Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Awal Kehancuran


__ADS_3

Keesokan harinya, Arjuna dan juga Marsel pergi ke perusahaan sang kakek untuk melakukan pengamatan. Sebenarnya Arjuna sudah tau, tentang apa yang sudah terjadi di perusahaan. Tapi, ia memilih untuk diam. Karena saat itu, statusnya hanyalah seorang driver ojek online biasa.


"Bos muda" sahut Marsel, yang memanggil Arjuna.


Arjuna pun hanya berdehem. "Heem, kenapa?" tanya Juna.


"Apa yang bos muda rencanakan? Semalam, aku tidak mendengar apa pun ketika bos muda dan bos besar mengobrol." Tanya balik Marsel, ia semakin kepo saja.


"Kau memang benar-benar ingin tahu?"


"Iya, bos muda"


"Tapi jangan terkejut jika kau mendengarnya, ya!"


Marsel terdiam, ia sesekali melihat ke arah kaca spion yang berada di dalam mobil.


"Baik bos, apa rencananya?" tanya kembali Marsel.


Arjuna menghela nafasnya dalam-dalam. "Aku akan menikahi saudari tiriku, secara agama menikahi saudari tiri itu hukumnya sah. Tapi, jika saudari tiriku itu adalah anak kandung dari ayahku, maka itu hukumnya tidak sah, Sel."


Marsel terdiam, ia kembali mencerna perkataan dari Arjuna. "Tapi bos, akankah lebih menyakitkan jika kita menyakiti orang yang tak bersalah?'' timpal Marsel.


"Aku tahu, tapi ini aku lakukan demi balas dendamku pada ayahku. Aku tidak bisa diam, dia harus menerima ganjarannya!" cetus Arjuna.


Tak ada yang bisa mengetahui tentang isi hati Arjuna. Entah bagaimana nantinya, jika ia malah terjebak oleh permainannya sendiri.


"Tapi bos muda, aku sangat takut jika kau malah jatuh cinta pada saudari tirimu"


"Kau tenang saja, Marsel. Aku akan mengendalikan hatiku, karena aku telah menyimpan nama seorang wanita dihatiku."


Marsel hanya menduga, mungkin wanita tersebut adalah ibunda Arjuna. Namun kenyataannya salah, Afriska lah yang kini telah menjajah hati Arjuna.


Mobil yang mereka kendarai, malah berhenti di sebuah mini matket. Marsel yang kala itu tengah menyupir pun ia berdengus kesal. Pasalnya, hari semakin siang. Ia takut, jika Arjuna akan memarahinya nanti.


"Bos muda, maaf. Sepertinya, bensin mobil ini telah habis" ucap Marsel yang setengah ketakutan.


"Oh, ya sudah. Belikan bensin sekarang!" ujar Arjuna dengan santuynya.


"Tenang saja, bos muda. Aku sudah menyiapkan bensin cadangan di bagasi mobil." Sahut Marsel, ia pun turun dari dalam mobil, dan segera mengambil bensin di bagasi mobil.

__ADS_1


Saat ia membuka bagasi, Marsel terkejut karena botol yang berisikan bensin cadangan tidak ada. Alhasil ia pun kembali masuk ke dalam mobil, untuk mengambil ponselnya agar ia bisa memesan bensin via online.


"Ada apa?" tanya Arjuna yang heran.


"Maaf bos muda, aku lupa membawa bensin cadangannya" jawab Marsel.


Arjuna hanya mengangguk, ia pun keluar dari dalam mobil. Marsel panik, ia takut jika bos mudanya itu nanti malah marah.


"Bos muda, tunggu saja di dalam mobil. Aku sudah memesan bensin, sebentar lagi drivernya akan sampai." Sahutan Marsel, yang mencoba menghentikan langkah Arjuna.


Arjuna berhenti, ia membalikan badannya dan menatap dingin Marsel.


"Heem, aku ingin membeli beberapa es cream dulu. Beruntungnya, mobil ini mogok di depan mini market." Timpal Arjuna, yang membuat Marsel tersadar.


"Hhhm, b-baik bos muda" ucap Marsel yang kembali gugup.


Arjuna kembali melangkahkan kakinya, menuju masuk ke dalam mini market tersebut. Saat ia membuka pintu, matanya tertuju pada Afriska yang kala itu sedang membeli perlengkapan bayi.


Harapannya sedikit sirna, apa mungkin Afris sudah memiliki bayi. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Karena, dengan kekuasaan yang ia miliku sekarang. Arjuna pasti akan dilirik oleh Afris, apalagi tampang Arjuna yang sangat tampan.


Arjuna mendekati Afriska, ia menundukkan kepalanya hingga menabrak bahu Afriska.


