Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Saling Melepas


__ADS_3

Pesta perayaan ulang tahun pak Burhan sangat mewah dan juga megah, orang-orang yang datang bukanlah orang biasa. Melainkan, mereka yang memiliki keterikatan khusus seperti bisnis dan para pengusaha hebat lainnya.


Arjuna dan Arabela berdansa, dengan alunan musik yang begitu merdu. Mungkin inilah yang dimaksud pak Burhan dengan wajib membawa pasangan ke pesta ulang tahun.


"Bela" Sahut seorang lelaki yang sebaya dengannya, Arbela yang sedang berdansa dengan Arjuna pun langsung meliriknya.


"Jahe kampret!" ungkap Bela, ia begitu antusias melihat lelaki tersebut. Namun, tidak dengan Jaemin yang berdengus kesal melihat tingkah laku sahabatnya itu.


"Kau kenal dia?" tanya Arjuna yang memastikan, Bela mengangguk pelan. "Hm, iya. Dia Jaemin, sahabatku." Jelas Bela, Jae mendekati mereka berdua.


"Selamat malam, apa aku mengganggu kalian berdua?" tanya Jaemin untuk memastikan saja, ''Tidak Je, kau sedang apa di sini?" tanya balik Bela.


"Mewakili daddy dan mommy, mereka masih di London dan mungkin akan pulang sekitaran 3 harian lagi" jelas Jaemin


"Oh, apakah ini tuan muda Elgara yang sedang viral itu? aku tak pernah menyangka akan bisa bertemu dengan anda" sambungnya.


Arabela melirik Arjuna, sepertinya ia pernah mendengar nama Elgara tapi di mana?


"Elgara?"


Tak bisa dipungkiri, Arabela pun ingat dengan semuanya. Mulai dari kejadian ia menyerempet motor Arjuna, sampai bertemu lagi di mini market. Ternyata, orang yang selama ini ia umpati setiap malam adalah orang yang sangat berpengaruh, lagi juga sangat menyebalkan.


"Jadi, kau adalah tuan muda Elgara?!" tanya Arabela yang tak percaya, sedangkan Arjuna hanya menganggukinya.


Seolah tak percaya, Bela memijat pelan pelipis matanya tersebut.


"Apa aku sedang bermimpi, sampai menembus langit ke 7?" gumam Bela yang terlihat tak percaya tersebut.


Arjuna tersadar, sekretarisnya telah hilang. Ia tak mempedulikan Arabela dan juga Jaemin, yang harus ia cari kini adalah keberadaan Marsel yang telah menghilang.


"Aku paamit pergi"

__ADS_1


"Kau mau kemana? pestanyakan belum selesai?" tanya Bela, ia melihat Arjuna yang pergi keluar dengan tergesa-gesa.


Arjuna menelepon beberapa kali nomer Marsel, namun tak ada jawaban sama sekali dari Marsel. Arabela yang khawatir pun langsung mengejar Arjuna keluar, sedangkan Arjuna pergi ke parkiran mobil untuk mengecek mobil yang mereka bawa tadi.


"Marsel kemana? mobilnya masih ada? tapi orangnya yangtak ada" gumam Arjuna


"El, ada apa?" tanya Bela yang berhasil mengejar langkah Arjuna, Arjuna membalikkan badannya dan menghadap ke arah Arabela.


Apa ia tak salah dengar, jika saudari tirnya itu barusan mmanggilnya dengan sebutan Elgara?


"Sepertinya sekretarisku memang benar-benar menghilang" jawab Arjuna


"Menghilang, kenapa bisa?" tanya balik Bela, Arjuna barusadar jika kunci mobilnya ternyata ada di dalam saku jasnya sendiri.


"Tunggu, Marsel tidak akan pergi jika kunci mobil masih ada padaku" ungkap Juna, ia kembali menelepon  nomer Marsel yang hasilnya tetap sama saja.


'Bagaimana? apa dia menjawab teleponmu?" tanya Arabela, Juna menggelengkan pelaan kepalanya. "Tidak, dia tidak menjawab teleponku." Jawab Arjuna, kebetulan juga Jaemin baru sampai dan memberikan sebuah ide untuk mereka berdua.


"Bagaimana jika kita lihat cctv gedung ini, mungkin itu bisa membantu kita. Aku akan mencoba mencari pak Anggara, kalian berdua lihat cctv gedung ini dengan baik-baik." Titahnya, yang dimengerti oleh Juna dan Bela.


