
Marsel segera pergi mencari Mika, Mika yang kala itu sedang makan ditarik paksa oleh Marsel.
"Hei kau Mika, ikut denganku ke ruanganku. Aku ada urusan denganmu!"
Mima yang kala itu sedang makan siang bersama Luna, hanya bisa pasrah ketika ia ditarik oleh Marsel. Luna hendak ingin menghentikan tindakan Marsel. Namun Mika melarang Luna untuk mengikut campuri urusannya kali ini.
"Habislah aku, apakah Pak Marsel sudah mengetahui yang sebenarnya?" tanya Mika pada dirinya sendiri di batin.
Marsel mengajak Mika ke ruangannya, padahal Marsel bisa meminta seseorang untuk memanggil Mika agar datang ke ruangannya, tapi kali ini Marsel sendirilah yang akan turun tangan.
"Awas aja kau, aku akan meminta perhitungan padamu!" ketus Marsel di batinnya.
Marsel penyeret paksa Mika, sedangkan Mika yang hanya pasrah, ia pun tak bisa berkutik apapun selain mengikuti apa kemauan Marsel.
Mereka sampai di dalam ruangan Marsel, Mika duduk dan untuk melihat sang atasannya tersebut.
"Apa kau benar Mika!" tanya Marsel dengan tegas , Mika mengangguk pelan. "Benar, Pak. Ada apa bapak memanggil saya, dan menyeret saya ke ruangan bapak?" tanya balik Mika yang sangat ketakutan.
"Kamu bertanya saya membawa kamu ke sini karena apa?" Mika tanggung jawab, "Saya meminta pertanggungjawaban dari kamu, Mika! Jika kamu tidak ingin bertanggung jawab, saya akan melaporkan kamu dan menjebloskan kamu ke kantor polisi, dengan kasus sudah memperkaos saya saat saya lemah!"
Mika syok dan tercengang mendengar perkataan dari Marsel. Kenapa Marsel tahu jika Mika lah yang telah tidur dengannya, Marsel memberikan ponselnya dan memperlihatkan video yang pacar Jessica kirimkan padanya.
Mika mengambil ponsel Marsel dan menonton video tersebut, ia tidak menonton sampai akhir karena ia cukup malu untuk melihat dirinya sendiri.
"Saya bisa jelaskan Pak, ini tidak seperti yang bapak kira. Saya hanya menolong bapak... tapi, saya kabur saat pak Elgara akan datang ke hotel. Saya takut jika nanti saya ketahuan, dan memecat saya. Jika dipecat, saya harus kerja apa?"
Marsel mendengar pernyataan dari Mika, namun tidak sepenuhnya karena Marsel tertuju pada raut wajah Mika yang tampak begitu ketakutan. Seharusnya Mika yang meminta pertanggungjawaban karena, Marsel yang bersalah kepada Mika.
Namun inilah kebalikannya, tingkah Marsel yang seolah-olah dialah adalah korbannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan menjebloskanmu ke penjara ataupun memberitahukan perbuatanmu pada bos muda Elgara. Tapi kau tetap harus bertanggung jawab kepadaku, karena telah mengambil keperjakaanku! apa kata calon istriku nanti jika aku sudah tidak perjaka!" gerutu Marsel
Mika pun hanya terdiam mendengarkan gerutuan dari sang atasannya tersebut.
" Baik Pak Marsel, apa yang harus saya lakukan untuk menebus segala dan juga kesalahan saya?" tanya Mika dengan serius,
Marsel ingin mengerjai Mika dengan mempekerjakan dirinya sebagai pembantu di rumahnya. Namun ia berpikir kembali, jika bekerja sebagai pembantu di rumahnya maka akan ditentangkan oleh kedua orang tuanya.
Sebuah ide gila terlintas di benaknya. Bagaimana dengan menjadikan Mika sebagai pacarnya.
"Jadi pacarku, kita sudah terlanjur melakukan hal tersebut kan. Jadi tidak baik jika kita membiarkan pasangan masa depan kita tahu nanti, akan masa lalu kita yang buruk, baiknya kita menjadi pacar. Dan suatu saat nanti kita akan menikah, bagaimana kau setujukan?"
Mika terdiam, akankah pantas jika Mika yang hanya bekerja sebagai resepsionis, menjadi kekasih seorang Marsel Abian Anggara, seorang sekretaris perusahaan terbesar transportasi ini.
