Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Pagi Pengantin


__ADS_3

Hari berganti, sepasang pengantin baru itu pun tidak melakukan apapun di malam pertamanya. Arjuna terbangun terlebih dahulu, ia mendapati Arabela yang masih terlelap dalam tidurnya.


Ia tersenyum lalu menjentikkan jarinya, sepertinya Juna memiliki rencana lain untuk pagi harinya ini.


"Bela, aku tahu kau pasti akan menyukainya!"


Arjuna mengambil pewarna makanan berwarna merah di dalam mini bar atau, kulkas berukuran kecil itu. Pewarna makanan itu mirip seperti merah darah, selain memiliki dendam ternyata ia adalah pria yang jahil. Apakah Bela akan menganggap dirinya sudah dijamah oleh suaminya, ada-ada saja Arjuna ini.


"Rasakan ini, kau pasti akan terkejut."


Arjuna menuangkan pewarna merah itu di sprei yang berwarna putih, beruntungnya juga baju tidur yang Arabela kenakan berwarna merah, sehingga warnanya hampir sama.


"Sayang, aku mau ke kamar mandi dulu. Kau jangan berteriak saat aku mandi ya..."


Arjuna bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dia membersihkan badannya yang semakin hari semakin kurs karena, begitu banyak pekerjaan kantor yang harus ia selesaikan.


Ditambah lagi, dengan harus mengembalikan perusahaan ayahnya yang sudah bangkrut itu, mengembalikan kembali perusahaan yang bangkrut tidaklah mudah. Terlebih lagi, Juna juga langsung mencari investor yang ingin menanamkan modalnya di perusahaan ayahnya kembali.


Dengan sangat terpaksa, ia harus kehilangan uang tabungan yang selama ini ia tabung dari jerih payahnya sendiri. Namun, semuanya terbalaskan ketika ia sudah memiliki Arabela. Karena dengan Arabela, semua rencananya akan berjalan dengan lancar.


Bela terbangun dari tidurnya, ia mengedipkan matanya yang begitu perih dan juga berat. Seketika itu, ia membulatkan matanya ketika ada darah di spreinya yang berwarna putih, Bela menutup mulutnya yang terbuka. Ia tak habis pikir apa yang sudah terjadi tadi malam, bukankah tidak ada apa-apa diantara mereka.


"Kenapa ada darah? Padahal kita berdua tidak melakukan apa-apa, tapi kenapa ada darah?" tanya Bela pada dirinya sendiri.


"Apa aku yang sudah, tidak mungkin aku kan tidur!" gumam Arabela


Ia melihat di sekelilingnya tidak ada Arjuna, akan tetapi air di kamar mandi terdengar dengan sangat jelas. Mungkin Juna berada di dalam kamar mandi, Arabela menunggu sang suaminya tersebut sambil berkaca dirinya di depan cermin.


Dia merasakan ada yang aneh, entah itu perasaan cinta atau pun perasaan senangnya untuk menikah dengan Arjuna.

__ADS_1


Akan tetapi, Arabela segera menyingkirkan hal tersebut karena dia harus tahu diri, Arjuna adalah suaminya. Dia tidak mungkin memint cerai saat sudah menikah, apalahi baru satu hari. Terlebih lagi, Arjuna sudah begitu banyak membantu kehidupan Arabela.


Justru Bela sangat berhutang budi pada Arjuna, sang suami keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Ia mengenakan bath towel berwarna putih. Arjuna melirik ke arah Arabela yang sudah bangun.


Ia tersenyum hendak akan mendekati saudari dirinya, yang sudah menjadi istri sahnya tersebut.


"Kau sudah bangun, sayang. Bagaimana semalam, apa kau puas?"


Pertanyaan dari Arjuna membuat Bela bingung harus menjawab apa, mereka berduakan tidak melakukan apa-apa tadi malam, tapu kenapa Juna mengatakan hal yang konyol seperti ini.


"Puas? Puas untuk apa, memangnya kita melakukan apa semalam?" tanya balik Arabela.


Arjuna tersenyum, ia duduk di samping ranjang.


"Bukan kita, tapi kau yang telah berbuat seenaknya padaku. Aku meminta pertanggungjawabanmu, jika kau tidak mau bertanggung jawab aku akan menuntutmu!"


