Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Jadi Menikah?


__ADS_3

Pertemuan diantara mereka kembali terjadi, setelah merevisi beberapa data kantor Arjuna langsung mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Arabela dan ayah kesayangannya. Apa arjuna akan pergi, tentu tidak. Mereka berdualah yang akan datang, dan juga kakek gunawan akan segera datangjuga ke perusahaan untuk berunding.


Sampai waktunya tiba, seseorang mengetuk pintu Arjuna dan Arjuna mengizinkannya untuk masuk.


“Masuk!” sahut Juna, ia sudah menduga itu adalah Arabela dengan Sandiaga. Karena tidak mungkin jika kakek Gunawan, jika kakek ia pasti sudah masuk ke dalam tanpa meminta izin padan Arjuna.


“Permisi, pak El. Ada seorang tamu yang meminta bertemu dengan anda, akan tetapi ia belum meminta jadwal terlebih dahulu” ucap seorang resepsionis itu, yang tak lain tak bukan ia adalah Mika.


Arjuna menoleh ke arahnya. “Oh, apa seorang anak dan ayah?” tanya Arjuna, Mika mengangguk. “Betul, pak. Mereka adalah pak Sandiaga, dan anak perempuannya untuk bertemu anda di sini.” Ungkap Mika, Arjuna tersenyum ternyata mereka berdua benar-benar datang.


“Biarkan mereka masuk, dan tolong bawakan makanan ringan untuk tamuku ke ruanganku.” Titahnya, Mika menundukkan kepalanya dan segera memjalankan perintah dari Arjuna.


“Baik, pak.” Mika pergi meninggalkan ruangan Arjuna, dan ia segera menyampaikannya pada Arabela dan juga sandiaga yang sedang menunggu mereka.


Tak perlu waktu yang lama, mereka akhirnya datang ke ruangan Arjuna dan mereka berdua begitu disambut hangat oleh Arjuna.


“Selamat datang di perusahaanku, ayah dan calon istriku.”


Sapaan Arjuna membuat Sandi begitu bergidik ngeri, akankah ia akan dihabisi hari ini juga oleh anaknya di perusahaan anaknya sendiri.


“El, aku dan papi sudah datang. Apa kita bisa bicarakannya sekarang, karenaa lebih cepat lebih baik” ujar Bela, Arjuna mendekati mereka berdua yang masih berdiri.


“Aih, kenapa buru-buru sekali. Duduklah dulu, kasihan ayah begitu lesu wajahnya” cibir Arjuna, ia mempersilahkan Bela dan Sandi duduk disofa.


Mika kembali lagi ke ruangan Arjuna, dengan membawa nampan beirsi air dan juga makanan untuk tamu Arjuna.


“Silahkan diminum ayah, Bela” ujar Arjuna

__ADS_1


“Terima kasih, Juna. Maaf merepotkanmu” ucap Sandi


“Tidak masalah ayah, kakek masih di perjalanan mungkin sebentar lagi akan datang” ucap Arjuna, yang membuat jantung Sandi berdetak begitu kencang.


Bagaimana tidak, awalnya ia mengira mertuanya itu adalah seorang ojek biasa. Tapi siapa sangka, ia adalah pemilik perusahaan PT YO-GEK (Ayo Ngojek) dan benar kata pepatah, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Arjuna meneruskan apa yang kakeknya lakukan, ia berhasil menjalankan rencananya satu demi satu.


Arjuna menatap Bela, sehingga membuatnya malu dan tak berani menatap Arjuna.


“Juna.” Kakek gunawan datang mendadak masuk ke dalam ruagan Arjuna, Arjuna melihat ke arahnya dan kembali melirik sang ayah hanya untuk tahu reaksinya bagaimana.


Juna tersenyum, ketika keringat dingin sang ayah keluar.


”Bagaimana, yah? Apa kau terkejut melihat kakek?” batin Arjuna.


“Oh, tamunya sudah datang rupanya” ucap kakek Gunawan.


Ia masuk ke dalam ruangan Arjuna, Sandiaga takut ketika bertemu dengan mantan mertuanya itu. Bagaimana tidak, kakek Gunawan sangat jauh berbeda dengan kekak Gunawan yang lalu.


