
Tidak memerlukan waktu yang lama, mereka berdua sebentar lagi akan sampai di kediaman rumah besar itu. Tuan Gunawan yang mengetahui cucunya akan pulang ke rumah besar, ia segera meminta para pelayan-pelayan, yang berada di sana untuk menyiapkan segala kebutuhan Arjuna untuk tinggal di rumah besar ini.
Dan juga, menyiapkan beberapa makanan kesukaan Arjuna. Tentunya, Tuan Gunawan sangat senang yang bukan main. Setelah sekian lama sang cucu pergi dari rumah ini. Akhirnya ia kembali lagi, dan untuk sekian lamanya juga, Arjuna mau bertemu dengan kakeknya lagi.
Pak Samin, yang merupakan kepala pelayan di rumah besar tersebut, meminta para pelayan untuk segera menyiapkan keperluan, dan juga kebersihan rumah besar tersebut. Ia dipercaya oleh Tuan Gunawan, sebagai ketua dari semua pelayan yang ada di rumah besar ini.
"Tuan besar, semua sudah kami siapkan. Ada yang perlu kami tambahkan lagi?" tanya Pak Samin, pada Tuan Gunawan.
Tuan Gunawan sedang merapikan bajunya, agar terlihat rapi di depan cucunya itu. Ia pun menoleh ke arah samping, di mana Pak Amin berdiri dengan kakinya sendiri.
"Apa kau sudah menyiapkan kamar untuk cucuku? kamar yang stylenya sama dengan yang Arjuna sukai?." Tanya balik Tuan Gunawan, Pak amin mengangguk pelan.
"Iya, sudah Tuan. Kami sudah menyiapkan semuanya apa. Ada lagi yang perlu kami bantu, dan siapkan untuk keperluan tuan muda?," ucap Pak Samin.
"Aku rasa tidak ada, perintahkan pelayan untuk berdiri di depan pintu, mereka semua harus menyambut kedatangan cucuku. Setelah sekian lama ia pergi, akhirnya ia kembali lagi untuk pulang." Ujar Tuan Gunawan, yang dimengerti oleh Pak Samin.
Pak Amin mengangguk, dan menundukkan pelan kepalanya dengan rasa hormat. "Baik Tuan besar, saya permisi dulu" pamit Pak Samin, ia pergi dari hadapan kakek Gunawan yang sedang berkaca dibuang tamunya.
Pak Samin kembali lagi pada pekerjaannya, untuk membereskan sisa-sisa pekerjaan yang ada. Dan memerintahkan beberapa pelayan, untuk memberitahukan ke pelayan yang lainnya. Agar mereka berkumpul semua, saat sang pewaris tahta rumah besar ini datang.
Arjuna dan juga Marsel, sudah sampai di halaman rumah besar. Rumah besar itu, memang benar-benar sangat besar. Seperti vila, namun lebih tepatnya bak seperti museum kerajaan.
Dinding pagar yang menjulang tinggi ke atas, membuat Arjuna terkagum-kagum, dengan style elegan yang ada di rumah besar ini.
"Bos muda, kita sudah sampai. Bagaimana dengan perasaan bos muda?," tanya Marsel yang penasaran.
"Entahlah, aku merindukan tempat ini. Namun, aku lebih merindukan kenangan didalamnya." Jawab Arjuna, yang seketika itu membuat Marsel terdiam.
"Maaf bos muda. Aku tidak bermaksud, untuk membuka kembali luka lama bos muda,"
"Tidak apa-apa, Sel. Aku mengerti,"
"Maaf..." Lirih Marsel, mereka sudah sampai di depan. Akhirnya, cucu kesayangannya itu datang dengan wibawanya.
Saat Arjuna baru saja turun dari mobil, Tuan Gunawan sudah berlari kecil dan memeluk cucu kesayangannya tersebut. Tanpa memikirkan rasa malu sedikutpun, ketika di sana ada banyak pelayan yang tengah menyambut Arjuna juga.
__ADS_1
Tuan Gunawan memberikan pelukan hangat pada Arjuna, begitu pula dengan Arjuna yang membalas pelukan dari sang kakek.
"Bagaimana dengan kabarmu selama inu, Nak? apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Kek. Sungguh, aku sangat merindukan kakek."
Mereka berdua merenggangkan pelukannya, "Ayo masuk, kakek sudah menyiapkan makanan kesukaanmu, Nak." Ungkap sang kakek.
"Benarkah? tapi aku tidak yakin jika kakek yang memasak semuanya. Pasti masakan itu dimasak oleh pelayan kan?"
