Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Di Ujung Tanduk


__ADS_3

Marsel tidak bisa menolak perintah dari bos besarnya, mau tidak mau Marsel harus merelakan pekerjaannya dihandel oleh Vito. Lebih tepatnya menghandle pekerjaan Arjuna, karena itulah yang dilakukan oleh Marsel.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi kembali, menuju kontrakan sang bos muda. Dengan perasaan hati yang gundah, Marsel teterusan bergumam kesal di dalam mobilnya.


.........


Arabela tengah bersiap-siap, untuk datang ke perusahaan sang ayah. Perusahaan yang bergerak dibidang properti, sudah berdiri tegak dan menjadi menjadi perusahaan raksasa hanya perlu waktu 3 tahun. Bela turun dari kamarnya, ia menuju ruang makan yang ada ibunya di sana tengah sarapan.


"Pagi, mah." Ucap Bela, sambil memeluk sang ibu dari belakang.


"Bela, selamat pagi prinsessnya mami." Saut sang mami, lalu ia mencium kening putri kesayangannya itu.


"Mi, Bela mau ke perusahaan papi ya," ungkap Bela.


Sang mami mengangguk, "Ya sudah sayang, hati-hati ya bawa mobilnya," ucap Nacha yang merupakan ibunya Arabela.


"Iya mami, Bela pergi dulu ya." Pamitnya, ia mencium punggung tangan sang ibunda.


Lepas itu, Arabela pergi dan menuju mobilnya yang terparkir di depan rumahnya. Ia mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati, Bela berharap penuh agar ia bisa bertemu dengan Arjuna kembali. Bela berniat meminta maaf, dan bertanggung jawab akan perbuatannya kemarin.


"Tuhan, izinkan aku bertemu depannya sekali lagi saja. Aku ingin meminta maaf, atas perbuatanku yang telah mencelakainya."


17 menit kemudian, akhirnya Bela sampai di perusahaan sang ayahnya. Ia masuk ke dalam, dan disambut hangat oleh resepsionis yang bekerja di sana. Bela menghampirinya, dan bertanya pada mereka berdua yang tengah tugas.


"Selamat siang nona, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu pegawai resepsionis.


"Aku ingin bertemu dengan papi, tuan Sandiaga. Di mana ruangannya? bisa antar aku ke sana?" tanya balik Bela.


"Tentu bisa nona, mari saya antar ke ruangan tuan besar." Sang resepsionis menghampiri Bela, dan tersenyum padanya.


"Mari Nona muda, saya antarkan ke ruangan CEO" sautnya, dan Bela pun menghampirinya dan mengikuti langkah sang resepsionis tersebut.


Mereka berdua masuk ke dalam lift, tak ada percakapan diantara mereka berdua. 


Ting.... Lift itu terbuka, resepsionis itu keluar dan kembali diikuti oleh Bela. Masih tidak ada percakapan diantara keduanya, sampai mereka berdua sampai di ruangan Sandiaga. 

__ADS_1


"Nona, ini adalah ruangan tuan besar. Silahkan masuk, jika tuan tidak ada, kemungkinan besar ia sedang rapat dengan para petinggi." Ungkapnya, Bela mengangguk paham.


"Hmm, baik, terima kasih banyak." Sang resepsionis itu pun menundukan kepala, ia membalas senyuman Bela sebelum ia kembali ke lantai bawah lagi. 


Bela mengentuk pintu tersebut, tok… tok… tok…, tidak ada sahutan dari dalam. Beberapa detik kemudian, terdengar suara dari dalam yang ternyata adalah suara ayahnya yang menyuruhnya untuk masuk. 


"Masuk!." Suara itu terdengar dengan sangat lantang, tanpa basa-basi lagi Bela pun membuka pintu yang tak terkunci itu. 


"Papi… " lirih Bela yang masuk ke dalam ruangannya. 


"Bela, kenapa mendadak sekali, Nak?"


"Aku rindu, Papi. Bagaimana jika kita belajar bisnis? Aku kan akan melanjutkan perusahaan bisnis ayah, ayah kenapa? Apa ayah baik-baik saja? Ayah sudah makan?." 


Sandiaga diberikan pertanyaan yang bertubi-tubi, dari sang putri tercintanya. 


