
Arjuna pergi menuju rumah besar, ia merasa sangat lelah ketika menghadapi permasalah di kantor tadi. Fokusnya terhalang, dan kepalanya terasa sangat berat.
Matanya tak sengaja melihat Arabela yang sedang berjalan di trotoar, Arjuna mengklakson dan membuka kaca mobinya itu.
"BELA!" teriak Arjuna, Bela yang menyadari namanya dipanggil spontan melirik ke sebelahnya. Ia melangkah dengan panjang, berharap Arjuna tak mengejarnya kembali.
Namun nihil, Arjuna tetap mengejar Arabela. Derai air mata jatuh, ia tak bisa menahan sedihnya karena kenyataan pahit yang menyakitkan ini.
"Bela, berhenti! aku ingin berbicara padamu!" pekik Arjuna, ia terpaksa harus menghentikan mobilnya dan mengejar Bela dengan berlari.
"Bela, berhenti!" Arjuna keluar dari mobil dan langsung berlari mengejar Bela.
Arjuna memeluk Bela dari belakang, mereka seperti sepasang suami istri yang sedang bertengkar.
"Lepaskan aku, Elgara!" tegas Bela, namun Arjuna semakin menguatkan pelukannya.
Bela terpaksa mengigit tangan Arjuna, ia ingin melepaskan diri pada Arjuna yan masih ia anggap Elgra.
"BELA!" ucap Arjuna dengan nada penuh ketegasan.
Arjuna membalikkan badan Bela, ia memeluk Bela dari depan dengan sangat erat.
"Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya, kau mau kan mendengarkannya?" pinta Arjuna, Bela mengangguk dengan pelan.
"Ayo kita bicara di dalam mobil saja." Arjuna menarik pergelangan tangan Bela, sedangkan Bela hanya pasrah mengikuti kemauan Arjuna.
Mereka berada di dalam mobil, tak ada topik pembicaraan selain suara isak tangis dari Bela. Arjuna memasangkan sabuk pengaman pada Bela, ia juga menghapus air mata yang membasahi pipi Bela.
"Hei, jangan menangis terus..." pinta Arjuna, ia masih mengusap pelan pipi Arabela.
"Aku... Aku sebenarnya siapa....? siapa ayahku, Elgara..." lirih Bela, Arjuna tak kuasa menahan sedih yang Bela rasakan saat ini.
"Ayahmu Sandiaga, karena dia juga ayahku!" ucap Arjuna, ia berhasil membuat Arabela tercengang tak percaya.
__ADS_1
"Apa..." lirih Bela yang tak percaya jika Sandiaga adalah ayah dari Arjuna.
"Hm, iya. Satu-satunya yang bisa menolong perusahaan ayahmu bangkit kembali adalah aku, tapi dengan satu syarat." Ucap Arjuna yang menggantung.
"Syarat apa itu?" tanya Arabela yang penasaran
"Syaratnya gampang, satu-satunya syarat yang aku inginkan adalah, kau menjadi istriku. Apa kau bisa memenuhi syarat tersebut?"
Pernyataan Arjuna membuat Bela semakin syok, saat ia mendengar pernyataan bahwa Arabela bukan anak dari Sandiaga, dan kini Arjuna mengeluarkan satu syarat ia ingin Bela menjadi istrinya, permainan macam apa ini.
"Apa kau gila?! Mengapa kau ingin menikahiku. Apakah tidak ada wanita lain lagi selain aku! " pekik Arabela, ia hendak ingin keluar dari mobil Arjuna.
Namun, Arjuna telah mengunci mobil tersebut sehingga Arabela terkunci dari dalam. Arjuna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia membawa Bela pergi. Bela sangat terkejut dengan tingkah Arjuna yang aneh seperti ini.
"Kau ingin menculik aku kemana! sebaiknya kau culik saja janda kesepian!" celetuk Arabela
Namun, Arjuna tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan dan lewat jalan yang berlawanan ke mana Arabela dan juga Arjuna pulang.
"Kau mau membawaku ke mana?! kau ingin menculikku dan menikahiku secara diam-diam! Tolonglah jangan seperti ini, kita bisa musyawarahkan jika kau ingin menikah denganku!" ucap Bela dengan penuh ketegasan di setiap kalimatnya.
