
Arjuna berenang dengan cepat untuk menghampiri Arabela, ia tak sadar sedari tadi jika ada hiu di depan istrinya itu.
"Sialan, jangan sampai terjadi apa-apa pada Bela!" batin Arjuna
Ia berenang dengan cepat, dan sang pemandu mereka yang sekaligus menunggu perahu karet mereka, mendayung dengan cepat juga untuk menghampiri Arabela
Namun saat Arjuna sudah dekat dengan Bela, ia memelankab gerakannya, dan juga dengan Bela yang mencoba untuk tenang agar si hiu tidak sadar jika ada manusia di belakangnya.
Bagaimana Bela tidak ketakutan dan gemetar, karena ombak dengan begitu cepat dan juga angin yang bertiup dengan kencang, yang di mana membuat Arabela semakin terseret.
"Dia tidak boleh mati sekarang! aku belum puas untuk balas dendam, dia harus merasakan pahitnya menjadi aku!" batin Arjuna
Juna memeluk Bela dari belakang, ia dengan perlahan membawa istrinya itu agar tidak ketahuan oleh sang prredator laut tersebut.
Siapa yang tidak mengetahui tentang hiu putih, hiu itu sedang berada di dekat mereka berdua. Sang pemandu menghampiri Arjuna dan Arabela .
Arabela dinaikkan ke perahu karet terlebih dahulu setelah itu disusul oleh Arjuna. Nampak raut wajah Bela yang melas, dan lesu pucat menandakan ia tak bisa berkata apapun selain megekprsikan ketakutan ketika melihat ada hiu di depannya tadi.
Bahkan, Bela sempat mengira dia akan habis dimakan hiu hari ini juga.
"Kita pulang ke bibir pantai Pak," sahut Arjuna. Ia mencoba menenangkan istrinya yang bengong itu.
"baik Pak,"
"Tolong cepat ya, aku tidak ingin hiu itu mengejar kita"
"Baik Pak."
Sanh pemandu dan juga penunggu kapal karet mereka mendayung dengan cepat, hanya dia yang mendayung. Seharusnya mereka jika ingin ke tengah pantai, naik perahu dengan mesin saja, tidak usah memakai perahu karet.
Karena perahu karet gampang terombang-ambing oleh ombak.
"Bel, Bela. kau sudah aman, jadi berhentilah bengong."
Arjuna menepuk pelan pipi Arabela, namun Bela masih tak kunjung melihatkan ekspresinya selain bengong saja, ia tak menyangka jika akan seperti ini. Arjuna memakai jurusnya, ia memeluk erat istrinya tersebut dan sentuhan itu menyadarkan bela.
__ADS_1
Bela memeluk Arjuna dengan sangat-sangat erat, ia menangis dan Arjuna hanya mengusap pelan punggung Arabela, mencoba menenangkan istrinya itu.
" Sudahlah, tidak usah kau pikirkan lagi kau sudah aman sayang"
Bela menangis ia tak pernah menyangka bisa selamat untuk hari ini, hanya pelukan dari Arjuna lah yang membuat Bela kembali aman dan nyaman.
Karena sejatinya, sandaran ternyaman adalah pasangan kita sendiri.
Mereka sampai di bibir pantai, Arjuna menggendong Bela dengan ala brida style. Mereka duduk disebuah batang kelapa yang dijadikan kursi, Juna duduk di samping Bela.
"Apa kau ingin makan? " tanya Arjuna, spontan Bela pun menggelengkan pelan kepalanya.
"Mungkin Ibu ingin pulang, Pak. Karena Ibu pasti tahu trauma setelah ini." Sahut si pemandu tadi, Arjuna pun mengganggu.
Ia membelikan Arabela, baju untuk mereka pulang.
"Ya sudah kita pulang saja ya, tapi sebelum itu kita harus mengganti baju kita terlebih dahulu dan makan sebentar. Aku tahu, kau pasti laparkan" ucap Arjuna
"Di sini ada seblak seafood kesukaanmu lho, Apa kamu tidak ingin merasakan rasa seblak seafood itu?" sambung Arjuna, Bea masih terdiam.
"Sayang, jangan terlalu dipikirkan. maaf tadi aku tidak merasakan Kau pergi dari aku, kita lupakan untuk hari ini karena masih banyak hal yang harus kita lewati titik Kau mau kan?"
