Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Pindahaan


__ADS_3

Pada sore hari itu, Arjuna dan juga Marsel pergi ke kontrakan Arjuna untuk mengambil barang-barang milik Arjuna. Namun sayangnya, Algeria tidak bisa ikut karena ada keperluan mendadak.


Arjuna pun tidak bisa menyalahkan Algeria, ia paham Mungkin karena Algeria kini sedang sibuk mengurus bengkelnya.


"Marsel, coba tolong kau bawakan bingkai foto yang terpajang di dinding itu.'' Sahut Arjuna, Marsel pun mengangguk dan segera melaksanakan perintah dari Arjuna.


Ia melihat foto ibu Arjuna yang terpajang di kontrakannya itu. Foto ibu dan juga anak yang begitu mirip, namun Marsel masih heran kenapa ibu Arjuna pergi meninggalkan Arjuna ketika Arjuna terpuruk sendirian.


Marsel sedikit terpaku pada lukisan yang berada tepat di samping bingkai foto itu, ia tersenyum penuh dan hendak akan menanyaknny pada Arjuna.


"Bos muda, apakah semua lukisan ini juga akan dibawa?" ternyata Marsel yang mencoba meyakinkan Arjuna.


Marsel terpaku pada lukisan yang Arjuna buat, lukisan yang menggambarkan sesosok ibu dan sesosok Ayah yang bahagia. Dan mereka sedang mengobrol bersama, acara pinik kecil-kecilan keluarga versi Arjun.


Lukisan itu menggambarkan keinginan Arjuna, sebuah keinginan kecil yang ingin ia sampaikan kepada kedua orang tuanya yang sudah lama berpisah itu.


''Iya, tolong lukisan Itu juga kau angkut ya!" jawab Arjuna. Ia memasukkan beberapa pakaian peninggalan ibunya untuk dia bawa pulang ke rumah besar.


''Baikk bos muda," sahut Marsel, ia pun segera mengangkut lukisan-lukisan itu dan juga bingkai foto ibunda Arjuna tercinta.


Ponsel milik Marsel terus berbunyi. Algeria memanggilnya sedari tadi. "Marsel, teleponmu berbunyi sedari tadi, kau tidak mengangkatnya?" tanya Arjuna yang melihat ponsel Marcel yang terus bergetar dan berbunyi.


Marsel pun mengambil ponselnya, ia melihat sang penelpon tersebut dan segera ingin menjawab teleponnya tersebut. "Bos muda, aku izin mengangkat telepon dulu ya.'' Pamit Marsel.


"Silakan, tapi kembali lagi ke sini ya'' Jawab Arjuna, Marcel mengangguk paham, ia segera pergi mencari tempat yang cukup tak bising dari sekitaran kontrakkan Arjuna.


Marsel mengangkat teleponnya itu, "Halo, ada apa denganmu, Kak?" ucap Marsel di sambungan telepon tersebut yang bertanya.


"Kau ada di mana Marsel?.'' Tanya Algeria yang balik bertanya pada Marsel.

__ADS_1


Marsel menjawab. ''Aku berada di kontrakannya Bos muda, kau ingin ke sini juga?" tanya kembali Marsel.


Namun Algeria tak kunjung menjawab, sampai akhirnya ia meluapkan kekesalannya ditelepon saat itu juga.


"Tidak, aku membutuhkan bantuanmu. Aku bertemu dengan seorang wanita sialan, dan warga menyuruhku untuk menikahinya,''


''Para warga juga mengira aku dan dia telah melakukan yang bukan-bukan. Kau tahu kan, sebelumnya aku pergi itu karena aku di penjara. Mana mungkin aku membuat anak orang hamil di luar nikah?!''


''Mereka semua sudah gila, menyuruhku untuk menikahinya?! Aku baru saja bertemu dengannya tadi malam dan pagi tadi, warga mendatangiku bersama Pak penghulu juga ke rumahku!"


Pernyataan dari Algeria, membuat Marsel terkekeh geli dengan peristiwa yang ditimpa oleh kakak angkatnya itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana si muka sangar itu, ketik diminta pertanggung jawaban oleh warga atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.