"Apa kau sudah makan? tadi aku bertemu dengan ayahmu, eh tidak maksudnya ayahku. Aku tadi memesan beberapa makanan tapi ayah kita tidak memakannya, ini untukmu saja aku pikir kau lapar. Karena terlihat badanmu yang semakin hari semakin kurus."
Bela tidak mengambil paper bag itu, dia takut jika Arjuna menambahkan sesuatu semacam obat pada makanan dan minuman tersebut.
"Makanlah, aku tidak akan menyakiti wanita sepertimu."
Karena merasa lapar juga, Arabela pun mengambil makanan itu dengan pelan. Ia ragu-ragu untuk mengambilnya, Arjuna memberikan semua pada Arabela. Melihat Bela yang makan begitu lahap, Arjuna tersenyum sambil mengacak-acak rambut kepala Bela.
"Makanlah, aku pasti akan segera menyelesaikan masalah ini semua" sahut Arjuna
Entah bagaimana perasaan Arabela saat ini, yang pastinya ia sangat nyaman ketika berada di dekat Arjuna. Ia merasa aman dan terlindungi, layaknya seperti seorang kakak laki-laki yang melindungi adik perempuannya.
"Terima kasih." Hanya itu yang mampu Bela ucapkan, perasaan aneh ini muncul dihatinya.
__ADS_1
"Sama-sama. Makanlah, karena kita akan datang ke suatu tempat" ungkap Juna.
Bela terdiam sejenak, ia mencerna baik-baik apa yang Arjuna katakan tadi, sambil mengunyah makanan yang masih berada di mulutnya.
"Kita mau ke mana, uhuk!" Bela tersedak oleh makanan sendiri, Juna memberikan kopi es yang ia minum tadi.
"Selesaikan dulu makanmu! kau seperti anak kecil saja!" Arjuna melihat Arabela yang sepertinya baru makan setelah sekian lama.
"Biarkan saja, aku tidak peduli." Ucap Arabela sambil mengunyah kembali makanannya. Arjuna hanya menatap tak percaya kepada Arabela yang begitu kelaparan. Apakah kedua orang tuanya itu tidak memberinya makan,
Hingga sampailah mereka di salah satu pemakaman umum kota, pemakaman itu begitu sangat terawat dan juga sangat bersih. Arjuna melepaskan sabuk pengamannya dan juga sabuk pengaman dari bela, Arabela bingung dengan Arjuna yang membawanya ke pemakaman.
"Kenapa kau membawaku ke sini? kau tidak ingin membuatku terluka kan?" cetus Bela, yang spontan dibalas oleh Arjuna.
"Apa? ikut saja aku mau ke mana. Kau akan mengerti setelah nanti akan aku jelaskan."
Arjuna berjalan di depan bela, bela yang berada di belakang Arjuna hanya menuruti perkataan Arjuna, dan mengikuti langkah-langkahnya untuk masuk ke area pemakaman tersebut. Arjuna mencoba menguatkan dirinya, untuk tidak menangis.
Tidak seperti Arjuna yang dulu pernah dibuang oleh Sandiaga saat ibunya meninggal dunia, dan saat ini ia kembali lagi sebagai tuan muda Elgara. Mereka berdua sampai pada makan yang bertuliskan, Ita Sudrajrat binti Gunawan Sudrajat yang menandakan itu adalah makam ibundanya Juna.
Arjuna duduk di samping makan ibunya, begitu pula dengan Bela yang ikut-ikutan.
"Bunda, ini dia Arabela. Dia adalah putri yang sangat ayah sayangi, dan saat ini aku membawanya ke hadapanmu untuk meminta restu darimu, karena kami akan segera menikah."
JEDDDAR, mendengar perkataan dari Arjuna. Arabela pun tercengang, belum juga berdiskusi dengan Sandiag. Arjuna sudah mengatakan ia akan menikahi Arabela.
"Apa! apa kita benar-benar jadi menikah?!" Arjuna pun hanya mengganggu pelan, Bela semakin tak bisa dibuat percaya oleh Arjuna yang akan serius.
"Tapi, aku takut...?" lirih Arabela
"Takut kenapa, hm? Bukankah dengan menikah denganku akan menyelamatkan semuanya, kau tidak mau saat semua kekayaan ayahmu disita oleh bank, dan kau harus membayad hutang ayahmu yang berpuluh-puluh milyar itu bagaimana?"
Arabela tersadar, tidak ada pilihan lain selain menerima Arjuna. Walaupun jika nantinya ia harus menahan sakit, dan juga cibiran dari pembaca.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...