Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Istri Sah VS Pacar Baru


__ADS_3

Langkahnya terus berjalan, menyelusuri jalan yang ada. Arjuna belum mematikan koneksi lokasinya, itu akan memudahkan bagi Bela untuk mengetahui Arjuna di mana.


Bela melanjutkan jalannya, beruntung desa ini dilengkapi lampu cahaya disetiap jalan apalagi sawah. Ada rasa takut dihatinya memang, ketika ia berjalan tanpa ada satu pun orang atau kendaraan.


"Aku harap, tidak ada bahaya yang membuatku luka nantinya." Gumam Bela, ia masih berjalan sampai kakinya lelah.


Arjuna tidak berpindah, masih di lokasi yang tetap. Justru itulah yang membuat Bela takut, apalagi dengan minimnya sinyal di desa.


"Aku harus cepat, tapi berjalan kaki saja akan cuma sia-sia" ucap Bela.


Suara motor terdengar dari belakang, Bela meliriknya dengan rasa takut.


"Non, mau kemana?"


Itu adalah Rahmat, hatinya senang bukan main dan Bela segera menghampiri Rahmat.


"Mat, lihat bang Juna tidak?" tanya Bela


"Tuan bos... Hm, tau. Tapi tuan bos bilang-"


"Sudah cepat bawakan aku padanya, aku mau bertemu dengannya! Ini sangat penting, apa dia sedang bertemu kekasihnya?!"


Arabela hanya memastikan saja. Jika memang benar, mungkin Bela akan segera langsung ke sana dengan meminta bantuan Rahmat untuk mengantar.


"I-iya, tapi tuan bos tidak mau diberi tahu kemana...''


Bela langsung naik ke motor supra Rahmat, ia menepuk pundak kiri Rahmat dengan tangan kanannya.


"Antarkan aku ke rumah makan saung merah, dia sedang ada di sana. Kau pasti tau kan?" sahut Bela


"Cepat, Mat! Ini sangat penting!"


Rahmat hanya mengikuti apa yang Bela mau, ia pun mengantarkan Bela ke tempat yang dituju. Padahal, Arjuna sudah mengatakan beberapa kali pada Rahmat. Jika Bela jangan sampai tau, dan ia akan segera pulang setelah makan.


"Bagaimana ini, apa tuan muda akan marah. Aku harus membawanya menghadap tuan bos, aku harap tuan bos tidak marah." Batin Rahmat


📌 Rumah Makan Saung Merah


Arjuna dan Afriska sedang makan, begitu banyak makanan yang tersaji di atas nampan. Mereka nampak romantis, bagaimana tidak. Hamparan sawah yang hijau kini gelap, namun diterangi dengan lampu kelap-kelip yang menambah suasana.

__ADS_1


"By, kenapa makan sedikit?" tanya Arjuna


"Apa kamu sedang diet, by? Aku sengaja pesan banyak untuk kamu."


Arabela mengangguk pelan, ia makan dengan pelan. Walaupun, makanan ini cukup murah bagi Arjuna yang berada di kelas atas.


Bela datang dengan Rahmat, ia nampak terburu-buru menghampiri Arjuna dan juga Arabela yang sedang makan.


"Juna..."


Sahutan Bela langsung membuat keduanya menoleh, terutama Arjuna yang begitu terkejut dengan kedatangan Bela yang datang mendadak.


"Bela, kenapa kau datang ke sini? Kau juga, kenapa kau memberitahunya!"


Arjuna terkejut, dan juga ia memarahi Rahmat yang memberitahu Bela.


"Saya hanya mengantar, adik tiri tuan bos yang sangat memaksa!" cetus Rahmat, ia juga kesal karena Arjuna memarahinya.


"Kau, dasar wanita murahan!" tegas Bela, ia menjambak rambut Afriska yang membuat Riska berdiri.


"Bela, hentikan!" celetuk Arjuna, ia memisahkan Arabela dan juga Afriska .


''Agggh!! Lepaskan, sakit!" ringis Afriska.


PLAK! Keras memang, sangat keras sehingga Arabela terhuyung ke bawah dan pipinya memerah. Tapi, Bela tidak meringis kesakitan ia malah tertawa.


"Apa kau puas, Juna?" Arabela segera bangun dan menunjukan kembali pipinya yang merah.


"Apa kau sudah puas, Juna? Ayo tampar aku lagi, sampai kau puas!''


Arjuna marah, bisa-bisanya Bela bersikap seperti itu pada suaminya sendiri.