Namun baru saja selangkah Juna melangkah, nada dering ponselnya berbunyi yang menandakan ada telepon yang masuk. Beruntung sekali, Marsel menghubunginya balik. Arjuna segera menjawab sambungan telepon itu, tapi.


"Halo, kau di mana sialan! aku mencarimu?!" ucap Arjuna dengan nada penuh ketegasan.


"Halo pak... pak Marsel ada di hotel moon, kamar 212. Dia, dia sedang mabuk berat..." Arjuna sontak sangat tekejut, karena yang menghubunginya bukanlah Marsel sendiri tapi itu adalah seorang wanita.


Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangannya. "****! kau tunggulah disana, aku akan segera datang." Sambungan telepon tersebut terputus, Mika yang tadi menghubungi Arjuna dengan nomer Marsel mendadak terdiam sambil melihat tubuh Marsel yang tanpa sehelai benang itu.


"Tidak, tidak boleh. Jika pak Elgara ke sini, habislah riwayatku di kantor nanti!" Mika buru-buru memakai pakaiannya kembali, masa bodo dengan Marsel yang masih terlelap dalam tidurnya. Yang ia perlu selamatkan dahulu adalah reputasinya.


Mau dicap apa nantinya ia di kantor, wanita malam? wanita murahan? tak habis pikir jika nanti Mika akan dibully lagi karena telah mengambil kelelakian Marsel.

__ADS_1


"GAWAT! JIKA PAK ELGARA KE SINI! AKU HARUS CEPAT PERGI!"


Mika hanya menutup tubuh Marsel yang tanpa busana itu hanya dengan selimut, setelah ia memakai kembali bajunya. Mika pergi tanpa rasa bersalah sedikit pun, meninggalkan Marsel sendirian di dalam kamar hotel.


23 menit kemudian, Arjuna datang seorang diri menuju hotel yang dimaksud. Arabela tadinya ingin ikut bersama Juna, namun Arjuna melarangnya. ia sudah yakin jika sudah terjadi apa-apa dengan sekretarisnya itu, tanpa menunggu lama Juna langsung menuju kamar 212 yang dimaksud.


"Marsel" panggilnya, namun tak ada sahutan dari dalam. "Apa yang terjadi di dalam sana," Arjuna segera membuka pintu yang tak terkunci itu, ia tak habis pikir dengan apa yang ia pikirkan ternyata memang benar-benar terjadi.


Arjuna menepuk pelan keningnya dengan tekapak tangan kanannya. "Siapa yang telah berami mengambil kelelakiannya?" Arjuna datang menghampiri Marsel yang masih terlelap dalam tidurnya, telah terjadi pertumpahan darah di kamar ini.


Arjuna pergi menuju kamar mandi, dan segera mengambil seember air dan menyiramkannya ke wajah Marsel. Sehingga membuat si empunya tersedak air, dan terbangun dari tidurnya.


"UHUK! UHUK! BOS MUDA!!!!!" Teriak Marsel yang terkejut, ia melihat dirinya telah ternodai dengan sangat hinanya.


"Kau puas bermain? dan melakukan dosa besar dengan begitu nikmatkan?'' celetuk Arjuna.


Marsel terdiam, merenungi nasibnya yang kini berstatus lelaki tapi bukan perjaka. Membayangkan samar-samar kejadian yang barusan menimpanya, indah namun bencana besar baginya.


"Pakai bajumu, jika kau masih ingin tetap hidup!" Arjuna pergi keluar, ia sangat menggambarkan kekecewaan yang begitu hebat dan mendalam. Tak seharusnya Marsel bisa hilang kendali seperti ini, tapi mau bagaimana lagi jika nasi sudah menjadi bubur.


"Aih, kepalaku sangat sakit" rintih Marsel yang memegang kepalanya yang terasa nyut-nyutan itu.


"Agrh! sial, wanita mana yang sudah mengambil kelelakianku barusan!" celetuk Marsel, ia melihat bercak darah di kamar hotel itu.


"Syukurlah, aku tidak terlalu rugi-rugi amat" gumamnya, Marsel cengengesan melihat noda merah disprei berwarna putih tersebut.


Sama-sama saling melepaskan kelelakian dan kegadisan, namun tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah terlebih dahulu. Biarkan dosa besar ini ditanggung oleh Marsel dan juga Mikaily, hahaha.


BERSAMBUNG


YMMA ( Yang Marsel Mika Ajah)

__ADS_1


kembang kopinya gaes, jangan lupa. Biar eike semangat ngetiknya.


Btw, nopel babang Asel udah ada ya, judulnya Terjebak Oleh Perasaan Yang Salah


__ADS_2