
Makan malam sudah selesai, Arjuna dan tuan Gunawan duduk santai di halaman belakang. Mereka berdua menikmati secangkir kopi hangat, dan juga hembusan angin malam yang menerpa wajah tampan mereka.
"Arjuna" sahut sang kakek.
Arjuna berdehem, "Heem, kenapa Kek?"
"Apa kau sudah melihat berkas yang sudah Kakek titipkan pada Marsel?." Tanyanya, Juna mengangguk pelan.
"Sudah, Kek. Arjuna sangat terkejut, tapi Arjuna juga kasihan pada ayah. Jika ayah tau, dia pasti akan sangat kecewa."
Tuan Gunawan menghela nafasnya dengan panjang. "Juna, ayahmu itu sangat pantas untuk mendapatkan karmanya," sautnya.
"Iya, Kakek."
Tak bisa berpikir panjang, sikap Sandiaga yang menelantarkan Arjuna tidak dapat ia maafkan. Tuan Gunawan bersikeras, ia akan membalaskan perbuatan menantunya itu.
"Juna, apa kau yang membuat saham-saham ayahmu turun?" tanya kakek Gunawan.
Arjuna pun hanya memperlihatkan gigi putihnya, akhirnya ia ketahuan juga oleh sang kakek.
"Heee, iya betul,Kek" ucap Arjuna yang cengengesan.
"Kau ini, tapi tidak apa-apa. Biarlah ia mendapatkan ganjaran sedikit, apa kau memiliki rencana lain?." Tanya sang kakek.
Arjuna pun berpikir sebentar, sebenarnya ia ingin mengatakannya. Namun ia cukup takut, karena takut jika sang kakek malah melarangnya.
"Sebenarnya ada sih, Kek. Tapi, Arjuna tidak yakin jika kakek akan mengizinkannya." ucap Arjuna, yang membuat penasaran sang kakek.
"Memangnya apa? sampai aku tidak mengizinkanmu?" tanya sang kakek, yang begitu penasaran pada rencana Arjuna.
"Tapi kakek harus janji ya, kakek tidak boleh marah?" ucapnya.
Arjuna sambil menunjuk sang kakek, dengan jari telunjuknya."Iya-iya-iya, apa rencanamu kali ini?" tanya kembali sang kakek, yang benar-benar sudah antusias ingin mengetahuinya.
"Aku. Aku ingin menikahi Arabela, Kek."
Bagaikan tersedak oleh udara, Tuan Gunawan melototi Arjuna saking kagetnya ia.
"JUNA!" bentak sang kakek.
"Hadir, Kek" sautnya
"Apa kau tidak memakai otakmu?!"
__ADS_1
"Sudah, Kek. Tapi, hanya ini yang dapat Juna pikirkan."
Tuan Gunawan menggeleng-gelengkan pelan kepalanya, ia tak habis pikir dengan apa yang cucunya itu pikirkan.
"Juna, apa ibumu memberimu makan pasir?"
"Ibu Ita dulu memberiku daun singkong untuk makan. Cukup lama, sekitar 2 setengah bulan kami hanya memakan olahan dari itu." Jawab Arjuna, yang membuat kakek Gunawan semakin pusing.
"Lalu, kenapa sekarang kau menginginkan Bela untuk menjadi istrimu Juna! Urus saja dulu perusahaan kakek! Ada-ada saja," celetuk sang kakek, yang memarahi Arjuna.
"Tapi, Kek. Arjuna sudah mematangkan rencana ini, dan Arjuna sudah membuat jebakan untuk ayah."
Tuan Gunawan tak habis pikir dengan yang Arjuna katakan. Ia bahkan tidak percaya jika ini adalah Arjuna. Demi cucu kesayangannya, tuan Gunawan pun rela mengikuti rencana dari Arjuna.
"Baiklah, tapi kau harus jamin rencana ini bisa berhasil. Jangan melibatkan perasaanmu, Juna. Kakek tidak mau kau mencintai wanita itu, pernikahan ini hanyalah sebagai sebagian rencanamu!." Tegas sang kakek, ia tak ingin Juna jatuh ke dalam rencananya sendiri.
Terlebih lagi, Arjuna adalah putra Sandiaga. Dan juga, cucu kesayangan keluarga Sudrajat. Arjuna akan mewarisi dua harta, dari dua keluarga ternama sekaligus.
"Itu sudah pasti, karena aku telah menemukan calon ibu untuk anak-anakku"
"Kakek percaya padamu, besok minta Marsel untuk mengantarmu ke perusahaan untuk melihat-lihat. Lusa nanti, kita akan mengadakan pertemuan direktur utama PT Yo-Jek yang baru. Apa kau siap, Arjuna?."
