Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Bergerak Bersama


__ADS_3

Ting! Suara pesan masuk diponsel Sandiaga.


Ia terbangun dari tidurnya, dan segera mengambil ponsel yang ia taruh di atas nakas.


"Naracha? Ada apa dia mengirimkan pesan sedini hari ini, pasti memintaku untuk memberikan harta lagi." Gumam Sandiaga, ia memeriksa ponselnya dengan cara seksama.


"Apa, Naracha keterlaluan! Dia memakai Bela demi harta, dasar wanita licik!" Gerutu Sandiaga, ia segera turun dari ranjangnya dan bersiap-siap untuk menuju lokasi yang istrinya kirimkan itu.


Bagaikan tercabik-cabik hatinya, mengetahui Bela yang merupakan anak yang Sandi anggap anak kandung tengah menderita. Akibat ulah istrinya yang serakah, apa ia akan diam saja?


Tentu tidak, ia tidak akan membiarkan Bela anak kesayangannya itu celaka.


***


Malam itu, Arjuna baru saja pulang ke Vila. Gelap dan dingin, seperti tidak ada orang yang menghuni. Sekitar pukul 2 malam, Juna memutuskam pulang ke Vila untuk mengambil beberapa pakaian.


Aneh, tidak ada Bela di dalam Vila.


"BELA!" teriak Arjuna.


Arjuna berlalu begitu saja, tanpa mempedulikan keadaan istrinya yang sedang diambang kematiannya ditangan ibunya.


"WANITA ITU, HANYA BISA MEMBUATKU EMOSI SAJA!" teriaknya kembali.


Namun, dering ponselnya berbunyi menandakan adanya telepon yang masuk. Siapa lagi jika bukan dari Sandiaga, ia begitu marah karena Arjuna yang tidak becus menjaga istrinya itu.


Sandiaga : [Cepat pulang, dan bawa polisi ke hutan XXX ada vila di dalam sana. Apa kau membiarkan istrimu pulang sendirian? Dasar pria bodoh!]


Arjuna terkejut, Bela bisa pulang dengan apa? Bahkan mobil yang mereka tumpangi saja dibawa oleh Marsel. Detik itu juga, jantungnya terasa terhenti dan nafasnya sesak.


Arjuna : [Bela diculik?]


Sandiaga : [Kau pikir apa?]


Arjuna : [Aku tidak tahu ayah ... ]


Barulah kali ini ia memanggil ayahnya dengan benar, apa ia takut? Sudah sangat jelas, seperti anak yang telah membuat kesalahan yang fatal.

__ADS_1


Sandiaga : [Awas saja jika terjadi sesuatu pada menantuku, aku akan menghajarmu!]


Marah dan kecewa, kenapa Arjuna sampai tidak memperhatikan putri angkatnya yang kini telah menjadi menatunya. Segalanya telah ia berikan, bahkan nama untuk pemegang saham Arjuna yang mengambil semuanya.


Sudah jam 2 dini hari, ia harus kemana dan bagaimana? Tidak ada alat transportasi untuk kembali ke kota, menghubungi Marsel pun percuma saja. Karena butuh waktu 8 jam diperjalanan menuju menggunakan mobil.


Arjuna terpaksa menelepon Marsel, siapa tau Marsel punya alternatif penyelesaianya. Sialnya, nomer Marsel sudah tidak aktif. Mungkin karena keseringan pakai wifi, dan ia jarang membeli pulsa atau kuota. Sehingga masa perpanjangannya habis, Arjuna benar-benar memutar balik otaknya.


"Sial, kenapa dia tidak memperpanjang masa aktif nomernya!" Celetuk kesal Arjuna


"Alge, ya Alage." Barulah ia ingat, jika ia punya sahabat mantan preman.


Bagaimana tidak, Alge keluar dari lingkaran premanan pasar karena Arjuna dan juga Marsel. Mereka bertiga tumbuh bersama, hanya saja hidup Alge yang sangat tertutup dan badan kekarnya penuh luka.


Alge : [Ya, Arjuna. Kenapa kau meneleponku malam-malam begini, apa kau sedang butuh bantuan?]


Arjuna : [Iya, apa kau memiliki kenalan yang memiliki helikopter atau mobil untuk disewa kan. Tolong bantu aku mencarikannya, Marsel tidak menjawab teleponku sedari tadi.]


Alge : [Huh, anak itu pasti masih memeluk guling animenya]


Arjuna : [Kali ini aku serius, tolong bantu aku mencarikan alat transportasi malam ini juga.]


