
Arjuna pergi dengan kesal, ia keluar dari dalam mini market tersebut. Arjuna beberapa kalu berdengus kesal, dan juga berkali-kali menggerutu.
Marsel yang sedang mengisi bensin, dan juga sudah mempersiapkan mobil itu pun, kembali merasa kebingungan. Dengan tingkah bos mudanya itu, yang telah kembali lagi dengan perasaan yang tak karuan.
"Bos muda, ada apa dengannya. Apa ada seseorang yang membuatnya marah?" tanya Marsel pada dirinya sendiri.
Marsel segera menghampiri Arjuna, yang kini tengah menggerutu dari tadi. Harinya menjadi buruk, karena bertemu dengan Arabela.
"Bos muda, ada apa dengan bos muda?" tanya Marsel.
Bukannya menjawab, Arjuna malah balik bertanya pada Marsel. "Apakah mobil sudah siap?, aku ingin segera pergi ke perusahaan sekarang juga!" ucap Arjuna yang mulai kesal.
Marcel pun refleks mengangguk dengan pelan. "Iya bos muda, mobil sudah siap dan juga bisa dikendarai kembali," ucapnya
"Ayo, kita berangkat ke perusahan!" titah Juna.
"Maaf, sudah membuat Bos muda menunggu." ucap Marsel, ia segera membukakan pintu untuk Arjuna.
Arjuna pun masuk ke dalam mobil tersebut, dan ia segera memasang sabuk pengamannya. Begitu juga dengan Marsel, ia juga segera kembali masuk ke dalam mobil, dan melajukan kembali mobil tersebut.
Sejujurnya, Marsel masih terheran-heran dengan sikap aneh Arjuna. Tidak biasanya Arjuna seperti ini, apalagi dengan begitu mendadak.
"Sudah jelas, pasti tidak ada yang beres dengan bos muda." Batin Marsel, sesekali ia melihat Arjuna dari kaca spion dalam mobil.
.........
Di dalam penjara, Algeria dinyatakan tidak bersalah. Dengan pernyataan tersebut, ia dinyatakan untuk bebas. Namun, ia masih berada dalam masa penindaklanjutan.
Jika ia terbukti bersalah, ia akan dikembalikkan lagi ke dalam penjara. Tuan Gunawan, yang selaku menjadi orang tua angkat Algeria pun menangis terharu. Pasalnya, Algeria mau mengambil resiko sebesar ini.
"Maafkan atas keegoisanku Alge, aku tidak bermaksud membawamu masuk ke dalam penjara. Tapi, ini sudah termasuk rencana kita untuk mengelabui Sandiaga. Dan Arjuna, ia juga telah menganggapnya murni karena ulah ia sendiri. Tapi, itu adalah ulah kita berempat." Jelas Tuan Gunawan, yang mencoba menahan isak tangisnya.
Ia memeluk Algeria, seperti pemeluk cucunya sendiri. Algeria dan juga Arjuna, tidak terpaut terlalu jauh. Usianya dengan Marsel juga, tidak jauh.
Algeria menangis sesenggukan di pelukan kakek Gunawan. Ia tak pernah menyangka, bisa mendapatkan kasih sayang yang sebenarnya, dari seseorang yang meskipun dia bukan dari keluarganya.
__ADS_1
"Aku yang seharusnya berterima kasih pada tuan besar. Karena tanpa tuan besar, dan juga Marsel. Aku tidak akan bisa hidup dengan layak, aku tidak bisa melihat dunia luar, aku tidak bisa melihat sisi terangnya kehidupan."
"Karena, aku hanya bisa melihat kegelapan di mataku. Aku berterima kasih pada kalian semua, yang sudah mengizinkan aku untuk berubah menjadi lebih baik lagi."
Tuan Gunawan tersenyum, ia melepaskan pelukan dari Algeria dan menepuk pundak badan lelaki kekar itu.
Puk... Puk... Puk..., suara tepukan di bahu.
"Kau adalah pria yang tangguh dan juga kuat. Kau jangan mudah menyerah, masih ada mimpi-mimpi yang belum sempat kau wujudkan." Ucap tuan Gunawan
"Berbahagialah untuk hari ini, karena Arjuna akan segera kembali memimpin perusahaan. Aku mengharapkanmu untuk bisa menjaganya. Seperti kau menjaga adikmu sendiri, kau akan aku tunjuk menjadi kepala Bodyguard, kau siapkan Algeria?"
Alge pun mengangguk patuh. "Aku siap Tuan. Aku siap mengabdi kepadamu, aku akan melindungi Bos muda seperti aku melindungi tuan besar." Timpal Algeria, yang membuat Tuan Gunawan bersimakan air mata.
"Aku percaya padamu, sekarang cepat ganti bajumu, Alge. Aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu.''
Ucap kakek Gunawan, sebelumnya ia sudah menyiapkan baju ganti untuk Algeria. Karena saat ini, Algeria masih memakai baju orange jus, atau biasa dikenal sebagai baju tahanan.
"Baik tuan Besar. Terima kasih banyak atas perhatian anda."