Arjuna menganggukinya. "Iya, Kek. Juna siap, ya sudah. Sebaiknya kakek pergilah untuk beristirahat," pinta Arjuna.
"Kau juga, beristirahatlah. Karena besok, kau akan pergi lagi" saut sang kakek.
"Baik, Kek"
"Pelayan sudah menyiapkan kamarmu, Juna" sahut sang kakek.
Arjuna berdiri dari duduknya, ia mencium punggung tangan kakeknya itu.
"Iya, Juna pergi ke kamar Juna dulu ya Kek" panit Arjuna.
Tuan Gunawan mengangguk, "Heeem, pergilah Nak." ucap tuan Gunawan.
Dua orang pelayan menghampiri Arjuna, mereka sudah berdiri di belakang Arjuna.
"Juna pergi kek, kakek hati-hati" harap Arjuna.
Mereka berpisah berlawanan arah, Arjuna pergi diantar oleh kedua pelayan wanita, dan tuan Gunawan pergi seorang diri ke kamarnya.
"Mari tuan muda, saya antar tuan muda ke kamar," ajak salah satu pelayan tersebut.
__ADS_1
Arjuna mengangguk, dan ia mengikuti langkah kaki dua pelayan wanita tersebut. Pelayan yang satunya menundukan kepalanya, ia sama sekali tak melihat wajah Arjuna. Terdapat 12 pelayan di rumah besar, mereka dibagi menjadi 2 kelompok, Pak Samin yang merupakan kepala pelayan, jadi total ada 13 pelayan.
...…...
Sandiaga meluapkan amarahnya, ia tak habis pikir dengan apa yang kini terjadi. Saham perusahaannya anjlok, dan ia terancam bangkrut. Belum lagi hutang pada bank, yang kini sudah membludak.
Ia mengacak-acak rambutnya, tak tahu ulah siapa ini.
"Sial, jika bukan Alge lalu siapa! Aku pikir dia mafia, yang mencoba menghancurkanku. Ternyata aku salah! Benar-benar, sial!" umpat Sandi.
Bela sudah menunggu ayahnya sedari tadi, dari pagi hari menuju siang, sampai malam pun tiba. Ia masih asik menonton drakor kesukaannya, yang berjudul 'big mouth'
"Aaah, sudah aku duganya. Dia bukanlah big mouse yang asli, dia hanya memanfaatkan kepopuleran big mouse." celetuk Bela, yang terus-terusan menggerutu.
Bela baru tersadar, akan ayahnya yang sedari siang tadi tidak balik-balik ke ruangan.
"Kenapa papi tidak kembali-kembali, apa ia masih sibuk dengan rapatnya?" gumam Arabela yang sekarang kebingungan.
Ia melihat jam diponselnya, sudah menunjukkan pukul 11 malam. Bela menepuk jidatnya, kenapa ia bisa selupa ini.
"Papi kemana?"
Arabela menutup laptopnya, ia berjalan menuju pintu. Namun sang ayah sudah membuka pintu tersebut.
"Papi, Bela baru saja mau menemui Papi" sahut Bela.
Sandiaga tersenyum, dan ia merangkul pundak putrinya itu. "Maaf sudah membuatmu menunggu, Papi banyak sekali pekerjaan hari ini, ayo kita pulang saja ke rumah," ujarnya.
Bela mengangguk paham, sudah lama juga ia di sini. Hanya menonton drama korea, dengan ditemani cemilan yang sedari tadi ia makan.
"Heem, iya Pi. Aku bawa mobil, kita pulang bersama saja" tawar Bela,
"Iya, Nak. Papi mau ambil beberapa berkas penting dulu, kau tunggulah diperkirakan." ujar Sandiaga.
Arabela mengangguk, "Baik, Pi." balas Bela.
Bela keluar setelah mengambil tas dan juga laptopnya. Ia turun sendiri menggunakan lift khusus ceo, saat Bela turun. Semuanya sudah sangat sunyi, dan sepi. Mungkin karena kebanyakan para pegawai sudah pulang, hanya beberapa orang saja yang melakukan lembur.
"Aku menunggu papi di luar saja, bagian parkiran mobil pasti gelap dan menyeramkan." Gumam Bela, ia memilih duduk disofa resepsionis.
Jadi saat ayahnya turun nanti, ia bisa menemukan di mana keberadaan Bela. Sudah 15 menit Bela menunggu, namun Sandiaga belum juga turun. Alhasil, ia pun terlelap dalam tidurnya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1