milik Andrew terasa sedikit menempel di perut Julia, jantung berdebar dan nafas yang mulai tak beraturan sama-sama di rasakan oleh kedua insan yang di mabuk cinta itu.
"Julia, bolehkah?" tanya Andrew lagi meminta izin.
Julia lagi-lagi hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Andrew membuka kedua kaki Julia membuat ruang untuk benda berharganya agar bisa menyapa mahkota indah milik istrinya.
__ADS_1
Pelan tapi pasti itu mungkin ungkapan yang pas untuk apa yang sedang di lakukan Andrew, meski ia tahu jika itu bukanlah yang pertama bagi Julia, namun ia tidak ingin menyakiti mahkota indah milik istrinya itu.
Sambil kembali mencium bibir istrinya, Andrew perlahan mencoba menggabungkan benda miliknya dengan mahkota istrinya, sedikit demi sedikit ia mencoba terus mendorong agar bisa masuk sepenuhnya.
Julia sedikit merasakan hentakan di bagian bawahnya, ia menggigit bibir bawahnya mencoba menahan desahan yang hampir lolos dari mulutnya, begitu merasakan hentakan yang sedikit keras, Julia meraih kepala hingga menjambak rambut Andrew yang sedari tadi masih tenggelam di antara dua buah persik yang diciuminya.
Dorongan dengan sedikit hentakan di lakukan oleh pemuda itu, mencoba memberikan kenikmatan yang orang bilang adalah kenikmatan surgawi. Suara desahan akhirnya lolos dari bibir dua insan yang tengah bercumbu itu.
Julia merasakan tubuhnya yang bermandikan peluhpun mendesir hebat. Andrew masih terus melakukan tarik ulur di bagian bawah dengan sedikit pelan, menikmati setiap hentakan yang ia lakukan pada gua terlarang yang sudah sah menjadi miliknya itu.
Hingga di mana Julia memberikan isyarat jika miliknya akan segera selesai, Andrew pun semakin mempercepat gerakan yang sedang ia lakukan, mencoba agar sang istri semakin menikmati setiap gerakan benda miliknya di dalam gua terlarangnya.
Julia akhirnya sedikit mengerang dan mendesah, tubuhnya terasa kaku ia kemudian mencengkeram lengan suaminya menandakan jika ia telah selesai, dan begitu pula dengan Andrew yang terlihat mendongakkan kepalanya, membuat hentakan keras sekali lagi, melepas semua apa yang seharusnya keluar di dalam mulut gua sang istri.
Andrew merebahkan tubuhnya disisi tubuh istrinya, mereka sama-sama tertawa kecil merasakan hangatnya cairan mereka yang telah bercampur, Andrew memeluk erat tubuh polos istrinya itu, menciumi keningnya berulang kali.
"Terimakasih kasih sudah memberikan kebahagiaan tak terhingga untukku," bisik Andrew.
Ia masih memeluk tubuh Julia, menopangkan dagunya ke ujung kepala Julia. Julia pun tampak memeluk erat tubuh Andrew yang sama-sama sudah bermandikan peluh, ia membenamkan kepalanya di dada pemuda yang sudah menjadi suaminya itu.
"Aku yang seharusnya berterimakasih, bertemu denganmu adalah anugerah yang terindah dalam hidupku," bisik8 Julia dalam pelukan suaminya.
Sama-sama tersenyum, akhirnya kesabaran dan keteguhan hati mereka membuahkan hasil yang manis.
*
*
*
Reader: "Thor, kurang panas!"
Author: "ohh ... kurang panas! mau yang panas?"
Reader: "Boleh ... boleh!"đđ
Author: "pergi kedapur cepet!"
Reader: "udah!"
Author: "nyalain kompor."
Reader: "udah."
Author: "ya udah pantengin tu kompor sambil baca ni episode, kan lama-lama panas, wkwkwkkwđđđ."
__ADS_1
Reader: "uaseemm loe Thor!đđđđ
Maaf ya kalau kurang Hot, karena author ga bakat bikin adegan 21++đđđ