Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Pulau Kapuk


__ADS_3

Seorang waiter datang ke kamar hotel Arjuna, ia membawakan sarapan yang Arjuna pesan. Breakfast yang nampaknya tidak begitu mengenyangkan, akan tetapi dalam jumlah yang banyak itu sangat membuat perut kenyang dan juga tentunya sarapan ini sehat.


Arjuna mengambil breakfast yang waiter itu bawakan, Arjuna langsung mengambil dengan meja trolinya sekaligus. Ia tidak mendapatkan komplain dari waiter tersebut karena, Arjuna adalah tamu VVIP Hotel mereka.


"Selamat makan, Bos muda. Saya harap anda menikmati pelayanan, dan juga fasilitas yang ada di hotel kami" ucap sang waiter itu yang tersenyum pada Arjuna.


Arjuna mengangguk sambil membawa troli itu masuk ke dalam. "Terima kasih, ini tip untukmu."


Arjuna memberikan uang merah dua lembar, pada sang waiter tersebut. Waiter itu menolak karena, ia rasa tips yang Arjuna berikan ini sangatlah kelewatan.


"Maaf, bos muda Ini kebanyakan saya tidak bisa menerimanya. Karena ini adalah tugas saya," tolaknya dengan halus.


Namun Arjuna tetap bersikeras untuk memberikannya kepada sang waiter tersebut.


"Sudah ambil saja, tidak baik untuk menolak rezeki."


Mau tidak mau, waiter tersebut pun mengambil tip yang Arjuna berikan. Ia menundukkan kepalanya, dengan rasa penuh hormat kepada Arjuna yang begitu baik.


"Terima kasih banyak, bos muda. Semoga rezeki anda lancar, dan juga pernikahan anda awet sampai maut memisahkan kalian berdua." Ucap si waiter tersebut, Arjuna hanya mengangguk dan masuk ke dalam.


Dan juga, sang waiter tersebut juga pergi dari depan kamar Arjuna. Arabela yang masih berada di dalam kamar mandi, apa yang sedang Bela lakukan sehingga begitu lama di dalam kamar mandi.


Arjuna menyiapkan sarapannya itu, yang memilih sarapan di atas kasur sambil menonton TV, tapi sebelumnya Arjuna mengganti seprai yang tadi ia kotori dengan pewarna makanan. Entahlah, untuk pegawai hotel yang mungkin akan mengira bahwa itu adalah darah dari Arabela.


Arabela mengganti seprai dengan begitu telaten, ia membereskan kamar hotelnya agar terlihat rapi. Bela keluar dari dalam kamar mandi, menggunakan bath towel sama seperti yang Arjuna pakai tadi sebelum.


"Kau sudah keluar? cepat pakai bajumu, ayo kita sarapan bersama." Ajak Arjuna, Arabela pun mengangguk pelan ia mengambil pakaiannya di dalam koper.


"Baiklah, aku akan segera kembali lagi. "


Ia pergi untuk memakai baju di dalam kamar mandi, tidak mungkinkan Bela memakai bajunya di hadapan sang suami. Secara Arabela dan Arjuna masih canggung, keduanya menyalakan televisi. Melihat berita terbaru yang kini media paparkan, matanya membulat ketika ia melihat seorang yang ia kenali

__ADS_1


"Ayah, kenapa ayah masuk dari TV lagi?"


Berita yang memberitahu mereka, bahwa Naracha yang merupakan ibu dari Soraya dan istri Sandiaga itu, ia ketahuan pergi ke luar negeri.


Media meliputinya, mungkin saja ia pusing menghadapi masalah yang Sandiaga lalui. Terlebih lagi, tentang harta dan juga perusahaan Sandiaga yang disita oleh bank.


Naracha membawa sejumlah uang dan juga beberapa barang mewah limited edition ke luar negeri. Ia tidak ingin menjual, ataupun merelakan satupun barang kesayangannya yang sudah menjadi koleksi bagi Naracha.


"Pantas saja, si nenek lampir itu pergi ke luar negeri membawa barang-barang branded. Tapi aku ingin tahu, sampai mana dia bisa bertahan di luar sana." Gumam Arjuna, ia hanya menyaksikan berita tentang Naracha yang kini menjadi sorotan publik.