"Heeem, sudahlah. Ayo cepat makan, badanmu sangat kurus kering seperti ini, Juna."
Tuan Gunawan membawa Arjuna masuk ke dalam, para pelayan tersenyum manis pada Arjuna, sebagai tanda selamat datang. Marsel yang melihat tingkah konyol bos besar, dan juga bos mudanya itu hanya tersenyum melihat keakraban mereka lagi.
Sudah sekian lamanya, Tuan Gunawan terus-terusan bersikap arogan. Namun, ketika ada Arjuna. Jangankan untuk bersikap demikian, membentak saja ia tak akan mampu.
Arjuna dibawa ke ruang makan, di mana banyak sekali makanan kesukaan Arjuna.
"Kakek, makanan ini banyak sekali. Siapa yang akan menghabiskan semuanya?" tanya Arjuna yang kebingungan.
"Tenang saja, Nak. Marsel, kemarilah. Jika makanan tidak habis, maka Marsel yang akan menghabiskan semua lauk ini" jawab sang kakek.
"Betul, apa kau suka?"
"Sayangnya, tidak ada nasi padang kesukaan Arjuna."
Arjuna sedikir mengeluh, ia sengaja hanya ingin membuat kakeknya panik.
"Nasi padang?"
"Benar, kakek tidak lupakan? itu makanan favorit Juna..."
Tuan Gunawan menepuk keras keningnya, dengan telapak tangannya. PLAAAAK!
"Maaf, Nak. Kakek lupa, kakek akan minta para pelayan untuk membuatkannya." Tuan Gunawan baru saja berdiri, namun Arjuna dengan segera menghentikan tindakkan sang kakek.
__ADS_1
"Eeeh, tidak usah kek. Juna hanya bercanda, semua makanan ini saja sudah banyak sekali. Juna juga bingung, harus memakan makanan yang mana dulu." Ungkap Arjuna, yang merasa kakeknya sangat-sangat berlebihan.
Namun, salah satu seorang pelayan datang dari dapur. Ia membawa satu bakul nasi, dan paham daun singkong di atas bakul tersebut.
"Maaf tuan muda, nasi padang kesukaan anda telat disajikan."
Pelayan wanita itu menaruh bakul nasi, dan olahan dari daun singkong itu di atas meja makan. Sedangkan kakek Gunawan, ia nampak bersyukur dan menghela nafasnya dengan lega. Akhirnya, permintaan Arjuna bisa dikabulkan.
Sedangkan di dalam lubuk hati Arjuna yang paling dalam, ia sedang mengumpati pelayan wanita itu dengan sangat pedas. Bisa gawat imejnya, Arjuna harus bisa menahan dirinya, dari godaan rendang ayam yang dari tadi sudah menunggunya.
"Semua sudah ada, silakan dimakan, Nak" ucap kakeknya.
Arjuna tersenyum, mereka mengambil lauk masing-masing. Sedangkan si pelayan tadi, ia sudah pergi setelah mengantarkan makanan yang tak terbawa tadi.
"Juna, makanlah. Marsel, kau juga" ucap tuan Gunawan.
"Baik bos besar" balas Marsel.
Mereka makan malam dengan begitu lahap, terutama Tuan Gunawan. Mungkin, karena begitu antusias sendiri ketika mengetahui sang cucu akan kembali. Ia rela melewati makan siangnya, semua itu ia lakukan demi sang cucu kesayangan.
"Arjuna, kakek sudah menyiapkan kamar untuk kau tempati. Setidaknya, menginaplah untuk malam ini" pinta sang kakek.
"Meskipun, kau mau hidup mandiri diluar sana. Tapi, kembalilah ke rumah, kakek selalu menunggumu di depan pintu, menunggu kepulanganmu" sambungnya.
Arjuna terdiam, ia merenungi keegosiannya sendiri.
"Juna akan tinggal di sini kek, untuk menemani kakek" ungkap Arjuna.
Tuan Gunawan menghentikan makannya, ia menghapus air mata yang jatuh dari matanya itu.
"Heem, terima kasih, Nak."
Setidaknya, jika ada Arjuna. Tuan Gunawan tidak teralu kesepian, ia masih memilih cucu kesayangan untuknya agar mengobrol. Walaupun, obrolan itu hanya sebatas obrolan bisnis yang membosankan saja.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1
YANG BACA TAPI ENGGAK LIKE, SAMA KOMEN. SEMOGA BISULAN, AAMIIN. 🤲🏻
jangan jadi pembaca silent, seengganya like krk orang maaah! 😒👊