
Marsel menyiapkan persiapan untuk bos muda dan juga istri bosnya, nampaknya ia begitu mensyukuri pekerjaannya ini. Juna pulang ke rumah besar bersama Marsel, minggu ini ada kumpulan para badebah yang menggelapkan dana perusahaan. Ia tentunya begitu terkejut, apalagi mereka berdua akan segera pergi ke Bandung untuk melihat pembangunan PT.Yo-Jek (Ayo Ngojek)
Di perjalanan, hanya ada suara suara dari radio mobil yang memutarkan lagu dari penyanyi charlie puth. Arjuna begitu menikmati dan juga dengan Marsel. Sepertinya itu menjadi obat penghilang stres mereka, setelah melewati beberapa masalah baru-baru ini.
“Marsel, apa kau tau yang sebenarnya niatku untuk menikahi Arabela. Dan juga, kenapa aku mau melunasi beberapa hutang ayahku meskipun kau tau, seberapa bejatnya ayahku itu.” Sahut Arjuna, ia memulai pembicaraan.
Marsel menoleh ke belakang, lalu ia kembali ke depan untuk melihat jalan.
“Tidak, bos muda. Kenapa emangnya?” tanya Marel dengan penuh penasaran.
“Itu karena, aku ingin menguasai harta dan mengambil semua kekayaan ayahku. Dan kau tahu juga, ternyata Bela adalah anak kesayangannya walaupun bukan kandung.” Jawab Arjuna, Marsel hanya menghela panjang napasnya.
“Bos muda, ada baiknya nanti kamu berhati-hati. Maksudku, hal apa saja yang melibatkan hati akan sakit.” Tutur Marsel
“Aku tau, aku tidak akan pernah menerima Bela di hatiku. Itu hanya sebuah candaan saja untuk mempermainkannya, aku akan segera membuangnya setelah rencana ini selesai.” Ucap Arjuna, Marsel tak menjawab perkataan Arjuna.
Mereka sampai di rumah besar, nampak Arjuna yang sedang mengobrol dan juga terkekeh pada sang kakek yang menjabat sebagai komisaris direktur.
Marsel terfokus pada ponselnya, ia tak habis pikir jika Mika akan semarah ini padanya. Sampai kakek Gunawan melihat Marsel yang nampaknya sedang tak karuan.
“Marsel kau kenapa? Kau tidak sedang jatuh cintakan?” tanya Kakek Gunawan
“Aih, tentu tidak bos besar” jawab Marsel
“Kau sedang tidak gila kan, Marsel?” Celetuk Arjuna, yang langsung mendapatkan cubitan dari Bela.
Kakek Gunawan hanya menggelengkan pelan kepalanya, melihat tingkah cucu kesayangannya yang tak ada habisnya. Mereka bertiga berpamitan sore itu juga, sangat melelahkan bagi kedua pria itu. Tidak ada kata lelah selain bekerja keras, dan sore itu juga mereka langsung pergi ke kota kembang.
__ADS_1
Marsel melihat Arjuna yang nampaknya sangat kelelahan, bos mudanya itu menolah makan siang karena harus mengurus beberapa manager yang tak becus. Dan kumpulan badebah yang menggelapkan dana cukup fantastis, sekitaran 5 milyar banyaknya.”
Malam berganti, kini mereka telah sampai di villa yang sudah Marsel sewa. Marsel membangunkan pasutri yang tertidur itu, mereka terbangun walaupun matanya masih berat. Lalu bagaimana dengan Marsel, sepertinya ia sangat kurang tidur.
“Hm, ayo sayang kita masuk ke kamar kita. Aku sudah sangat mengantuk, besok ada beberapa tugas yang perlu aku jalankan.” Ucap Arjuna, ia merangkul Arabela dan masuk ke dalam villa itu.
Juna meninggalkan Marsel sendirian yang tengah mengangkuti barang, bisa-bisanya Arjuna sekejam ini.
“Dasar bos muda, ujung-ujungnya minum ludah sendirikan!” gerutu Marsel.
Mereka bertiga memilih langsung istirahat, karena besok ada beberapa pekerjaan yang akan harus diselesaikan. Tapi sayangnya, Bela tak bisa tidur malam itu. Arjuna terus memeluk tubuh Marsel dari belakang dengan sang kencang. Hal itu membuatnya sesak untuk bernafas.