Terbukti tidak bersalah, dan juga dijadikan sebagai bahan kelinci percobaan oleh seseorang. Yang alhasil, hanya membuat pihak kepolisian merasa bersalah. Karena telah menjadikan Algeria, sebagai pelaku dari sebuah tindakkan kriminal.
Ia diberikan kompensasi kecil dari pihak yang berwenang. Agar Alge, bisa memaafkan keteledoran mereka. Salah tankap pelaku, dan juga memperlakukannya secara tidak manusiawi, bukanlah itu hal yang tidak bisa dimaafkan?.
Namun, tidak untuk Algeria. Kali ini, dia memaafkan kesalahan para di abdi negara tersebut. Karena, ia ingin fokus pada rencana yang sudah tuan Gunawan katakan sebelumnya.
Tak perlu banyak waktu, Algeria segera mengganti baju dan lepas kembali menemui Tuan Gunawan, yang sudah menunggunya di parkiran.
Pakaian yang sangat elegan, dan mewah. Untuk standar Algeria, yang notabenenya adalah seorang ketua preman pasar.
''Apa kau sudah siap, Ge?" tanya Tuan Gunawan.
"Iya, Tuan. Aku sudah siap" jawab Algeria.
"Kalau begitu, ayo masuk. Kita akan menemui cucuku."
__ADS_1
Algeria mengangguk paham, ia menyetir mobil untuk Tuan Gunawan. Menyetir mobil dengan kecepatan sedang, karena tuan Gunawan tidak bisa jika menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi. Jika begitu, ia akan mabuk saat itu juga.
.........
Di sisi lain, Arjuna dan juga Marsel sudah tiba di perusahaan milik kakeknya Arjuna. Semua terheran-heran, dengan Arjuna yang hanya seorang driver ojek online, tapi kenapa ia bersama tuan Elgara yang merupakan calon CEO, atau cucu direktur tersebut.
"Bukankah itu tuan Elgara, Kenapa tuan Elgara bersama driver ojek kampungan itu?." Ucap Una, seorang pegawai dibagian resepsionis, yang mengetahui Arjuna hanyalah sebagai driver ojek online biasa.
Mika, selaku teman resepsionis berada di sampingnya, ia hanya mampu menepuk jidatnya sendiri.
"Aduh kau ini, dia itu bukan tuan Elgara! dia adalah tuan Marsel. Dia itu merupakan kaki tangannya dari tuan Elgara, apa kau paham?" ucap Mika
"Benarkah, kenapa aku baru tahu itu.
"Tuan Elgara belum pernah datang ke perusahaannya sendiri."
"Bukankah dia cucu satu-satunya, dari tuan besar Gunawan Sudrajat? Jika tuan Elgara berada di sini, aku pasti akan jatuh cinta padanya. Tidak terbayang, seberapa tampannya tuan Elgara. Melihat kakeknya saja masih sangat awet muda, apalagi cucunya! Pasti dia juga sangat tampan. Ah, aku tidak sabar untuk bertemu dengannya...!" ucap Una yang penuh kegirangan.
Mika yang berada di sampingnya itu, hanya menggelengkan pelan kepalanya. Ia tak tahu, harus mengatakan apa pada temannya itu.
Bagaimana ia mengatakan yang sebenarnya, jika identitas dari tuan Elgara disembunyikan oleh Tuan Gunawan itu sendiri. Dan mereka menentang keras, jika ada seseorang yang mengatakan atau pun bertanya di mana keberadaan Elgara.
"Sudahlah, jangan terlalu berkhayal terlalu tinggi. Tuan Elgara tidak mungkin mau bersamamu, perbedaan kasta dan juga kualitas hati saja sudah jelas jauh berbeda. Kau sama sekali tidak masuk kriterianya, Una" cibir Mika.
Sedangkan Una, yang masih berharap untuk mendapatkan cinta dari tuan Elgara pun harus pupus. Karena, kenyataan pahit yang Mika katakan, ada benarnya juga.
Berharap terlalu dalam, hanya akan menimbulkan luka yang dalam.
"Kau benar Mika, aku sama sekali tidak pantas untuk Tuan Marsel, apalagi Tuan Elgara. Tapi, tidak salahkan. Jika aku mencoba, untuk mengharapkan nya. Siapa tahu, Tuhan mengizinkan aku untuk menjadi pacar salah satu dari mereka."
Ina terus ngeyel, Mika pun hanya menghela nafasnya, ia tidak mau mencampur urus tentang sahabatnya itu. Biarlah ia menikmati dunia perhaluannya, dengan bisa menikahi kedua Bos besarnya.
Mika justru paling waras di antara mereka bertiga. Seharusnya, pegawi resepsionis di perusahaan milik kakek Arjuna ada 3. Namun karena Ina tidak hadir, jadi mereka hanya berdua.
Una, Ina dan Mika. Seharusnya ada 3, tapi Ina sudah resign saat 3 bulan yang lalu. Mereka tidak kembar, hanya kembar nama dibagian nama saja.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...