"Mas, hati-hati dong jalannya!" pekik Afriska yang kesal.


"Oh, maaf mba. Saya buta, buta karena cinta mba" timpal Arjuna.


Tak ada harga dirinya lagi, Arjuna seketika bodoh ketika mengenal cinta.


Afriska hanya menepuk keningnya, ia tak menyangka bisa bertemu dengan pria konyol itu lagi.


"Mas, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Afriska yang basa-basi.


Arjuna menjawab. "Iya, Mbak. Nanti kita juga akan bertemu lagi, di pelaminan hehehe." ucap Arjuna yang cengengesan.


Semakin tak bisa memendung rasa malunya lagi, Afriska pergi meninggalkan Arjuna. Namun, ia sedikit tersenyum ketika Arjuna mencoba merayunya.


Tak mau kehilangan bidadarinya lagi, Arjuna mulai mencoba mendekatinya. Namun sayang, Afriska telah jauh dan ia juga dihadang oleh Arabela, yang tak sengaja juga ada di sana.


"Lho, kamu kan?." Ucap Bela yang sedikit ambigu, ia sambil menunjuk Arjuna dengan jari telunjuk tangan kanannya.

__ADS_1


Arjuna malas, tapi wanita yang berada di depannya adalah calon istrinya nanti. Tapi masa bodi, Arjuna kan menikahi Arabela karena balas dendam.


Arjuna melangkahkan kakinya, namun Arabela berhasil menghalangnya.


"Tunggu, tunggu. Aku mau tanggung jawab!" cegah Bela, ia berusaha menghalangi Arjuna.


Arjuna berdecak kesal. "Ck! Pergilah dari jalanku, aku tidak mengenalimu, ataupun pernah bertemu denganmu sebelumnya." cetus Arjuna.


"Tidak! Kita pernah bertemu sebelumnya!" tegas Arabela, Arjuna semakin malas mendengar perkataan dari Arabela.


"Ya Tuhan... Belum menikahinya saja aku sudah muak mendengar suaranya, apalagi jika nanti aku menikahinya. Memang benar, kita berdua memang tidak ditakdirkan untuk bersama," batin Arjuna yang terus menggrutu.


"Terserahmu nona, aku sama sekali tidak mengenalmu."


Arjuna hendak akan pergi, namun Bela kembali menghalanginya lagi.


"Tunggu, izinkan aku memperkenalkan diriku dulu. Aku Arabela Nacha, putri dari presdir Sandiaga. Kau pasti mengenalinya kan? Dia adalah pengusaha kaya raya di kota Sanjung." ucap Arabela,


"Dasar bodoh! Dia juga ayahku! tepatnya ayah gila!" batin Arjuna.


"Apa urusannya denganku? Apa kau penting bagiku?" cetus Arjuna


"Iya" sahut Arabela tanpa malu.


Arjuna merasa mual mendengarnya, ia membalas perkataan Bela dengan sedikit pedas.


"Dengarkan aku nona muda, Arabela Kaca! Maksudku, Nacha! Aku tidak peduli padamu, aku hanya ingin mengatakan padamu. Bahwa sebentar lagi, ayahmu akan mengalami kebangkrutan! Jadi bersiaplah, dan jangan terlalu sombong. Kesombongan, bisa melahap habis jati diri seseorang, jadi berhati-hatilah!." Ucap Arjuna, dengan nada penuh ketegasan disetiap kalimatnya.


Merasa direndahkan, Arabela mengepalkan tangannya. Beruntung Arjuna segera pergi, ia malah jika berhadapan dengan wanita.


Arabela semakin kesal, ia menarik lengan baju Arjuna sehingga Arjuna kembali lagi pada Bela. Arabela menarik kerah baju kemeja Arjuna, ia menariknya sampai Arjuna jatuh berlutut.


"Dengarkan aku juga ya, tuan yang sangat sombong! Aku tidak tahu siapa kau, aku hanya berniat untuk mempertanggung jawabkan kesalahanku tempo hari. Tapi kenapa kau malah menghina ayahku! Aku tida buta, dan juga rabun! Aku masih ingat batang hidungmu, dan juga letak tahi lalatmu! Jagalah sikapmu, tidak semua orang lemah akan terlihat lemah!!."


Arabela menghempaskan kerah baju kemeja Arjuna. Ia juga menendang tumit Arjuna, yang sudah pastinya membuat Arjuna meringis kesakitan.


Lalu, Arabela pergi dari mini market tersebut. Arjuna memegang tumitnya yang terasa nyut-nyutan.


"Aaagggh! Dasar wanita sialan! Awas saja nanti kau! Aaagggh. Tolong, sepertinya kakiku akan meninggal dunia..."

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2