Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Hiburan Pagi


__ADS_3

Arabela terisak dalam tangisnya, ia tak bisa pungkiri kenyataan yang pahit ini tentang keluarganya. Setelah Arjuna yang mengatakan sebenarnya, Arabelaa memilih untuk segera pulang dan ingin berbicaradengan ayahnya itu.


Tapi kenyataannya, untuk bertatapan langsung dengan sang ayah saja Arabela tak kuasa.


“Papi, kenapa mami begitu jahat menipu papi…” lirih Bela, ia masih berderaian air mata sedari tadi.


Bela bangkit dari tidurnya, ia melihat ke cermin untuk melihat dirinya yang sekarang. Matanya sembab karena telah lama menangis, Arabela semakin murung dan tak ingin makan.


Suara ketukan pintu terdengar, nampaknya Naracha datang ke kamarArabela. Akan tetapi, Arabela diam tidak menyahutinya sehingga pasti ia akan menganggap Arabela tidur.


“Bel, Bela!” sahut Naracha sambil menggedor-gedor pintu kamar Bela.


Bela tak mempedulikannya, biarkan Naracha lelah sendirinya. Tak lama, suara ibunya telah tak terdengar lagi.


“Mami sudah pergi, syukurlah” ungkapnya.


Ia turun dari ranjang dan hendak akan ke dapur untuk makan, namun saat Bela baru saja membuka pintu kamarnya, Sandiaga hendak akan mengetuk pintu.


“Papi” sapa Bela.


Sandiaga melirik Bela dan tersenyum. “Bel, ada yang ingin papi katakan padamu,” ungkap Sandi dan Bela pun mengangguknya. “Iya, pi. Kita ngobrol di ruang tamu ya.” Mereka berdua turun menuju ruang tamu, sebenarnya ada yang ingin Bela katakan juga pada sandi.


Saat hampir sampai, Bela memberanikan diri untuk bertanya pada ayahnya itu.


“Pi, mami dimana?” tanyanya


Sandi menghela nafas dan menjawab. “Mami baru saja pergi dari rumah ini, dia benar-benar pergi meninggalkan kita berdua. Kalau Bela mau, papi akan pesankan penerbangan ke Amsterdam jika ingin menyusul mami.” Ungkap Sandi, yang membuat hati Bela sangat teriris,


“Bel, sebaiknya kamu susul saja mami kamu. Karena sebentar lagi rumah ini akan disita, perusahaan papi juga sudah bangkrut.” Sandi tidak bisa membiarkan Bela hidup menderita bersamanya, terlebih lagi dia sangat menyanayangi Bela sudah seperti anak kandungnya sendiri.


“Pi… Bela gak mau tinggalin papi sendirian, biarin mami pergi. Kalau perlu, Bela rela jadi istri Elgara demi perusahaan papi jaya lagi.” Ucapan Bela sontak membuat sandi terkejut akan keikhlasan hatinya.


“Enggak, Bel. Kamu harus bekerja keras dan menikah dengan pria yang kamu cintai, bukan karena keterpaksaan Bela!” pekik Sandi, ia juga tak bisa menahan sudihnya yang melandan hati.


“Kalau begitu, Bela telepon Elgara ya. Bilang kalau Bela sedia menjadi istrinya, papi gak usah khawatir. Ada Bela, jangan berpikir Bela bukan anak kandung papi… sudah seharusnyakan, Bela berbakti pada papi…” Tangisan diantara Arabela dan juga Sandi  pecah, tak bisa dipungkiri jika Bela betul-betul menganggap sandi sebagai ayahnya.

__ADS_1


“Bel, Elgara itu Arjuna. Dia anak kandung papi, kamu…” ucap Sandi yang tak kuasa menahan air matanya.


Bela mengangguk. “Iya, pi. Bela tau, mas Elgara sudah menceritakan semuanya saat di kuburan waktu tadi sore.”


DEG! Jantung Sandi berdetak kencang. “Bel, dia mengatakan apa saja?” tanya Sandi,


“Mas Elgara mengatakan semuanya, pi. Dia membawaku ke makan mendiang ibunya, papi pasti tau kan.” Ungkap Bela, Sandi mengacak-acak rambutnya.


“Pi, Bela serius dengan perkataan Bela. Bela tidak apa-apa, kok. Sungguh, dibandingkan harus seperti mami, Bela lebih ikhlas untuk menjadi istri mas Elgara atau Arjuna.” Sambungnya, Sandi semakin merasa bersalah akan hal yang menimpanya impas ke Bela.


“Pi, udah ya. Besok kita bicara 6 mata dengan mas El, papi tidur gih.”


