Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Pergi Selamanya


__ADS_3

Ingin rasanya bertanya pada Alge siapa wanita yang ikut bersamanya. Akan tetapi, rasa penasaran itu sirnah karen ia harus segera pergi menemui istri dan ayahnya.


“Alge, ayo pergi” ungkap Juna


“Baik.”


Untungnya, Alge cukup mengerti bagaimana cara membawa sebuah helikopter pada dini hari. Walaupun sebentar lagi sudah akan masuk waktu subuh, mereka harus segera pergi ke kota Sanjung dan membuat laporan pada polisi.


Untungnya Arjuna adalah orang kaya, mungkin ia bisa meminta polisi untuk langsung datang ke tengah hutan H yang berada di sebelah kota Sanjung.


“Arjuna, apa yang terjadi memangnya?” tanya Algeria yang penasaran.


“Istriku diculik oleh ibu tiriku, dan apa kau tau. Ternyata Naraca juga bukan ibu dari Arabela, dia sudah mempermainkan ayah dan juga aku.” Jelas Arjuna, rumit memang kisahnya yang satu ini.


“Aku turut kasihan, Juna. Aku dan mantan anggota mafia ku pasti akan membantumu, untuk menyelamatkan istrimu.” Ungkap Algeria, yang membuat Arjuna membulatkan kedua matanya.


“APA! Jadi benar kau dulunya adalah seorang mafia?”


Algeria berdehem. “Hem, iya. Tapi sekarang tidak, karena aku sudah menemukan sebagian hidupku yang harus aku jaga.” Jelas Alge, sambil melirik Cassandra istrinya.


“Apa? Jadi kau juga sudah menikah? Tapi, kau kan-“


“Tenanglah, aku sudah baptis karena ikut kepercayaan istriku.” Jelas Alge, lega rasanya mendengar sahabat besarnya telah bahagia.


“Tapi kenapa kau tidak mengundangku!” ketus Arjuna


“Maaf, karena aku menikah sehari sebelum kau menikah. Dan juga aku tidak memberitahumu karena Sandra beberapa waktu yang lalu mengalami kecelakaan, tapi syukurlah dia baik-baik saja sampai detik ini.”


Alge menatap Sandra yang tepat duduk di sampingya, Arjuna malam itu hanya menjadi nyamuk untuk Alge dan istrinya. Suara helikopter yang berisik membuat mereka cukup sulit untuk berkomunikasi, tapi beruntungnya tidak ada hal yang tidak diinginkan terjadi.


***


Jam sudah menunjukan pukul 5 pagi, Arabela sudah tak sadarkan diri dan saat itu juga, Sandiaga datang seorang diri.


“BELA! BELA!”

__ADS_1


Tidak ada satu pun orang di sana, hanya ada Sandiaga yang datang ke Vila kosong itu. Tiba-tiba, lampu vila menyala dan Sandi segera datang ke arah cahaya lampu itu. Benar saja, jika ada Naraca yang sudah menunggunya. Hanya untuk meminta harta gono gini saat dipersidangan nanti, dasar licik.


“NARA, DI MANA PUTRIKU!” teriak Sandi, ia datang menghampiri Naraca sambil membawa berkas salinan dari berkas yang asli.


“Akhirnya kau datang juga suamiku, aku sudah lama menunggumu … bagaimana jika kita habiskan pagi hari ini seperti hal yang biasa kita lakukan dulu?”


“Cih, tidak sudi aku menyentuh wanita sepertimu. Cepat katakan di mana putriku!” tegasnya, tapi Naraca sudah seperti orang gila saja. Karena, bukannya menjawab ia malah tertawa.


“Hahaha, santai saja. Toh dia juga bukan putri kandungmu juga kan, aku pintar kan?”


Ingin rasanya mencabik-cabik wanita yang berada di depannya ini, saat Sandi mulai emosi ketiga orang suruhan Naraca turun dan memberitahukan keadaan Bela.


“Bos, sepertinya wanita itu meninggal. Nampaknya dia sedang hamil, bos memukul perutnya yang menyebabkan dia pendarahaan dan kehilangan banyak darah.”


Spontan, Sandi terkejut dan langsung naik ke atas tanpa pikir panjang. Bela tergeletak dengan penuh darah disekujur tubuhnya, Naraca benar-benar seperti hewan. Wajah Bela pias, dan juga saat Sandi mengangkat tubuh Bela hawa ditubuhnya sangat dingin.


