
FLASH BACK ON
Kuala Lumpur, Malaysia, 20 Februari 2000 pukul 3 petang.
”Nisa tolong bantu ambu kejap”
“Baik ambu”
Nisa yang usianya baru 12 tahun membantu ibunya yang kala itu menjadi seorang pembantu di keluarga konglomerat malaysia. Putus sekolah, dan memilih untuk bekerja adalah jalan satu-satunya untuk ia bisa melanjutkan hidup bersama ibunya.
“Ambu, anak tuanku sudah lahir keh?” tanya Nisa
“Entah, tapi anak tuanku malik pasti sangat comel macam ibunya.” Jawab ibu dari Nisa.
“Ambu, Nisa boleh tak nanti main dengannya?”
“Tentu, Nisa juga boleh panggil dia adik kalau tuan malik mengizinkan.”
23 Februari 2000
Sepasang suami istri yang baru saja pulang dari rumah sakit disambut hangat oleh keluarga besar, mereka merayakan kepulangannya dengan menaburkan bunga begitu juga dengan Nisa dan ibunya. Setelah lama menikah, akhirnya sepasang suami istri ini dikaruniai seorang anak perumpuan oleh Allah SWT. Anak yang merupakan rezeki, dan juga titipan yang harus mereka jaga dengan baik.
“Nisa, pergilah ke kamar. Ambu nak layani para tamu tuan malik, banyak kali orang diluar. Nisa tidurlah, besok dah boleh nampak adik kecil.” Ucap ibu Nisa, nisa pun mengangguk dan langsung pergi ke kamarnya untuk tidur.
Ia sangat tidak sabar untuk melihat bayi kecil itu, dan juga akan bermain dengannya suatu saat nanti saat ia sudah besar.
Keesokan harinya, saat Nisa terbangun dari tidurnya ia langsung mencari ibunya. Tapi yang ia liat adalah ibunya sedang dimarahi oleh seseorang dari sambungan telepon, dia adalah renternir yang dulu meminjamkan uang sebesar 25 juta pada ayahnya dengan bunga 50%. Dari itulah, uang sebesar 25 berubah menjadi dua kali lipat banyaknya menjadi 50 juta, sedangkan ibu nisa tidak sanggup untuk membayar hutang mantan suaminya yang kini pergi melarikan diri ke mana.
__ADS_1
“Saya akan bayar pak cik, tolong beri saya 1 minggu untuk melunasinya.”
Nisa hanya terdiam, anak yang sudah baligh di umur 12 tahun hanya menatap ibunya dengan tatapan kosong tak terartikan.
Ayahnya meningalkan hutang dan juga mereka berdua saja di Indonesia. Demi melunasi hutang, dan juga Nisa harus putus sekolah. Mereka akhirnya pergi ke Malaysia, untuk mencari uang di negara tetangga. Sampai akhirnya, ibunya Nisa bertemu dengan tuan malik. Mereka diberi pekerjaan dan juga tempat tinggal yang layak. Tapi, bak seperti pepatah. Air susu dibalas air tubah.
“MAS! Kamboja hilang!” teriak Rose.
Tuan malik yang kala itu baru saja pulang dari kantor, dan juga sangat kelelahan diberikan kabar yang begitu mengejutkan. Kamboja Elfatih Puteri Malik, resmi dinyatakan hilang. Mereka yang berada di dalam rumah juga diperikasa lebih lanjut oleh para penyidik, karena tidak ada hal yang mencurigakan. Dan juga, jika ada yang menculik di dalam rumah maka bisa diartikan orang itu sangat hebat.
Semua orang bisa menebak, jika penculikan itu dilakukan oleh ibunya Nisa. Tapi tim penyidik tidak bisa menemukan titik terangnya, karena saat itu ibunya Nisa selalu bersama dengan nyonya muda. Mereka dibuat bingung, apalagi cctv yang tidak menyala karena mati lampu. Pada saat itu, Rose dan Malik kembali dirundung kesedikan.