Arabela menggelengkan pelan kepalanya, ternyata ia tidak sebodoh yang Arjuna kira.


"Tidak, kita akan menikmati bulan madu dulu. Kau ingin berbulan menuju ke mana? ke Eropa atau ke Timur Tengah?"


"Aku terserah padamu mas, jika perlu kita pergi bulan madu ke tempat yang dekat saja dan tidak usah jauh-jauh."


Nampaknya Arabela cukup tahu diri, setelah merepotkan Arjuna beberapa waktu yang lalu. Demi membayar dan mengembalikan fasilitas-fasilitas rumah megah mereka.


Pergi ke luar negeri seperti ke benua Eropa, ataupun Timur Tengah pasti akan mengeluarkan uang yang begitu banyak, belum dari segi transportasi dan konsumsi. Bela tidak ingin menambah beban yang Arjuna pikul, ia lebih baik mengalah dan tidak meminta banyak hal pada Arjuna.


"Apa kau serius, karena jika kau tidak ingin sekalipun aku tetap memaksamu berbulan madu, karena aku sudah mengambil waktu cutiku selama 1 bulan. Kau tenang saja, Marsel sudah menghandle pekerjaanku." Jelas Arjuna namun Arabela tetap kekeh pada pendiriannya.


"Terserah Mas Elgara saja, aku hanya akan mengikutinya saja."

__ADS_1


Sebenarnya ia memiliki keinginan untuk pergi ke Raja Ampat, sebagai destinasi hiburannya saat akhir tahunan. Akan tetapi keadaannya yang tak bisa mengertinya, karena keterbatasan uang.


"Ya sudah jika kau tidak menginginkan bulan madu, kita masih bisa menunda honeymoon kita lain waktu."


Arjuna berdiri, ia mengambil bajunya untuk ia kenakan. "Kau masih di sana? ingin melihat aku memakai baju? boleh saja..."


Arabela pun tersadar, ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan mandi


Arjuna melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, dia mendapatkan pesan Whatsapp dari Marsel sang sekretaris.


Marsel menuliskan di dalam pesannya, akan kejadian yang dulu pernah menimpanya saat di ulang tahun Pak Burhan tempo hari itu.


Pesan dari Marsel :


"Selamat pagi, Bos muda. Apa kau masih ingat dengan kejadian yang menimpaku saat malam itu, saat kau menemukanku di hotel Cherry nomor 212. Dan saat itu, aku dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Dan apa kau masih ingat, tentang suara seorang wanita yang menjawab sambungan dari telepon bos muda?"


"Aku mendengar suara itu lagi, suara itu hampir. Namun aku sedikit lupa, dia adalah wanita yang membawaku ke hotel, aku tidak begitu mengenalnya akan tetapi aku akan segera mencarinya untuk menuntut pembalasan."


Begitulah pesan singkat dari seorang Marsel Abian, ia nampak begitu kesal karena telah kehilangan keperjakaannya karena telah direbut, oleh seorang wanita tak berperasaan meninggalkannya begitu saja.


Ada rasa lucu yang Arjuna rasakan, ketika sang sekretarisnya yang judes dan jutek ini akhirnya bisa merasakan kenikmatan duniawi. Walaupun Arjuna tahu, bahwa itu adalah dosa besar.


Brkanlah itu menjadi urusan Marsel dan Tuhan, Arjuna hanya bisa membantunya jika Marsel memerlukan bantuan.


" Marsel. Seandainya ada CCTV yang merekam kejadian saat itu, mungkin kau akan mudah untuk mencarinya" gumam Juna


Tidak ada satupun CCTV yang memperlihatkan ketika Marsel dibawa oleh wanita itu, siapa lagi jika bukan Jessica, sang model internasional yang sempat ingin mencelakai Marsel. Tapi beruntungnya, ia bertemu dengan Mika yang masih sama-sama tersegel. Jadi Marsel tidak terlalu rugi-rugi amat, mereka berdua sama rugi.


...bersambung...

__ADS_1


main ke nopelnya babang acel yu, "terjebak oleh perasaan yang salah" 😙💋


__ADS_2