Pinta Juna, ia menggenggam tangan Bela untuk mencoba meyakinkannya.
"Bapak tenanglah, Ibu pasti masih kepikiran saat berhadapan dengan hiu putih, apalagi melihatnya dari jarak yang sangat dekat di laut. Pasti akan meninggalkan trauma dan rasa takut sendiri" beo si pemandu tadi.
Arjuna tersenyum dalam hatinya, setidaknya ia kali ini berhasil membuat Arabela trauma akan laut.
"Hmm, iya. Semoga saja dia tidak takut akan laut setelah ini."
Arjuna memesan seblak seafood yang terkenal di pantai ini, sudah lama Bela menginginkannya. Namun Sandiaga melarangnya karena Arabela memiliki alergi pada makan makanan laut.
Tak ingin pikir panjang, Arjuna memilih untuk memperbolehkannya agar Bela bisa melupakan kejadian ini. Untuk soal alergi, dan juga gatal-gatal. Biarkanlah itu menjadi urusan belakang bagi arabela. Toh Arjuna kan kaya raya, dia pasti rela mengeluarkan uang jutaan hanya untuk berobat ke dokter kulit.
"Sayang, ayo kita makan seblak dulu. Kau pasti suka" ucap Arjuna.
__ADS_1
Bela hanya menggangguk, setelah mereka mengganti pakaian dan juga menyerahkan peralatan tadi. Mereka berdua lebih langsung pergi, untuk jajan terlebih dahulu sebelum pulang.
Arjuna sampai di tempat makan seblak yang sudah ia booking tadi, mereka berdua makan di dekat dengan indahnya view pantai. Sehingga membuat Bela terkesima pada pantai, walaupun ia sempat sedikit trauma akan kejadian yang tadi
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Itu semua sudah berlalu sayang..." lirih Arjuna, Arabela pun luluh.
Ia hendak akan memakan seblak seafood yang telah Arjuna pesankan itu, Bela tersenyum ketika suapan pertama diberikan oleh Arjuna.
"Makan saja, soal energi biarkan dokter Ferdi yang menanganinya."
Dokter Ferdi, adalah dokter kepercayaan Arjuna. Dia adalah dokter kulit yang sangat profesional untuk mengatasi penyakit kulit, karena itulah Juna sangat mempercayainya.
.........
Marsel tak pernah menyangka, jika wanita yang dulu menodainya ternyata adalah pegawai di perusahaan Arjuna. Mereka sama-sama saling bertemu satu sama lain, akan tetapi Marsel yang tidak tahu sebelumnya jika wanita tersebut adalah Mikaily, seorang resepsionis yang bekerja di perusahaan Arjuna.
"Yang benar saja, ternyata dia! Kenapa dia tidak melakukan tuntutan ataupun, atay meminta kompensasi sedikitpun. Apakah dia benar-benar menikmatinya?!" gumam Marsel, yang sedang melihat rekaman video dirinya dan juga Mika yang tengah melakukan hubungan terlarang
Seseorang mengiriminya video tersebut, dan wajah mereka berdua lah yang ada di sana. Marsel semakin kesal akan Mika yang tidak mengatakan hal yang sejujurnya, sampai pacar Jessica yang mengirimkan video itu sendiri.
Dia meminta permohonan maaf pada Marsel, atas kelakuan pacarnya tersebut akan tetapi Marsel yang berterima kasih kepada pacar Jessica.
Karena berkat dia, dia bisa mengetahui siapa yang telah menodainya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus meminta pertanggungjawaban darinya. Karenanya, aku sudah tidak perjaka lagi!"
Marsel keluar dari ruangannya, dia hendak ingin turun ke bawah mencari si resepsionis tersebut. Namun langkahnya terhenti, ketika ada Sari di depan sedang mengobrol dengan Ina.
Ada rasa sakit di hati Masa ketika melihat sang mantan pacarnya tersebut, bukan karena masih sayang ataupun cemburu pada Ina. Namun karena kenapa dia dulu begitu mencintai Ina, sedangkan Ina tidak mencintai Marsel karena Ina lebih mencintai uang Marsel.
...BERSAMBUNG...
duh mamih belbel jangan death dulu, author belum puas menyiksanya.
Arjuna : "BINI GUA JANGAN DIAPA-APAIN THOR!!!"
__ADS_1