Sandi hanya menuruti perkataan putrinya itu, sampai keesokannya pun telah tiba. Arjuna baru saja bangun dari tidurnya, ia belum sempat melihat layar ponselnya karena langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Sekitar lima puluh tujuh menit Arjuna bersiap-siap, ia akhirnya turun ke bawah untuk sarapan. Langkahnya terhenti, ketika ia melihat layar ponsel yang memberikan 13 pesan tak terbaca dari Arabela.


“Bela mengirim chat pribadi padaku, tumben sekali.”Batin Arjuna, ia pun membuka pesan yang Arabela kirimkan sambil berjalan turun dari anak tangga.


Pesan dari Arabela :


“Selamat malam, apa kau sudah tidur?”


“Aku ingin mengatakan ini padamu, bahwa aku menerima tawaranmu untuk menjadi istrimu”


“Namun, aku juga syarat”


“Kau harus memberikan jaminan dengan mengembalikan perusahaan ayahku”


“Dan, melunasi hutang-hutangnya”


“Apa kau sanggup?”


“Tapi tunggu, bukankah kau yang memberikan penawaran itu terlebih dahulu padaku?’


“Aku tak bisa berkutik, aku menerima penawanmu”

__ADS_1


“Dan lagi, aku sudah mengatakan semuanya pada papi”


“Tentang obrolan kita di kuburan kemarin”


“Aku ingin kita bertemu, di taman kota”


“Apa kau bisa?”


Arjuna membaca pesan tersebut sambil tertawa, kakek Gunawan yang melihat tingkah laku cucu kesayangannya itu pun merasa heran.


“HAHAHAHA, HAHAHAHA” tawa Arjuna yang kencang.


“Juna, ada apa kau tertawa begitu kencang. Seperti sedang kesurupan saja, perbanyaklah beristigfar.” Sahut kakek Gunawan, namun Arjuna hanya cengengesan.


“Hehehe, maaf kek. Pagi ini aku mendapatkan hiburan kecil, apa kakek ingin tahu?” tanya Arjuna.


Kakek Gunawan mengerutkan keningnya. “Hiburan, hiburan apa memangnya?” tanya kakek Gunawan yang begitu penasaran.


Arjuna memperlihatkan layar ponselnya, dimana itu adalah pesan whatsapp dari Arabel. Kakek Gunawan mengambil ponsel milik Arjuna, sedangkan arjuna mulai duduk dikursi dam mengambil beberapa roti untuknya makan.


“Apa kau betul-betul serius padarencanamu, Juna?” tanya serius kakek Gunawan.


Arjuna menganguk pelan.”Iya, Kek. Juna akan segera menikahinya dan merampas perusahan ayah, kakek tak perlu khawatir. Ayah akan segera mendapatkan balasannya karena telah mempermainkan bunda, dn juga telah membuang aku.”


Kakek Gunawan terdiam, ia tak menangggapi perkataan cucu kesayangannya yangsedang sarapan itu.


“Hm, kek. Marsel meminta cuti selama 3 hari, katanya ia ingin istirahat sejenak. Apakah gajinya harus aku potong? Karena ia sudah menyalahkan peraturan perusahaan.” Ungkap Juna, kakek Gunawan menaruh ponsel Arjuna di atasmeja makan.


“Tidak perlu, kakek rasa dia memang membutuhkan istirahat. Kau sendiri tahu, bagaimana kerasnya perlakuan ayahnya Marsel. Kakek saja merasa iba padanya, dibandingkan ayahmu ayah Marsel jauh lebih kejam, Juna!” ucap kakek Gunawan


“Saat umur 5 tahun, nyawanya hampir tidak tertolong karena ditenggelamkan oleh ayahnya. Lantaran ia mematahkan 5 bungkus rokok limited, dan menghilangkan 2 ekor rusa australia. Kakek juga dengar, jika ia akan segera dijodohkan oleh ayahnya.” Sambung kakek Gunawan, Arjuna hanya diam sambil mendengarkanbaik-baik apa yang kakeknya ucapkan.


Marsel ternyata memiliki masa lalu yang buruk dikeluarganya, sekretaris Arjuna yang sangat-sangat pekerja keras, itu menutup luka batinnya dengan berkerja keras agar ia lupa. Arjuna tal menyangka, dibalik wajah dingin Marsel ternyata itu hanyalah topeng semata.


Arjuna melihat jam tangan yang ia pakai, dirasa sudah cukup kenyang. Arjuna akan segera pergi ke kantor untuk berkerja, setelahitu menemui Arabela dan ayah kesayangannya yaitu Sandiaga.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


Kembang kopi comennya, ders. Jangan lupa mampir ke ceritanya babang Marsel ya, judulny ‘Terjebak Oleh Perasaan Yang Salah’ alurnya rada cepet dari nopel abang Juna btw, saran dari othor siapin tissu pas baca pertengahan bab. See you pembaca budimanku, jangan bosen-bosen nunggu updatean selanjutnya.


__ADS_2