Perusahaan Sandiaga belum sepenuhnya menjadi Arjuna, karena masih mengatasnamakan Sandiaga. Arjuna hanya membantu membayar sedikit demi sedikit bunga, dan juga hutang Sandi yang terbilang besar itu.


Namun lambat atau cepat, perusahaan itu akan berada di tangan Arjuna.


Kecuali untuk rumah mewah mereka yang tidak akan Arjuna ambil. Karena itu adalah peninggalan ibunya, dan ibunya dulu mengatakan pada Arjuna. Jika rumah itu, akan menjadi rumah singgah ayahnya dan ibu di masa tua nanti.


"Mas eElgara, setelah sarapan kita mau ke mana?" tanya Bela, ia keluar dari kamar mandi dan langsung mengeringkan rambutnya yang basah.


Arabela mengangguk, sudah lama ia tidak ke pantai. Setidaknya jika ia tidak bisa pergi ke Pulau Raja Ampat, dia masih bisa pergi ke pantai terdekat


"Boleh, aku ingin memakai bikini ya" beo Arabela, namun segera di berikan tatapan yang tajam oleh Arjuna.


"Silahkan saja, tapi jika ingin kau aku ikat dan aku banting!" ancam Arjuna yang kesal.


Bela hanya cengenesan mendekati Arjuna dan mencoba merayunya.


"Maaf, aku tidak akan melakukan itu, aku hanya bercanda"


"Bercandamu sangat tidak lucu, kau ingin aku banting Arabela!"


"Tidak mau, karena aku belum gendut. Andai saja aku gendut, kau pasti tidak bisa membantingku, mas El."

__ADS_1


Juna menghela nafasnya, yang dikatakan Arabela itu benar. Arjuna lah yang kian hari berat badannya kian memberat karena, ia stress memikirkan perusahaan yang sudah bangkrut itu.


Demi menghilangkan stressnya itu harusnya banyak bergadang dan minum kopi, juga dengan makanan yang tak teratur kapan jadwalnya. Pantas saja badannya melebar, tidak seperti Arjuna yang dulu. Juna harus segera diet agar Arabela tidak diculik oleh duda kaya raya.


"Jstru karena badanku yang besar ini, aku bisa lebih mudah membantingmu! tapi ingin aku banting ke mana?"


Arabela berpikir sebentar, ia sambil melihat ke langit-langit atap, terlihat seperti berpikir dengan serius padahal tidak.


"Bagaimana kalau ke pulau kapuk? itu kan sangat lembut," ujar Arabela.


Tidak tahu apa itu pulau kapuk. Memangnya ada di dunia ini nama pulau kapuk, Juna mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nafas, ia nampak dengan begitu penasaran dilihat dari raut wajahnya.


"Kau sedang apa Mas, Apa kau sedang searching di mana itu pulau kapuk? " tanya Arabela pada suaminya itu, yang tengah serius pada ponselnya.


Dan Arjuna pun mengangguk, ia mencari di mana itu pulau kapuk agar ia bisa lebih mudah membanting Arabela.


"Unuk apa?" tanya kembali Arabela, ia mengambil ponsel Arjuna. "Untuk apa kau mencarinya? pulau kapuk itu sangat mudah untuk ditemukan, dan kau juga akan lebih mudah membantingku, Mas Elgara,'' ungkap Arabela.


Arjuna menatapnya aneh istrinya, sebenarnya apa yang Bela katakan Arjuna sama sekali tidak paham.


"Benarkah? Dimana memang?'' tanya Arjuna yang begitu penasaran.


"Di dalam mimpimu..." ucap Arabela yang meledek suaminya.


Kesal dan juga gemas pada tingkah Arabela, Juna hanya mengelus dadanya dengan bersabar, menikmati hari-harinya sebagai pengantin baru sebelum ia menyakiti Arabela.


"Tertawalah sepuasmu, bercandalah sesukamu. Namun suatu hari nanti, kau akan terluka hebat Arabela..."


...BERSAMBUNG...


see you dibab berikutnya...

__ADS_1


__ADS_2