
Follow instagram author : @stmaemunahsr 😎
Bela merenung di kamarnya yang sangat terlihat mewah tersebut, ia duduk di sisi ranjangnya sambil memikirkan siapa pria yang ia tabrak tadi. Bela tak habis pikir, baru saja ia pulang habis 2 hari ke indonesia, ia malah mendapatkan nasib sial dengan bertemu Arjuna.
Entah bagaimana perasaannya saat ini, yang pasti pikirannya sangat kacau dan berantakan. Terlebih lagi ketika Arjuna mengetahui nama Bela, sudah. pasti ia akan meminta pertanggung jawaban dari Bela.
"Bagaimana ini... jangan sampai papi tau" gumam Bela
"Kalau papi sampai tau, aku pasti akan dikirim ke amsterdam lagi" sambung Bela.
Merasa prustasi, Bela mengambil ponselnya yang ia letakan di atas nakas. Ia menghubungi Jaemin, teman masa kecilnya dulu.
"Ayolah angkat Jae! aku butuh pertolonganmu!" timpal Bela yang mulai kesal, karena Jaemin tidak menjawab sambungan telepon dari Bela.
Hasilnya, Bela pasrah dan meletakan ponsel merek pisang tersebut di atas kasurnya. Namun sedetik kemudian, suara dering ponselnya berbunyi. Yang menandakan jika Jaemin menghubunginya balik.
Dengan buru-buru, Bela pun segera mengambil ponselnya itu dan menjawab panggilan telepon dari Jaemin.
"Halo, Jae!! Help me!! Urgent!!" ucap Bela dengan nada tinggi.
Jaemin yang baru selesai mandi pun, segera menutup telinganya dengan tangan kanannya.
"Sialan si bebel, telingaku sampai menggema karenanya!" cetus Jae yang merasakan sakit ditelinganya.
"Jae! ini aku Bela!" ungkap Bela.
Jae pun hanya berdehem tanpa membalas perkataan dari Bela.
"Jae! jawab aku sialan! apa kau bisu?" tanya Bela dengan nada penuh ketegasan.
Jaemin pun mulai kesal dibuatnya. "Apa?" tanya balik Jaemin.
"Aku sedang terkena masalah, kau mau menolong aku kan?" tanya Bela sekali lagi
"Masalah, bukannya kamu baru saja pulang kampung? kenapa bisa buat masalah? sebaiknya kamu pergi merantau lagi saja ke belanda, daripada di sini hanya bisa menjadi beban." timpal Jae
__ADS_1
Karena merasa kesal, Bela pun langsung ingin mematikan teleponnya bersama Jae. Namun ia sadar, ia masih membutuhkan Jae untuk ia minta pertolongan.
"Ayolah Jae, tolong aku. Aku tidak ingin papi ku tau, jika aku telah menabrak seorang pengendara motor tampan."
Mendengar pernyataan tersebut, sontak Jae pun langsung membulatkan matanya. Ia tak habis pikir dengan Bela yang bisa seperti itu, sampai-sampai ia menabrak seorang pengendara motor.
"Apa orang itu meninggal?" tanya Jae dengan serius
"Tidak, tapi sepertinya ia mengalami cidera pada kakinya, Jae. Aku takut jika ia menuntutku, papi pasti akan mengirimkan aku ke belanda lagi." keluh Bela.
Tak dapat dibayangkan juga, bagaimana dengan reaksi Sandi jika ia tahu bahwa Bela sudah menabrak Arjuna. Mungkin Sandi akan mengatakan, 'Kenapa tidak sekalian kau habisi saja dia, princess?'
"Jae, aku takut. Aku betah di sini, di belanda aku sering dibully oleh senior ku, karena aku tidak lancar berbahasa inggris dengan baik" ungkap Bela.
Jaemin yang sedang memakai baju pun sedikit kesulitan, ketika ia mendapatkan panggilan telepon dari Bela yang mencurahkan isi hatinya.
"Dan juga, sepertinya aku telah jatuh cinta pada pengendara motor tadi. Ia sangat tampan, lebih tampan dari mu tentunya" ucap Bela yang membuat Jaemin kesal.