"Papi tidak apa-apa, sungguh. Kau sudah makan? Apa perlu ayah membelikanmu makanan bento kesukaanmu, Nak?" tanya balik Sandiaga 


"Tidak usah, Pi. Bela sudah makan tadi, papi sedang apa?"


Bela duduk di sofa yang berada di ruangan Sandi, matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Meneliti benda dan pictures di sana, Bela terkagum-kagum melihat ke-aesthetic ruang kerja orang tuanya. 


"Pi, siapa yang mendekor ruangan ini?"


GEEEEG, Sandi tersadar. Selama bertahun-tahun lamanya, ia belum pernah mendekorasi ruang kerjanya. Dan lagi, ini adalah pertama kalinya Bela berkunjung masuk ke dalam ruang kerjanya. 


"Entahlah, mungkin para arsitek." Jawab Sandi yang mengasal. 


Tidak mungkin juga kan, jika ia mengatakan yang sebenarnya. "Bela, kamu tunggulah di sini ya sayang. Papi akan rapat dulu sebentar, kamu tidak apa-apa kan?." tanya Sandiaga.


Bela menggangguk pelan. "Gapapa, Pi. Bela di sini aja," jawabnya


"Ya sudah, Bel. Papi pergi dulu." Sandiaga mendadak pergi, dan ia sambil membawa beberapa berkas penting itu.


Bela bingung, ada apa dengan papi nya ini. Sandiaga nampak begitu kesal, dan juga tergesa-gesa. Pasalnya, ada beberapa data perusahaan yang sudah bocor dan malah semakin bocor. Karena itu pula, Sandiaga bergerak dengan cepat.

__ADS_1


Ia nampak kebingungan, akankah ini adalah puncak kejayaannya sebelum ia bangkrut?.


Rapat dadakan mereka gelar, Sandi melihat dilayar monitor laptopnya, saham perusahaan terus menerus turun dengan begitu drastis. Ia memijat pelan pelipis matanya, Sandi sudah kalang kabut dan pusing menyelesaikan masalah ini.


Sedangkan di dalam kontrakan, Arjuna tengah bahagia. Akhirnya ia bisa menjatuhkan ayahnya sendiri, dengan menghack dan mengambil beberapa data-data perusahaan. Hanya dengan berbekal laptop jadul, Arjuna sukses menjalankan misinya.


"Yes, rasakan itu pak tua!"


"Aku akan menari di atas penderitaanmu setelah ini," gumam Arjuna.


Tanpa ia sadari, Marsel sudah kembali lagi ke kontrakannya. Arjuna yang tengah senang itu pun, kembali membukakan pintu untuk Marsel.


"Mengganggu kesenanganku saja," umpatnya.


Dengan langkah yang pelan, Juna menyeret kakinya yang masih terasa nyeri itu keluar.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu, Marsel masih setia menunggu bos mudanya itu membukakannya pintu.


Ceklek... Pintu terbuka, kini raut wajah Arjuna tak nampak seperti yang awal Marsel temui.


"Ada apa kau kembali lagi?," tanya Arjuna serius pada Marsel,


"Ini, bos besar mengirimkan ini untuk bos muda. Bos muda lihatlah, aku yakin bos muda akan tercengang melihatnya," pinta Marsel, Arjuna pun yang penasaran langsung melihatnya.


Berkas yang kakeknya kirim padanya. benar saja, ia tercengang melihatnya. Juna duduk dikursi, dan mencoba memahami setiap kalimat dari tulisan itu.


"Apa ini! apa ini, Marsel! kenapa bisa? bukankah anak haram itu, aku..." Mata Arjuna berkaca-kaca, kenyataan yang pahit memberitahukannya.


Baru saja Juna bahagia, kenapa kabar seperti ini yang ia dapatkan. Tak kuasa menahan air matanya, Arjuna menangis dengan tesedu-sedu. Marsel mencoba menenangkan bos mudanya itu, namun Arjuna melarangnya.


"Bos muda, kenyataan memanglah pahit. Akan tetapi, lebih sakit lagi jika kita bahagia dengan kebohongan. Bersabarlah bos, mungkin ini yang terbaik untuk bos." Ucap Marsel, yang mencoba mencoba menyemangati Arjuna.


"Bos besar ingin bertemu dengan bos muda. Malam ini, bos muda disuruh untuk pulang ke rumah besar," sambung Marsel.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2