‘Astaga, apa aku ini menikah dengan beruang? Sangat berat dan sesak sekali.’ Batin Bela yang menggerutu.
Pagi harinya, Arjuna terbangun terlebih dulu dari Bela. Ia kerkejut karena memeluk Bela yang dengan begitu erat, Juna terkejutdan menghempaskan Bela sampai ia sendiri jatuh ke bawah lantai.
Dia menatap dirinya dicermin, dirinya yang kini bukan seperti Arjuna yang dulu. Perut kotak yang sudah menghilang, dan juga pipinya yang kian membulat chabi.
“Aku butuh olahraga, setelah proyek ini beres aku akan pergi ke gym untuk fitnes” gumam Juna.
Lepas mandi, Arjuna keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang masih terlilit dipinggangnya. Dan, rambut yang masih basah begitu saja. Juna segera mengeringkan badan dan juga rambutnya, ia memakai pakaian kerjanya dan melempar handuk basah itu ke arah Arabela yang masih tertidur.
Bela terkejut dan langsung bangun, Arjuna tersenyum, melihat istrinya yang terlihatdengan napas yang menggebu-gebu.
“Masih mau tidur lagi? Kau mau aku tinggal pergi sendirian di sini?” celetuk Arjuna.
Bela terdiam, ia menundukan kepalanya karena takut jika nanti Juna akan membanting tubuhnya yang kecil itu. “Sudahlah, cepat mandi sana. Atau, kau ingin aku mandikan ya?” seru Arjuna, ia mendekat ke arah Bela yang masih belum mendongkakan wajahnya.
__ADS_1
Bela tersadar, ada yang tidak beres dengan tingkah Arjuna baru-baru ini.
“Ti-tidak, aku akan pergi mandi sekarang juga!”
Iaa berlari dan mengambil handuk itu, lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan sangat ketakutan. Bagaimana tidak, Juna sudah seperti pria hidung belang yang pintar menggoda saja akhir-akhir ini. Meskipun Bela tidak tahu,jika itu adalah kebohongan terbesar Arjuna untuk menipu Arabela.
Lapar menyerang, sambil menunggu sang istri beres. Juna pergi ke dapur hendak untuk sarapan, tapi ia lupa jika mereka baru saja sampai tadi malam.
“Marsel, sedang apa kau di sini?” tanya Arjuna, ia melihat Marsel yang sedang menyiapkan sarapan itu.
“Sedang menyiapkan sarapan, bos muda. Aku lupa untuk membeli bahan makan untuk di villa kemarin, maaf.” Marsel nampaknya merasa bersalah, tapi Arjuna tak mengambil pusing hal itu.
“Tidak masalah, kita belanja ke mini market saat berangkat nanti. Biarkan Arabela yang memasak, kau pesan semua makanan ini?” tanya lagi Arjuna, melihat makanan yang cukup banyak dan mengunggah seleranya.
“Aku memesan 3 nasi goreng, dan beberapa telur dadar bos muda.” Jelas Marsel, Arjuna duduk dan langsung menyambar nasi goreng yang telah Marsel siapkan.
“Bos muda tidak menunggu istri bos muda? Dia belum keluar bos, apa istri bos muda belum bangun juga?” tanya Marsel
“Sudah, dia sedang mandi. Tidak masalah, dia bisa makan sendiri kau sudah pisahkan untuknya juga kan? Aku akan memunggunya, dan juga menemaninya sampai ia selesai makan.” Jawab Arjuna, ia memasukan nasi gorengn itu ke mulutnya.
Marsel tak ambil pusing, ia juga sarapan sambil melihat layar ponselnya. Karena ada beberapa pekerjaan di kantor pusat yang harus Marsel amati, takutnya ia lalai dan terjadi masalah lagi.
“Marsel, apa kau sudah memiliki kekasih? Aku lihat belakangan ini kau selalu terfokus pada ponselmu?” tanya Arjuna yang begitu penasaran.
“Tidak ada, aku kan melihat layar ponsel karena mengawasi beberapa kegiatan kantor. Pacaran hanya akan membuang waktu, aku juga belum siap memberikan 7/24 ku untuk kekasihku.” Jawab jelas Marsel, yang sudah pastinya itu adalah bualan semata.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Sorry jarang up, kemaren sedang semedi di kamar 😁