"Terserah kau bebel, aku tidak peduli. Bahkan ketika kau kembali ke indonesia pun kau tidak memberi tahu ku. Sahabat macam apa kau! ada di saat membutuhkan pertolonganku saja." cibir Jae yang membuat Bela tersindir.
"Iya, jam berapa?" tanya Jae
"Jam 9 aku akan ke sana, tapi sebelum itu. Aku ingin kau mencarikan aku orang yang tadi siang aku tabrak Jae. Tidak apa-apa kan?" tanya balik Bela.
"Heh jin iprit! Kau pikir mencari orang itu gampang!" ucap Jae penuh ketegasan.
"Tidak apa-apa kan Jae? Aku hanya ingin meminta maaf dan memberinya kompesansi sedikit, kau tidak keberatankan untuk mencarikannya?" pinta Bela yang penuh harapan pada Jaemin.
Jaemin menghela nafasnya dengan panjang, ia tak bisa menolak permintaan dari Bela. Apa lagi, Bela adalah sahabat baiknya, yang sudah tumbuh bersama Jae sampai saat ini.
"Baiklah, aku akan mencarikannya untukmu. Tapi berjanji-lah padaku, kau tidak akan mengganggunya bebel" ungkap Jaemin
"Siap Jahe, aku tidak akan mengganggunya. Aku hanya ingin meminta maaf atas perbuatanku, terima kasih banyak ya." seru Bela yang kegirangan.
Jaemin menghela nafasnya, "Sudahlah, aku ingin tidur. Besok akan aku carikan orangnya untukmu," timpal Jaemin.
__ADS_1
Sambungan telepon terputuskan, karena Jaemin yang memutuskan. Bela merasa senang, karena ia akan segera mengetahui siapa orang yang sudah tak sengaja ia tabrak tadi siang. Entah perasaan senang atau jatuh cinta, hanya Bela dan isi hatinya yang tau. Perasaan bersalah sudah pasti menghantui Bela, karenanya ia telah mencelakai orang.
Tok... Tok... Tok...
Saat Bela hendak akan tidur, suara ketukan pintu mengalihkan mendengarannya. Bela dengan segera turun dari ranjangnya, dan membuka siapa yang sudah mengetuk pintu.
Ceklek... Suara pintu terbuka
"Mami, ada apa mi? Bela baru saja ingin tidur" ucap Bela
"Oh, maaf sudah mengganggu tidur tuan putri yang tersayang, mami datang karena papi ingin bertemu denganmu sebentar sayang. Kau mau kan, menemui pagimu dulu." pinta Naracha, ibu kandung dari Arabela.
"Tentu saja mami, di mana papi?" tanya Bela
"Di ruang tamu, sepertinya ia ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting padamu Bel" ungkap Naracha
"Bela akan menemui papi dulu ya, Mi. Mami juga ayo ikut temani Bela, Bela takut jika ternyata papi memarahi Bela." ucap Bela sambil merangkul tangan kanan Naracha.
"Jangan takut, ada mami. Papi kan sayang Bela, mana mungkin papi memarahi Bela apalagi sampai memukul Bela" ucap Naracha
"Benar juga, Bela kan selalu dimanjakan oleh papi. Dan bela juga anak satu-satunya kesayangan papi, iya kan Mi?" tanya Bela penuh antusias.
Naracha hanya terdiam, ia tak menjawab pertanyaan dari putri semata wayangnya tersebut, jika sang suami ternyata memiliki seorang putra dengan pernikahan sebelum dengannya.
"Mami, mami kenapa diam?." tanya kembali Bela yang penasaran.
"Aih, tidak apa-apa sayang" jawab Naracha.
"Apa ada yang mami sembunyikan dari Bela?" tanya lagi Bela
"Tentu, tentu saja tidak. Sudahlah, ayo cepat kita temui papi mu di bawah" tangkas Naracha untuk mengalihkan pembicaraan.
Bagaimana ia harus mengatakan pada Bela, bahwa ternyata ibunya hanyalah seorang perusak rumah tangga orang lain. Tidak mungkin juga kan, jika Nara memberitahu Bela bahwa dia ini adalah seorang pelakor. Walaupun begitu, kejahatan sekecil apapun pasti akan terbongkar.
Karena, sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga baunya. Begitu juga dengan ketidakadilan yang telah Arjuna alami, bersama mendiang ibunya semasa hidupnya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...