Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Kenyataan Yang Pahit


__ADS_3

Mendengar pernyataan dari Arjuna, Sandiaga masih bersikeras untuk tidak mempercayai apa yang telah Ia lihat barusan. Ia menepis jauh-jauh pikiran hentang hasil tes DNA tersebut, yang menyatakan Sandiaga dan juga Arabela tidak memiliki kecocokan sama sekali.


"Ada apa dengan ayah? apa ayah khawatir? atau Ayah takut?"


Seolah-olah meledek, Sandiaga menatap tajam dan memberikan berkas Itu kembali kepada Arjuna.


"Jika kau ke sini hanya untuk mengacaukan perusahaanku atau aku sekalipun. Lebih baik kau pergilah, Juna. Kau tidak pantas diterima di sini!" cetus Sandi


Nampaknya, Sandiaga lupa bahwa Arjuna ini adalah tuan muda Elgara.


"Ayah, bahkan bank akan segera menyita perusahaanmu? Apa kau tidak takut jika nanti aku akan mengambil perusahaanmu?" ucap Arjuna


Sandiaga terdiam, ia menatap Arjuna dengan tatapan yang begitu tajam pada putra sulungnya tersebut.


"Berhenti mengancamku, Arjuna! Aku tidak akan terpengaruh sedikitpun dengan semua tipu muslihatmu ini! "


Ia seolah-olah tak ingin memperdulikan permasalahan ini. Namun, ia sendiri juga takut jika ia sudah terkena tipu muslihat dari istrinya tersebut.


"Kau takut kepadaku, ayah? Kenapa istrimu tidak memberitahumu saja yang sebenarnya, dan jika mau kita masih bisa test DNA yang kesekian kalinya." Tangkas Arjuna, dibelakang pintu sana ada Arabela yang sedang menguping.


Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, mendengar perkataan dari Arjuna dan juga Sandiaga tentang permasalahan perusahaan dan juga tentang Arabela.


"Apa, jadi aku ini bukan anak papi...'' lirih Arabela, ia tak pernah menyangka jika dirinya akan sehina ini.


Terdengar suara isak tangis dari luar, Sandi dan juga Juna pun terkejut. Sandi segera menuju pintu dan melihat siapa di sana, ternyata benar dugaannya.


Ia melihat sang putri tercinta sedang menangis dengan terisak, tak ingin menambah kesedihan ayahnya, Arbela segera pergi meninggalkan tempat itu dengan setengah berlari.


Sandiaga hendak ingin mengerjar putrinya, ia memberhentikan langkahnya karena masih ada Arjuna di dalam ruangannya.


Sandiaga kembali lagi ke dalam ruangannya, "Kau lihat! Apa yang kau lakukan!" Pekik Sandi, ia sangat membenci Arjuna yang merupakan anak kandungnya tersebut.

__ADS_1


Arjuna hanya tertawa kecil, menertawakan kebodohan sang ayahnya itu. Masa bodoh tentang Arabela, tujuannya untuk menikahi Arabela kan untuk membalaskan dendam pada ayahnya.


Ia berjalan dengan pelan, menuju sang ayah tercinta lalu menepuk pelan pundak sang ayah, dan mengatakan pada sang ayah yang sebenarnya.


"Menerima kejujuran memang sangat sulit Ayah, akan tetapi dibahagiakan oleh kebohongan itu lebih jauh lebih sakit. "


Setelah mengatakan kalimat tersebut, ia pergi meninggalkan sang ayah tanpa mempedulikan sang ayah. Baginya, ayahnya harus merasakan apa yang pernah Arjuna rasakan dulu dan juga ibunya rasakan.


Waktu terus berjalan, perusahaan Sabdi harus disita oleh bank, dan juga dengan Naracha yang sudah sangat pusing akan kehidupan sosialitanya tersebut. Ia tak bisa hidup dengan Sandiaga, yang kini sudah bangkrut. Mana mau dia hidup dengan seorang lelaki, dan memulainya dari nol.


Arabela hanya berdiam di kamar, Ia keluar hanya untuk makan. Sandi tidak berani untuk bertanya kepada sang putrinya tersebut, bahkan untuk menyapa dan melihat pun mereka sangat canggung.