Alge : [Baiklah, aku akan telepon hasan dulu. Siapa tau dia punya helikoper untuk bisa dipinjamkan.]


Arjuna berdehem pelan, tak bisa dipungkiri jika ia pun sangat khawatir pada Arabela. Meskipun ia menganggap istrinya itu sebagai mainan.


Arjuna : [Hem, terima kasih banyak Alge. Aku tutup dulu telepon ini, hubungi aku kembali jika kau sudah menemukan kendaraan.]


Alge : [Baik, kau tenang saja. Aku akan mencarikan kendaraan untukmu.]


Sambungan telepon terputus, Arjuna menyandarkan punggungnya ke tembok dekat anak tangga.


"Apa yang telah kau perbuat, Arjuna!" Cetus Arjuna, ia menjenggut rambutnya sendiri seperti orang yang frustasi.


Sandiaga membawa berkas-berkas yang Naracha inginkan. Kekayaan dan kekuasaan yang ia inginkan, namun Sandiaga tidak sebodoh itu untuk memberikan semuanya.


"Bela, aku harap kau baik-baik saja."

__ADS_1


Lemas rasanya, mendengar anak yang sangat ia sayangi tengah berada dalam bahaya. Segera, ia pergi menuju tempat yang istrinya kirimkan. Sedangkan Arjuna, ia mencoba memutar balikkan otaknya untuk pergi dari desa ini.


Sekitar 2 jam ia menunggu, Alge datang dengan menggunakan helikopter yang sudah terkoneksi dengan tempat di mana Arjuna tinggali. Spontan, Arjuna juga keluar karena mendengar suara helikopter.


"Alge, itu pasti Alge." Ia pun keluar dengan tergesa-gesa dari dalam Vila.


Untunglah, Arjuna tidak mematikan ponselnya. Itu memudahkan Alge untuk melacak keberadaan Arjuna di mana, Alge turun dan ia menghampiri Arjuna.


"Akhirnya, kau datang juga"


"Maaf, aku kesulitan untuk mencarimu. Kita langsung berangkat?" tanya Alge, Arjuna mengangguk dengan pelan.


Seseorang turun dari helikopter dengan rambut yang terurai panjang. Cassandra Calista, istri dari Algeri Mahesa.


"Kau kenapa turun? Bukankah kau takut kedinginan" gerutu Alge


"Aku lebih takut jika sendirian di dalam."


Wanita itu berdiri di belakang Alge, entah kenapa ia begitu takut ketika melihat Arjuna yang menatapnya.


"Tidak usah takut, dia pria baik."


Pria baik? Rasanya Arjuna ingin muntah ketika mendengar seseorang mengatakannya adalah pria yang baik. Pria yang baik tidak mungkin menelantarkan istrinya, dan juga berselingkuh sampai hubungan sudah sangat erat.


"Ayo, Juna. Kita pergi, sebelumnya aku sudah menelepon Marsel. Namun sayangnya, nomernya masih tidak bisa dihubungi. Tapi kau tenang saja, aku sudah memberitahu om Marvel untuk mengatakan pada Marsel."


Arjuna mengangguk pelan, tanpa pikir panjang ia naik ke dalam helikopter dengan hati yang was-was. Bagaimana dengan keadaan Bela kini, barulah ia menyadari kesalahannya yang telah ia perbuat barusan.


Marsel terbangun, setelah ia mendapatkan cibiran dari sang ayah ia segera bangun dan menjalankan perintah dari Arjuna.


"Ada apa dengan pasutri baru , , sepertinya aneh jika istri bos muda pulang sendirian. Mengingat mobil mereka aku bawa, aneh. Pasti telah terjadi sesuatu." Gumam Marsel, ia segera turun dari ranjangnya.


Bergegas mencari ponselnya di atas nakas, Marsel melihat dengan jelas. Jika jaringan selulernya bersilang, yang menandakan tidak ada kartu sim yang terisi di sim card ponsel Marsel.


Ia menepuk pelan keningnya. "Aku lupa, jika belum mengganti nomerku yang kemarin patah karena bertengkar hebat dengan Mika." Tidak memerlukan waktu yang lama, akhirnya Marsel segera pergi dini hari itu juga.


Sesuai dengan apa yang Arjuna sampaikan pada ayahnya. Dengan harapan Marsel segera sampai di tempat, saat Arjuna juga sampai di lokasi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2