“Bela, tidak Bela.”


Sandi meletakan kembali Bela, ia mencoba mengecek napas Bela masih menghembus atau tidak. DEG! Hari ini, pukul 5 lewat 5 adalah hari di mana Bela menhembuskan napas terakhirnya.


Naraca dan ketiga pria itu sudah mensiapkan bahan-bahan untuk membakar vila itu. Mereka mengambil bensin dan menyirakannya ke dinding vila, saat mereka lengah ternyata Arjuna dan juga Algeria sudah sampai di hutan sana. Mereka mengepung vila dan juga dibantu dengan anak buah Alge, yang dulunya adalah seorang anggota mafia.


“Berhenti di sana!” ucap polisi tersebut.


Naraca sangat terkejut, begitu jua dengan ketiga pria yang Naraca bayar.


“Bos, kita tertangkap!”


Helikopter mendarat dengan selamat di bawah tanah yang tidak rata. Arjuna segera keluar dari helikopter dan masuk ke dalam vila, ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Arabela dan juga ayahnya.


“Bela! Bela! Ayah, kalian di mana.” Arjuna sudah sangat yakin jika ayahnya ada di dalam sana, karena saat dini hari tadi ia menghubungi Arjuna akan menemui Arabela sendirian.


“Kalian datang terlambat!” celetuk Naraca, ia mengambil korek dan membungangnya.


“MATI KALIAN SEMUA!”

__ADS_1


Dor! Dor! Dor!


Naraca dan ketiga pria itu dihujani peluru oleh polisi, ketiga pria itu berlari ke dalam hutan lagi dan dengan segera bapak polisi yang ganteng mengejarnya.


“Hey, jangan kabur kalian bertiga! Kalian sudah kabur dari penjara sekarang mau kabur dari kejaran lagi.”


Pak polisi ganteng itu langsung mengejarnya, diikuti oleh rekan-rekannya dari belakang. Sialnya, Naraca terkena tembak dibagian bahu dan kaki kirinya.


“Cepat, selamatkan Arjuna dan pak Sandiaga di dalam!” tegas Algeria


“Sangat sulit untuk masuk pak, kita harus panggil pemadam kebakaran. Karena, api yang begitu berkobar-kobar dan cahaya yang kurang di dalam hutan ini.” Jelas si polisi itu, mereka terpaksa menelepon pemadam kebakaran.


Akan memakan banyak waktu jia hanya menunggu saja, Algeria benar-benar frustrasi akan keselamatan sahabat dan juga kedua orang yang Arjuna sayangi. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan mereka sebelum terlambat adalah, dengan masuk ke dalam.


“Aku harus menyelamatan mereka bertiga!” Alge berlari, disusul dengan Sandra untuk menghentikan niat suaminya yang akan masuk ke dalam kobaran api.


Sandra tepat menggenggam tangan Alge, ia menangis dan menggelengkan pelan kepalanya.


“Sandra aku harus menyelamatkan mereka. Kau menjauhlah, aku tidak ingin kau terluka.”


Cassandra tetap menggelengkan kepalanya dengan pelan, lalu ia memeluk Algeria dan menyeret suaminya menjauhi dari kobaran api yang tengah membakar vila.


“Ayah! Bela! Kalian di mana?”


Sampailah Arjuna di dekat anak tangga itu, ia melihat ayahnya membawa Arabela. Namun dengan luka bakar yang ia tahan untuk melindungi mayat Arabela, dengan tatapan kosong Sandiaga begitu saja berjalan dikala api tengah menyala dahsyat.


“AYAH! BELA!”


Arjuna melihat dengan begitu jelas, noda merah yang menempel dirok Arabela itu adalah darah. Seketika itu juga, kakinya mendadak lemas dan raut wajah yang cemas. Ia mendekati sang ayah, yang kini tengah menggendong ala bridal style dan membekap Bela agar wajahnya tidak terkena api.


“Ayah! Bela kenapa ayah?” tanya Arjuna yang khawatir, padahal kemarin ia masih mencueki istrinya dan membiarkannya sendirian di vila.


Sandi diam seribu bahsa, namun matanya menatap Arjuna dengan tatapan yang kosong.


BERSAMBUNG 

__ADS_1


__ADS_2