Setelah 3 kali keguguran, Rose harus mengetahui kenyataan pahit ini jika putrinya telah dicuri oleh orang luar. Dengan dibantu oleh orang dalam, siapa lagi jika bukan Nisa. Karenaa ibunya yang selalu bersama nyonya muda, maka Nisa lah yang membuka kan pintu belakang agar orang pesuruh itu masuk.
“Maaf… maafkan Nisa adik kecil…” lirih Nisa.
Pencarian itu semakin buntu, dan akhirnya mereka menunda pencarian walapun Malik masih mencarinya denganhati yang tegar. Ia berharap, anaknya bisa ditemukan dan pelaku bisa dihukum dengan seberat-beratnya.
FLASH BACK OFF
Dokter mengambil sempel darah dari Arabela, meskipun sudah meninggal mungkin sel darah Arabela belum rusak karena Bela baru saja meninggal beberapa jam yang lalu.
Mereka menunggu kedatangan tuan Malik, meskipun tak mungkin segera datang tapi mereka masih menunggunya untuk langsung menguji ke labortarium. Jika iya, Arabela adalah Kamboja anak dari tuan Malik. Maka 40% saham ayahnya adalah miliknya, karena ia merupakan anak sulung dari keluarga Malik generasi pertama.
“Aku masih bingung, kasus itu sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tapi kenapa kasus ini baru saja menemukan titik terangnya sekarang?” tanya salah satu dokter ke seorang asisten pendampingnya.
“Karena kasus itu terjadi di Malaysia, Dok. Baru sampai ke indonesai beberapa tahun yang silam, dan juga pelaku sangat spesifik memberitahukannya. Yang kita tahu, dari dulu memang banyak dan bersebarnya penculikan dan pengambilan organ dalam manusia untuk diperjual belikan di pasar gelap.”
__ADS_1
Sang dokter mengangguk, mungkin polisi Malaysia juga menganggap seperti itu. Jika anak dari tuan malik telah diculik dan dijual ke pasar gelap, kasus penculikan terutama penculikan anak sangat maraknya pada tahun silam.
“Aku harap, kasus seperti itu tidak akan lagi terjadi.” Gumam sang dokter, sambil melihat tubuh Bela yang semakin pias dan juga rasa sedih yang menyelimutinya.
Pertemuan antara anak yang hilang dan juga keluarga harus berakhir bahagia. Tapi bagaimana jika seperti ini? Apakah mereka akan bahagia? Mungkin iya, tapi tidak untuk waktu yang lama.
Tuan malik segera terbang ke indonesia menggunakan jet pribadi miliknya, begitu juga dengan Istri dan putranya. Mereka memberitahu keluarga di Amsterdam untuk berangkat langsung ke Indonesia, tuan malik akan segera sampai karena jarak dari Malaysia ke Indonesia cukup dekat jika menggunakan jet pribadi.
Ia tak perlu resah tentang jadwal penerbangan, sedangkan istri dan juga anaknya mungkin akan sampai tengah malam.
Drt… Drt… Drt… suara pesan masuk
Alge baru saja sampai di rumah sakit setelah menemui Afriska tadi di café. Ia mendaatkan sebuah pesan masuk. Tapi ia tak langsung membukanya, mungkin itu adalah operator yang sedang mempromosikan paket data internet.
Sampailah ia di depan ruangan kakek gunawan, dan ia masuk begitu saja. Berharap, bos besarnya itu bangun dan menerima kenyataan ini yang sedang ia jalani.
“Sayang.”
Alge melihat Sandra yang tengah main hp Marsel, ia nampak seperti anak kecil jika Marsel lihat. Tapi tidak untuk Algeria yang sangat menyayangi Sandra dengan sepenuh hatinya, ia pun mengeluarkan ponselnya untuk nanti bisa Sandra mainkan.
Tapi saat Alge membuka lockscreennya, sebuah pesan muncul dibar paling depan.
XXX : [We Are Comback, big bos!]
Pesan singkat yang mampu membuat Alge mengucurkan keringan dingin, bagaimana tidak. Siapa yang mengubungi Alge, sedangkan ia tidak pernah memberikan nomernya pada siapa pun kecuali orang-orang terdekatnya.
Bersambung
__ADS_1