
Arjuna mendekati Bela yang tengah minum soda, ia tak tahu jika saudari tirinya itu sedang datang bulan.
“Hai, cantik!” goda Arjuna yang sengaja. Spontan, Arabela terkejut dan menyembur air yang sudah ada di mulutnya keluar dan membasahi jas Arjuna.
Arjuna terdiam, dan hanya memaparkan senyumannya yang kecut.
“Ups, maaf-maaf.” Arabela segera mengambil tisu yang ada di dalam tasnya, dan ia segera membersihkan sisa soda yang ada di jas Arjuna.
“Tidak usah, biarkan saja,” cegah Arjuna. Namun, Arabela tetap membersihkannya walapun Arjuna melarangnya.
“Kenapa kau bisa di sini? Tidak ada kerjaan lagi kah, selain menggangguku?” tanya Bela
Arjuna berdecih, pasalnya ia juga baru tahu jika ada Arabela di sini. “Cih, aku ke sini untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahan pak Burhan. Dan lagi, aku juga baru tahu jika kau juga ada di sini!” jawab Arjuna yang tak suka.
“Oh, kau sendiri?” tanya Bela lagi,
“Heeem, tidak. Aku pergi bersama sekretarisku, tapi entahlah sekarang ia sedang ke mana perginya. Apa kau mau makan terlebih dahulu, aku lihat dessert yang dipajang itu sangat menggunggah selera.” Ucap Arjuna, ia sambil menunjukannya ke depan.
Bela melihat ke arah yang Juna tunjuk, ia menganggukinya yang menandakan bahwa ia setuju untuk pergi ke sana.
“Heeem, ayo ke sana. Aku juga sedikit lapar, hehehe” ungkap Arabela, mereka segera pergi menuju meja yang penuh dengan beberapa makanan manis tersebut.
Dan pesta juga sudah dimulai, Marsel akan mendekati bos mudanya tersebut. Namun kepalanya cukup pusing, mungkin karena cukup banyak kerjaan minggu-minggu ini sehingga membuatnya jarang untuk istirahat.
“Sial, kenapa kepalaku pusing sekali” dengus kesalnya.
“Tuan, anda kenapa?” tanya seorang wanita yang membantu memapah Marsel.
“Tidak ada apa-apa, sepertinya aku meminum minuman berakohol tadi” jelas Marsel, sebuah senyuman terukir dibibir tebal wanita itu.
“Bagaimana jika aku membantumu, tuan? Kau bersediakan?” tanya wanita itu,
“Membantu? Membantu apa maksudmu?” tanya balik Marsel yang tak tahu.
Wanita itu semakin tersenyum dan melihat kesempatan emas di depan matanya. “Ada saja, ayo ikut denganku,” tangan Marsel ditarik olehnya. Namun, Mika yang sedang mencari uang sampingan dengan bekerja menjadi pelayan pengantar makanan. Ia melihat Marsel sedang di tarik oleh Jessica, seorang bintang film dewasa yang cukup terkenal. Apa jangan-jangan, Marsel sedang berada dalam bahaya.
__ADS_1
“Itukan pak Marsel, kenapa ia bersama Jessi si popor? Ada , pak Marsel… Tidak- tidak, berpikir positiflah Mikaily!” gumam Mika
Namun ia kembali diselimuti oleh rasa khawatir, bagaimana pun juga Mika masih memiliki rasa bersalah pada Marsel.
“Kemana perginya, Jessi. Awas saja jika ia pergi membawa lelaki, akan aku habisi malam ini juga.”
Seorang pria berbadan kekar dan penuh tato itu berjalan di depan Mika, Mika tersadar dan memberhentikan pria tersebut.
“Permisi, pak. Apa bapak sedang mencari Jessica Calista?” tanya Mika untuk meyakinkan.
Pria itu mengangguk. “Hm, kau melihatnya? Di mana dia sekarang?” tanya balik si pria itu.
“Tadi saya melihatnya sedang keluar bersama seorang pria, coba kita lihat saja ke luar pak” ujar Mika, yang direspon cepat oleh pria kekar itu.
“Oh, oke.” Pria itu langsung keluar dari gedung, Mika mengikutinya dari belakang.