"BELA!'' Arjuna sudah siap untuk melayangkan tamparan yang ke dua, sedangkan Arabela menatap matanya untuk menahan perih yang kesekian kalinya.


"Tuan bos! Cukup hentikan!" Rahmat menghentikan tangan Juna yang akan menampar kembali Bela, ia tak bisa membiarkan bosnya itu menyakiti wanita.


Meskipun ia telah dibohongi oleh Arabela, tapi setidaknya ia mengetahui fakta yang sebenarnya.


"Diam kau! Karna kau juga yang tidak becus membuatnya jadi tau!" cetusnya.

__ADS_1


Arjuna mengalihkan pandangannya ke Afriska yang kini tengah jatuh ke bawah. Ia terkena kotornya lumpur sawah sampai keselurahan badan.


"Arjuna tolong!" ucap Afriska yang di bawah sana.


"Kau tidak apa-apa kan sayang?" tanya Arjuna untuk memastikan. "Bertahanlah, aku akan memanggil bantuan untuk menolongmu."


Arjuna hendak akan pergi, namun Bela segera menghalangi langkah suaminya itu.


"Kenapa? Ternyata kau begitu mengkhawatirkannya ya, dibandingkan istrimu sendiri yang kau anggap adik tiri!" cibir Bela, Arjuna tak menanggapinya dan berlalu pergi.


Bela melihat ke bawah, ternyata lumayan tinggi juga mereka makan di saung yang berada di atas sawah.


"Nona, sebaiknya nona pulang saja. Karena saya takut, jika bos muda nantinya akan marah lagi." Jelas Rahmat, dan Bela pun menganggukinya.


Mungkin sekitaran 3-4 meter tingginya itu, Afriska jelas takut dan juga trauma. Untungngnya, padi di sana belum tumbuh karena masih proses penanaman. Dari bawah sangat gelap, tapi tidak menutup kemungkinan jika hewan seperti belut, keong bahkan ular bisa saja berada di bawah sana.


"Mat, antarkan aku pulang ke Vila." Titah Bela, ia berjalan di depan dan Rahmat mengikutinya dari belakang.


Sedangkan Arjuna kembali menghampiri Afriska dengan membawa tangga yang terbuat dari bambu. Ia juga membawa salah satu seorang pria, untuk membantunya tadi.


Arjuna nampak seperti tidak mengenali Bela, bahkan ia sangat mencampakkan istrinya tersebut.


"Aku tidak tahu apa yang sedang kalian berdua permasalahkan sebelumnya. Karena, kalian sendirikan yang mengatakan jika kalian ini bersaudara walaupun tiri." Gerutu Rahmat, ia juga tidak terima jika masuk ke dalam masalah ini.


Karena, sedari awal ini Rahmat adalah seorang mandor. Dan ia tidak tau apa-apa sebelumnya, namun karena pertikaian di antara keduanya yang menimbulkan konflik yang begitu hebat.


"Ceritanya sangat panjang, Mat. Kau juga tidak akan mungkim percaya, semuanya berawal dari pengkhianatan lalu balas budi. Dan sekarang pengkhianatan lagi, aku tidak akan pernah menyangka jika aku akan seperti ini. Setidaknya, aku ingin suamiku kembali walaupun aku tau. Aku ini hanyalah gadis penebus hutang saja, jika dijelaskan secara rinci lagi akan lebih."


Rahmat mencoba untuk mencerna baik-baik apa yang Bela katakan tadi, sepertinya Bela akan sangat sulit untuk keluar dari hubungan ini. Karena faktor pertama, Bela awalnya hanyalah gadis penebus hutang.


"Aku kurang paham, tapi semoga nona bisa menerima takdir ini. Aku tahu, nona muda pasti adalah orang yang kuat!" seru Rahmat


"Hem, iya. Terima kasih banyak ya, Rahmat. Maaf aku membohongimu, karena pernikahanku dan Arjuna memanglah dirahasiakan."


Rahmat terkejut, itu artinya Bela dan Juna satu nasab. "Apa! Itu artinya. Pernikahan nona dan bos muda tidak sah, karena kalian satu nasab."


Arabela harus mulai menceritakannya dari mana, sedangkan ia sendiri saja sudah sangat sakit jika untuk mengenang ini semuanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Sorry ya, kemaren bukannya ga up tapi lama reviewnya.


Jangan jadi silent readers, seengganya like atau komen kek biar othor semangat;( HP ku rusak, jadi ini pakai HP punya ayah. Gak bisa like komenan dari kalian yang komen, tapi terima kasih banyak ya kalian sudah ingin bertahan sejauh ini 💚🥀


__ADS_2