"Bela, Bela ayo kita pergi dari sini! papimu sudah bangkrut. Kita harus mencari papi yang baru!" Teriak Naracha, yang menggedor-gedor pintu kamar Arabela.


Namun, Arabela tidak membuka sedikitpun pintunya karena dikunci dari dalam.


''Arabela! Buka Sayang, ayo ikut mami!"


''Kau ingin meninggalkanku? Silahkan saja, tapi tidak untuk Bela, dia putriku!" tegas Sandi, tidak mau kalah Naracha pun kembali menegaskan kembali perkataannya.


''Putrimu? dia putriku!" tegas Naracha


Perdebatan di antara mereka berdua, terdengar sampai menembus telinga Bela. Ia sedang meringkuk sambil menangisi nasibnya saat ini, ayahnya sudah bangkrut, dan juga dia bukan anak kandung Sandi.


''Bela akan ikut aku ke Amsterdam! dan kau diamlah di sini sebagai gelandangan!!" sambung perkataan Naracha dengan tanpa perasaan.


"Oh jadi begini ternyata sikap aslimu kepadaku! kau hanya memanfaatkan kekayaanku saja kan?" celetuk Sandi


"Bukankah kamu sudah bangkrut?'' tanya Naracha yang menyingnggung Sandi.


Mereka berdua terus berdebat, Bela menutup telinganya rapat-rapat. Ia tak ingin mendengar perdebatan dari kedua orang tuanya itu. Berbanding terbalik dengan Arjuna yang begitu senang.

__ADS_1


Karena telah menjalankan rencananya di tahap awal, kakek Gunawan juga senang mendengarkan tersebut. Namun ia juga sedih, pada Arabela yang dirugikan.


''Juna. Apakah kau benar-benar ingin menikahi saudari tirimu itu?" tanya sang kakek.


Arjuna yang mendengar pertanyaan dari sang kakek mengangguk dengan pe, l benar akan menikahi Arabemmla.


"Iya, Kek. Kakek setuju kan jika rencana ini aku jalankanp sepenuhnya?''


Kakek Gunawan hanya menghela nafasnya dengan panjang, sejujurnya ia tak ingin Arjuna melakukan rencana balas dendam dengan menggunakan Arabela. Namun apalah daya, ini adalah kemauan Arjuna sendiri.


"Kakek terserah padamu untuk rencana balas dendammu. Tapi, apakah harus dengan menikahi saudara tirimu, Juna? Kakek hanya takut jika nanti kau akan terjebak oleh permainanmu sendiri." Ungkap sang kakek, Arjuna terdiam ia harus benar-benar matang untuk menjalankan rencananya ini.


Ponsel Arjuna berdering, ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Arjuna dan juga kakek Gunawan sengaja berada di halaman belakang, hanya untuk minum kopi sambil melihat bintang-bintang yang bertebaran di atas langit malam.


Juna melihat siapa yang menghubunginya, dia adalah Sandiaga, ayah Arjuna. Sontak Arjuna pun terkejut, ketik yang ia lihat itu adalah ayahnya sedang menghubunginya.


"Kakek, coba lihat ini ayah meneleponku!" serunya, kakek Gunawan mengambil ponsel Arjuna dan memastikan bahwa itu benar-benar Sandiaga menantunya.


"Ada apa dia meneleponmu malam-malam begini?'' tanya kakek Gunawan.


Arjuna menaik turunkan kedua bahunya, yang menandakan ia pun tidak tahu.


"Aku tidak tahu kek, tapi aku akan menjawab telepon dari ayah terlebih dahulu.''


Arjuna pun menjawab sambungan telepon dari sang ayah, terdengar suara isak tangis dari sang ayah meminta pertolongan pada Arjuna. Ia telah hancur, perusahaan dan juga nama baiknya telah tercemar.


Lebih parahnya lagi, sang istri tercinta akan meninggalkannya Arjuna ingin merasa kesihan pada sang ayah, namun ini adalah pembalasan bagi seorang ayah yang dulu tak pernah menganggapnya sebagai anak.


"Ada apa ayah menelponku? Apakah ayah masih belum menerima kenyataan pahit ini? Aku sudah bilang beberapa kali, jika kenyataan itu memanglah menyakitkan, Ayah."


Tak bisa berkata-kata apa lagi, Sandiaga hanya bisa menerima kenyataan yang pahit ini dengan berlapang dada.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2