Nahkan, benar saja. Marsel dibawa pergi oleh wanita tadi menggunakan mobilnya, si pria yang mengetahuinya kesal dan tak percaya jika ia di khianati oleh sang pacar.
“Sial, akan aku habisi pria yang bersamanya itu?!” celetuknya, Mika tersadar jika pria yang dimaksud adalah Marsel.
“Pak, tunggu pak. Saya kenal dengan pria yang pacar bapak bawa, saya yang akan mengurus pria itu” jelas Mika.
“Ya sudahm, kau tunggu di sini. Aku akan mengambil mobil terlebih dahulu, kita akan mengejar bandit itu!” serunya.
Mika hanya bisa pasrah jika ia kena marah pak Burhan, karena telah lalai dalam menjalankan tugasnya. Pria itu pergi itu mengambil mobil, tak lama kemudian ia telah kembali lagi dengan mobil merek BBMWW limited edition.
“Ayo naik” ajaknya, Mika pun segera naik ke mobil mewah tersebut.
Kecepatan mobil sudah tak karuan, Mika mencoba menenangkan dirinya yang tengah kalap ketakutan tersebut. Sepertinya, ajal Mika sudah siap datang untuk menjemputnya.
Mobil milik Jessi berhenti disebuah hotel dekat gedung perayaan pesta pak Burhan, pria itu dengan sangat lihai menyetir mobil dan sangat cepat mengetahui di mana letak keberadaan mobil Jessi. Mungkin karena, didukung dengan fitur lacak yang sangat mewah dan juga mesin turbo mobil. Sehingga, membuat urusan mereka menjadi lebih muda.
“Saat kita sampai nanti, kau ambil priamu itu jika kau tidak mau terjadinya pertumpahan darah malam ini!” pekik pria itu, Mika hanya menunduk takut sambil menjawab pelan.
“Baik, pak. Saya mengerti” ucap Mika.
__ADS_1
Mereka sampai ditempat tujuan, dengan segera pria itu keluar dari dalam mobilnya dengan setengah berlari. Masuk ke dalam, dan menanyakan pada sang resepsionis hotel. Saat Mika menghampirinya, sang pria sudah mengetahui di mana kamar yang Jessica pesan.
“Ayo, kita grebek mereka berdua!” sahutnya, Mika hanya mengikutinya saja dari belakang.
Namun seketika itu, Mika tersadar. Bagaimana jika Marsel dalam keadaan sadar, kali ini benar-benar tamat riwayat Mika.
Kamar 212, pria itu mengetuk pintu dengan keras. Tak ada jawaban ataupun sahutan, ia berniat untuk mendobraknya walaupun akhirnya harus ganti rugi. Holang kaya mah bebas!
1… 2… 3, pintu terbuka dari dalam. Jessica kaget bukan main ketika melihat sang kekasih sudah berada di depan matanya, ia sudah tak bisa mengelak lagi. Kali ini, Jessica sudah tamat riwayatnya.
“Kau?!” gumamnya yang kebingungan.
“Apa, kau sangat berani sekali ya. Berselingkuh di belakangku, ayo pulang!” celetuk pria itu, ia menjewer telinga wanita itu dengan sangat kencang.
“Dan kau, urus pria itu yang berada di dalam” titahnya, pria itu segera pergia dari hadapan Mika dengan membawa Jessica.
Sedangkan Mika masuk ke dalam, ia mencari Marsel yang tengah mabuk itu.
“Pak marsel di mana?” gumamnya yang kebingungan, matanya tertuju pada baju kemeja yang tergeletak di bawah. Ia melihat ke arah ranjang yang sudah ada Marsel sedang terkapar, dengan dada yang terbuka tanpa kain yang menutupinya.
Mungkin, malam ini adalah malam sejarah bagi Marsel dan juga Mika.
Arjuna terlena dalam permainannya sendiri, ia tak mempedulikan tentang sekretaris dan juga asisten pribadinya itu. Ia tengah berdansa dengan Bela, tanpa ia sadari Marsel telah pergi entah kemana.
“Kita belum berkenalan” ujar Arabela
“Benarkah, bukannya sudah ya? Di mini market itu?” ungkap Arjuna’
Arabela menggelengkan pelan kepalanya. “Aku lupa, aku Arabela. Kau siapa?”
“Aku, aku masa depanmu sayang.”
BERSAMBUNG
__ADS_1