Sangat tidak mungkin bukan, terlebih lagi latar belakang Mika yang berbanding terbalik dengan Marsel Abian..
" Apakah Pak Marsel benar ingin lanjutkan kisah ini menjadi kisah kita?" tanya Mika dengan serius, Marsel pun mengangguk pelan. "Hm, aku serius, untuk apa aku mengada-ngada," ungkap Marsel.
Mika mengangguk pelan, menandakan ia setuju dengan yang Marsel tawarkan.
"Baiklah, sekarang kita sudah resmi menjadi sepasang kasih, kau tidak boleh berkhianat padaku! kita layaknya sepasang kekasih seperti orang biasanya."
Marsel mengatakan hal tersebut, membuat Mika terdiam. Sesungguhnya ia tidak siap untuk memiliki kekasih, akan tetapi jika inilah yang terbaik untuk Mika, dia akan menerima Marsel sepenuh hatinya.
Mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih, meskipun tidak ada rasa cinta di antara mereka namun Marsel akan tetap mencintai Mika, seperti kekasih kekasihnya sendiri walaupun tidak didasari dengan cinta.
"Pak, apakah kita bisa merahasiakan hubungan kita di kantor? maksudku, aku hanya malu saja jika mempublikasikan hubungan kita berdua, terlebih lagi kan keluarga anda yang sangat terpandang, sepertinya tidak sebanding dengan saya yang hanyalah orang biasa." Ungkap Mika
Marsel mengangguk dan ia menerima syarat tersebut, apapun demi bisa bersama dengan Mika.
__ADS_1
"Jika itu mau mu, aku akan menurutinya Mika. Tapi dengan catatan, kau harus siap jika suatu saat nanti aku panggil." Jelas Marsel
Marsel memberikan ponselnya pada Mika, ia meminta Mika untuk menuliskan nomor teleponnya.
"Tulis nomer teleponmu di sana, akan lebih mudah jika aku akan mengabarimu."
Mika pun mengambil ponsel Marsel dan menuliskan namanya, dan juga nomor teleponnya.
"Sudah, Pak." Mika memberikan kembali ponsel milik Marsel, dan alhasil Marsel pun segera mengambil kembali ponselnya dengan tersenyum.
"Ya sudah, kembalilah pada pekerjaanmu lagi." Kata Marsel, Mika pun menurut ia berdiri dari duduknya dan segera berpamitan dengan Marsel.
"Saya izin undyr diri, Pak " Pamit Mika, Marsel hany berdehem pelan. "Hm, pergilah Mika." Mika segera pergi dari ruangan Marsel, beruntungnya tidak ada orang yang mengetahui tentang mereka berdua.
Apalagi tentang insiden kecelakaan malam itu, Mika keluar dari ruangan Marsel, dan Marsel yang kegirangan karena akhirnya ia telah memiliki kekasih lagi.
"Mika tidak akan kubiarkan kau menjadi milik orang lain! hanya aku yang bisa memilikimu, di dunia ini dan di hatimu..."
Ia tersenyum ketika melihat nomor ponsel yang Mika berikan tadi. Mika menamai dirinya di ponsel Marsel dengan nama Mika, namun Marsel segera menggantinya dengan nama 'Kesayanganku♡'.
Tidak ada kata lain untuk menolak, jika memang ini adalah takdir mereka berdua apa salahnya.
"Cepat atau lambat, aku akan segera menikahi Mika. Kau pikir aku rela digantung dengan menunggumu lama, aku adalah pria yang menginginkan kepastian." Cetus Marsel.
Tidak apa-apa jika ia merahasiakan hubungannya dengan Mika, tetapi setidaknya Marsel memiliki Mika, mereka seperti orang yang biasa saja jika di kantor, lain halnya jika mereka berdua sudah di luar kantor.
Tidak ada kata pembatas seperti atasan dan juga bawahan seperti di kantor, jika di luar mereka akan menunjukkan kebucinannya masing-masing. Terlebih lagi Marsel yang benar-benar kembali membuka hatinya untuk Mika, Mika diberatkan oleh dua pilihan.
Ia harus membuka hatinya untuk Marsel, atau menjalani kisahnya ini tanpa cinta.
__ADS_1
... Bersambung ...
Sorry bgt ga bisa crzy up dulu, aku ketiduran mulu kalo siang 😫🙏