"Lho, bukannya itu bagus Kak. Kalau begitu, kau pasti akan segera menikah sebentar lagi. Usiamu juga sudah akan menginjak 25 tahun, itu adalah usia yang sudah matang untuk pria menikah." Jelas Marsel, namun Algeria malah tak bisa membayangkan kehidupannya setelah pernikaha.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya dia yang begitu kebingungan. "Ya sudah, nikahi saja. Dengan begitu kau juga akan mendapatkan teman tidur nantinya," celetuk Marsel.


"Hei anak bodoh, kau pikir menikah itu gampang! aku tidak bisa menikah dengan wanita yang baru aku temui sehari!" pekik Algeria yang kesal.


Algeria nampak dibuat kesal olehnya, namun mau bagaimana lagi ia harus membantu Cassandra untuk keluar dari akar permasalahan ini.


Marsel masuk kembali ke dalam kontrakan Arjuna, ia mengambil kardus yang sudah berisikan bingkai-bingkai foto dan juga lukisan yang Arjuna lukis itu ke dalam kardus. Ia keluar dari kontrakkan untuk menaruhnya di bagasi mobil, Bang Dimas datang dan melihat kontrakan Arjuna yang sudah akan segera ditinggali.


"Sel, di mane si Juna?" tanya bang Dimas, Marsel pun melirik Bang Dimas dan menjawab pertanyaannya tadi. "Bos muda sedang berada di dalam, mungkin ia masih menyiapkan untuk membawa beberapa barang untuk dibawa pulang ke rumah besar." Jelas Marsel yang menjawab pertanyaan dari bang Dimas.


"Oh, jadi si Juna pulang ye. Bagus deh dia tinggal same kakeknye, jadi kakeknye ade yang nemenin kalau dia pulang ke rumah besar itu." tutur Bang Dimas,


Ia sudah mengetahui kehidupan Arjuna. Jauh sebelum Arjuna mengatakan bahwa dia adalah seorang cucu dari pengusaha besar.


"Iya bang" sahut Marsel

__ADS_1


"Ya udeh, ane nitip si Juni ya. Jangan sampe dia berubah lagi," pinta Bang Dimas, Marsel pun menganggukkan pelan kepalanya.


"Itu pasti Bang, bos muda sudah kembali memimpin perusahaan lagi. Bos besar sekarang sudah bisa istirahat dengan tenang di rumah besar. Jika ada waktu luang, datang saja ke rumah besar bang. Aku yakin bos muda, dan juga bos besar tidak akan keberatan menerima tamu seperti anda."


Dimas tersenyum, ia tak pernah menyangka jika Arjuna yang sudah ia anggap adik sendiri ternyata adalah seorang konglongmerat muda.


"Iye, Insya allah nanti abang dateng main ke sane bawa nasi padang kesukaannya, Juna" sahut bang Dimas yang akhirnya berakhir tawa kecil diantara mereka berdua.


Arjuna keluar dari dalam kontrakkannya itu, ia terkejut melihat bang Dimas yang berdiri di depan kontrakkannya itu.


"Bang Dimas!" sahut Arjuna, ia pun mendekati bang Dimas dan memeluknya.


"Bang, Juna mau pindah ke rumah besar. Abang ikut Juna juga ya," pintanya


"Mane bisa, Jun. Kantor abang yang ada malah makin jauh, ente bae-bae di sana. Kalo ada waktu luang, abang nanti maen" ujar Bang Dimas.


"Bener ya nanti abang mau datang ke rumah besar. Awas aja kalo engga, nanti Juna datengin kontrakkan bang Dimas langsung!" Ancam Arjuna, Dimas hanya terkekeh geli mendengarnya.


"Iye-iye, ente pergi kapan?"


"Setelah ini bang, abang mau ikut?"


Dimas mengerutkan keningnya. "Gile! Ini malam minggu, abang ada janji sama neng Juli. Nanti aje deh, Jun." Tutur bang Dimas.


Arjuna terkekeh geli, ia tak pernah menyangka bisa bertemu dengan orang random seperti Dimas ini.


...BERSAMBUNG...


Hai pembacaku yang budiman, jangan lupa tinggalkan jejak kalian okei. Jangan lupa untuk follow ig author @stmaemunahsr

__ADS_1


Untuk novel babang Alge aku akan up bulan depan 😍 mau liat balok es mencair ga? Eist, tapi janji engga baper sama darting ya 😄


Next kapan-kapan lagi, huhuhu...


__ADS_2