
“Maaf Nona Arabela. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung anda. Saya hanya ingin tahu saja..." lirih sang mandor.
Ia merasa tidak bersalah sedikitpun, karena sedari tadi menanyai perihal Bela. Namun sangat berbeda dengan Arjuna yang tidak merasa bersalah sedikitpun. Karena istrinya yang memang adalah saudari tiri dari awal.
“Tidak apa-apa, Pak. Apa yang dikatakan kakak saya itu benar, saya memanglah adik tirinya."
Arabela tersenyum, ia menahan rasa pedih yang teramat sakit di batinnya. Apa yang dikatakan Juna itu seolah membuatnya tersadar tentang Apa status dirinya yang sebenarnya. Sampai Si Bibi yang punya warung menghampiri mereka, dan memberikan mereka minuman berupa kopi dan juga teh hangat untuk Bella.
Dan juga makanan khas dari orang sana opak, batagor dan juga beberapa makanan yang lainnya. Si bibi tukang warung melihat Bela. Ia begitu terpesona melihat Bela yang begitu cantiknya natural, sampai tak bisa mengalihkan pandangannya.
"Ini teh siapa namanya, cantik pisan euy…" ucapnya, umurnya tidak terlalu tua kisaran di umur 40 tahunan.
Arabela tersenyum." Bela, bu.” sahut Bela, sambil tersenyum kepada si bibi tukang warung
“Cantik pisan, orang luar negeri apa blasteran neng?" tanya kembali sang bibi tersebut
“Oh, saya asli orang Indonesia Bi.” jawab kembali Bela. "Atuh Rahmat, si neng cantik ini teh atuh jangan di sini, kasihan itu kepanasan. Si aa juga diem aja, lihat tuh pipinya juga udah merah pasti ini. Orang bule, enggak bisa kepanasan. Apalagi blesteran Indonesia sama Belanda.”
Arjuna hanya menggeruk tengkuknya yang tak terasa gatal, semenjak ia mengobrol dengan si mandor tadi ia tak memperhatikan Bela yang sedari tadi memang sudah kepanasan, tak hanya wajahnya tapi juga hatinya.
“Hehe… habisnya dia diam saja Bu. Bela, jika kau ingin pergi mencari suasana pedesaan pergilah. Aku akan di sini dengan mandor akan membicarakan tentang proyek pembangunan, aku takut jika nanti kau bosan.” Ungkap Arjuna, Bela mengangguk ia melirik sang Libi tersebut.
“Bi, di sini ada pemandangan tidak?” tanya Bela, si bibi itu pun tersenyum.
“Atuh, tentu ada neng cantik, di belakang warung Bibi ada sawah dan juga kebetulan kalau siang-siang begini pasti udaranya sangat dingin karena angin." Ucap Si Bibi yang punya warung itu.
Memudahkan untuk driver ojek online nantinya, jika nanti mereka akan ngopi maka warung kopi paling terdekat untuk ngopi adalah ya di warung Si Bibi ini.
“Aku mau pergi lihat kak, boleh kan?” tanya Bela, spontan Arjuna mengangguk.
Juna melirik ke arah Marsel yang sedang cengengesan melihat ponselnya, ada apa dengan sekretaris sekaligus asisten pribadinya itu.
“Bi, apa orang itu sudah diberi kopi juga? Aku khawatir jika ia sedang diganggu makhluk aneh, atau makhluk penunggu pohon itu.” Tanya Arjuna, pada si bibi pemilik warung.
__ADS_1
“Udah semua, den. Tenang saja, di sini aman dari gangguan mistis. Bibi juga sudah diberi kopi dan juga gorengan ke kuli. Bibi yakin setelah makan kopi dan gorengan, pasti para kuli kerjanya akan semakin giat dan rajin.”
“Ya sudah bi. Ayo kita lihat pemandangan sawah itu, aku ingin buat instastory untuk di Instagra ku.” Arabela pergi mengajak si bibi, Arjuna dan juga Rahmat si mandor hanya menatapi kepergiannya.
“Tuan muda, kok tuan muda bisa akur sama dia sih? Tuan muda juga ya, yang bantu perusahaan ayah tuan muda kembali lagi berjaya?” tanya Rahmat, sepertinya ia begitu penasaran dengan masalah dikeluarga Juna.