“Jadi, apakah kita akan langsung ke topik pembicaraan tanpa basa-basi?” tanya kakek Gunawan


“Tidak perlu, aku dan Arabela akan menikah 1 minggu lagi.” Ungkap juna yang langsung dijawab tegas oleh Sandi, dan juga kakek Gunawan. “ARJUNA!!!” pekik mereka berdua.


Arjuna hanya memperlihatkan giginya yang putih, ia tak bisa berkata apa-apa jika dua pria ini sudah marah. Arabela tersenyum kecut, jika menikahi Arjuna bisa membalikkan semua keadaannya.


“Kalian berdua sangat kompak, itu artinya kalian setujukan?” timpal Arjuna,


“Sayang berbicaralah, kau tidak masalahkan jika waktunya dekat. Fitting baju hanya memerlukan satu hari, dan soal gedung kita rayakan dengan pesta yang kecil. Bukankah publik tahu jika ayah adalah ayah kandung Arabela, bagaimana dengan aku? Jika mengungkapkan yang sebenarnya akan membuat berita baru.”

__ADS_1


Sandiaga berpikir keras, ia tak bisa jika harus membuat Bela masuk berita TV. Pengorbanan Bela dengan mau menikahi Juna saja sudah membuatnya malu, mau tidak mau hanya bisa menuruti perkataan Arjuna.


“Ayah terserah padamu, Juna. Kau maunya bagaimana, ayah hanya bisa mengikuti” ungkap Sandiaga, Juna tersenyum itu artinya ia bisa menguasai pernikahannya.


“Baiklah, pernikahan tinggal satu minggu lagi. Tenang saja ayah, semua biaya aku tanggung” ucap Arjuna


“Ya sudah jika begitu, Bela. Fitting baju di butik madam loli, kau taukan dia adalah desainer ternama di kota.” Ucap kakek Gunawan.


Arabela mengangguk, siapa yang tak tahu madam loli. Dia adalah desainer sekaligus orang yang bisa maramal masa depan pernikahan, kakek Gunawan memberikan kartu debitnya pada Bela.


“Ini pakai kartu kakek saja, dia sangat mengenal kakek,” Bela mengambil kartu itu. “Terima kasih, kek.” Ungkap Bela, ia menerima kartu yang kakek Gunawan berikan.


“Hm, dan untuk perusahaanmu kau tenang saja Sandi. Arjuna akan mengambil kembali perusahaanmu dan membalikkannya menjadi namamu, kau hanya perlu bersabar.”


Sandiaga tentunya sangat malu, ia tak tahu harus mengatakan apa. Mertua dan anaknya begitu baik, akan tetapi Sandi tidak tahu jika ini adalah rencana Arjuna yang akan membalaskan dendamnya pada Bela. Arjuna tersenyum, tinggal sedikit lagi langkahnya menuju puncak rencananya dengan menikahi Arabela.


Keesokan harinya, Bela datang sendirian ke butik madam loli. Karena sang ayah ada urusan begitu penting dengan bank, Bela memberanikannya untuk masuk dan bertanya pada madam untuk mencarikannya gaun pengantin yang indah.


“Arabela ya? Calon cucu menantu Gunawan.” Arabela terdiam, mengapa ia tahu padahal Bela belum memberitahunya.


“Iya, madam.” Arabela tak pikir panjang, mungkin saja kakek Gunawan memang sudah mengatakan bahwa Bela akan datang,


“Ayo ikut dengan madam, madam punya gaun pengantin yang sangat cocok untukmu.”


Bela mengikuti langkah madam loli, ia membawanya ke salah satu ruangan serba hitam namun berjajaran gaun pengantin berwarna hitam. Arabela bingung, bukannya gaun penganti yang sering dipakai untuk resepsi itu adalah putih.


“Madam, apa maksudnya ini? Aku akan memakai gaun berwarna hitam, tapi kenapa?” tanya Bela yang begitu bingung, kenapa harus warna hitam.

__ADS_1


Madam tersenyum ke arah Bela. “Ini sangat sesuai dengan keadaan hatimu yang sedang berduka, bukankah kau tidak mencintainya. Tapi kenapa kau paksa hatimu untuk menerima?” perkataan madam membuat Bela tak bisa bergumam, jika orangnya adalah madam loli sudah jelas apa yang ia katakan itu adalah kenyataan atau sebuah ramalan.


BERSAMBUNG


__ADS_2