“Iya, sudahlah sekarang sebaiknya kita bahas proyek.” Arjuna mengalihkan pembicaraan mereka berdua, saat Marsel mendekati Arjuna dan juga Rahmat si mandor.
“Bos, waktunya makan siang. Bos muda tidak mau makan? Aku akan pesankan makanan, untuk bos mudadan juga nona muda.” Ungkap Marsel
“Tidak perlu sel, aku masih kenyang. Kamarilah, kita bahasa proyek ini dengan teliti.” Ajak Juna, Marsel ikut bergabung sedangkan Bela tengah mempotret hamparan sawah yang hijau.
Itu semua ia lakukan demi ketenangan hatinya, ia masih sakit sangat sakit.
“Neng cantik, ini seblak sama air dinginnya. Coba dimakan dulu, ini seblak ceker sama tulang paling enak di kampung ini.”
Si bibi tukang warung memberikan Bela makanan khas orang bandung itu, sangat nikmat memang. Makan seblak yang masih panas, dekat dengan sawah yang udaranya sejuk.
“Wah, terima kasih banyak bi. Bela suka, rasanya juga enak.” Puji Bela, si bibi tersenyum.
“Memang benar-benar nikmat.” Gumamnya, ia tak henti-hentinya mengunyah seblak itu.
***
Kuala Lumpur, Malaysia.
“Maaf tuanku, Nisa sudah meninggal ahad kemarin. Awak tak tau, ia ditemukan dengan bersepah darah yang keluar dari mulutnya.”
“Peliklah, kau sudah coba lapor polis keh Jeno?” tanyanya.
“Sudah tuanku, polis cakap die minum racun serangga. Karna, die tau kite nak tangkap. Anak tuanku sudah dijual, saat die pergi ke Indonesia.” Ucap pria berkemeja hitam, lengkap dengan pistol disaku belakangnya.
Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kebanggaannya, tak bisa dipercaya jika ia akan begitu kesulitan mencari wanita yang bernama Nisa itu. Dan lagi, wanita itu telah mengakhiri hidupnya sendiri.
__ADS_1
“Kapan kali terakhir kau nampak, Nisa? Ada gerak gerik yang mencurigakan tak?” tanyanya lagi.
“Iya tuanku, rabu petang ia tak balik ke rumahnya. Kami siasat, die pergi ke kenduri orang kawin, pelik sangat.” Jawabnya yang begitu ambigu.
“Haaaah, dah tuh Jeno. Tak perlu kau siasat lagi, die sudah mati macam mana bisa diintrogasi. Aku risaulah… istriku tak mau pulang ke Malaysia karna trauma.”
Pria itu menghela napasnya panjang, kejadian 23 tahun silam membuatnya menahan sakit dan kenyataan yang pedih untuknya dan juga istrinya.
“Kau tau kan, Rose sayang sangat anak kami. Sekarang, Nisa dah tak ade kita mau cari kemane pula? Tak mungkin mayat mati kau tanyakan.”
“Tak perlu risau tuanku, abangku die pelacak yang hebat aku nak-“
Dia memotong perkataan bawahannya.
“Dah, cepat balik dan kemasi barang-barang kau. Balik lah ke asalmu, aku dah tak bersemangat lagi mencari puteri ku.”
“Eh, tak boleh macam tuh tuan. Saye pasti bisa menemukan anak tuanku Malik.” Ucapnya, meyakinkan bosnya itu.
“Buatlah sesuka hatimu, Jeno. Aku nak balik ke Belanda, nak jenguk anak dan istriku.” Jelasnya, ia berdiri dari duduknya dan mengambil jas yang ia taruh di atas meja.
Ia pakai, sebuah kartu nama jatuh dan membuatnya sadar jika itu adalah milik seseorang.
“Elgara? Macam pernah dengar nama ni, mirip macam…”
“Macam macan tuanku?” celetuk Jeno yang spontan ia diberikan barang yang melayang ke arahnya.
Bersambung.
Teori 1 – Arjuna bisa jadi anaknya tuan Malik
Teori 2 – Bela bisa dimasukan ke katagori anaknya tuan Malik yang dicuri
Teori 3 – Arjuna dan Bela satu nasab
__ADS_1
Nah coba tebak, kira-kira mana yang bener.