
Bela bangun terlebih dulu dibandingkan Arjuna, ia merasa sesak karena sepertinya ada sesuatu yang melingkar diperutnya. Ia mencoba mengecek dan melihatnya, Bela terkejut karena itu adalah Arjuna.
“Kenapa dia bisa di sini? Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa aku harus pergi?” batin Bela.
Sekuat tenaga ia mencoba melepaskan pelukan dari Arjuna, namun karena tangan Arjuna yang besar sehingga membuat Bela kesusahan.
“Kau harus diet, Juna. Badanmu sangat berat sekali, aku sampai tidak sanggup untuk meng-“
“Harus apa?”
Arjuna memotong perkataan Bela yang mendadak bangun, Juna menopang kepalanya dengan tangan kanannya.
“Kau menyebutku apa tadi? Juna? Berani sekali kau memanggil suamimu dengan sebutan nama!” celetuk Arjuna, ia mendekati Arabela namun Bela berhasil menghindar
“Aku harus masak untuk sarapan.”
Bela pergi saat Juna hendak akan menangkapnya, ia tak ingin terjebak dalam drama pasutri kejar-kejaran di pagi hari seperti di film-film.
***
Sandi kembali keperkerjaannya setelah perusahaannya kembali aman, saat ia sedang bekerja seseorang datang masuk ke ruangannya tanpa permisi. Dia adalah ‘Naracha’ istri Sandiaga yang kini akhirnya telah kembali, ada kesal dihatinya. Mengapa Sandi tidak mengatakan jika perusahaannya telah kembali, dan rumah mewah tidak jadi disita oleh bank.
“Sayang…. Yuhu, aku pulang. Apa kau tidak merindukanmu, kau jahat sekali tidak memberiku kabar…”
Naracha tanpa salah dan juga dosa kembali mendekati Sandiaga, setelah apa yang telah ia lakukann sebelumnya pada Sandi dan juga Bela.
“Kau masih ingat pulang, Nara? Aku tau kau pasti melupakan sesuatu kan?” ucap Sandi, Naracha mendekati Sandi dan memijit pelan bahu pria yang masih sah menjadi suaminya tersebut.
“Iya… aku lupa bahwa kalian tertinggal di Indonesia. Kalau begitu, kita liburan ke Eropa ya. Aku lihat, LV mengeluarkan produk terbaru yang limited edition. Ajak juga Bela, dia pasti suka.” Ungkap Naracha, ia mengatakan hal tersebut seperti tanpa beban dan juga dosa.
“Boleh, tapi hanya aku dan Bela saja yang pergi. Kau lupa menandatangani surat dari pengadilan agama Nara, kita harus berpisah.”
Naracha berhenti memijit bahu Sandi, ia melongo jika sang suami memang benar-benar menceraikannya.
__ADS_1
“Apa? Cerai?! Tidak semudah itu, kau harus membagi hartamu 78% padaku. Untukku dan juga Arabela, hiduplah dalam kemiskinan kembali Sandi!” pekik Naracha, namun terdengar bagaikan angin yang lewat melalui telinganya.
Sandi tak berkutik, ia hanya tersenyum sinis yang menandakan penuh arti.
“Aku hanya akan memberi Arabela dan Arjuna saja, kau kan sudah ambil bagianmu dari dulu” cetus Sandi
“Tidak! Jika kau ingin memberi separuh hartamu pada Arabela saja, maka kau tak bisa menemuinya. Karena dia putriku!” tegas Nara
“Putrimu? Apa kau lupa kalau dulu kau mengandung anakku dan menginginkan aku untuk bertanggung jawab? Jika dia bukan putriku, lalu putri siapa Nara?”
JEDDDAR! Pertanyaan jebakan terlontar dari mulut Sandi, memang benar jika Bela bukan putrinya. Tapi tidak sepantasnya Nara menipu Sandi sampai sebegitu fatalnya.
“Kau ingat? Dulu kau sendiri yang datang ke rumahku membawa bayi perempuan saat putra semata wayangku masih kecil.”
FLASHBACK ON
Suara guntur kian terdengar kencang, bayi kecil itu menangis ketakutan dan tak mau diam.
“His diamlah, kau sudah sampai di rumah ayahmu. Kau harus bisa mengambil hatinya, agar kita bisa tinggal di tempat yang mewah.” Gumam Naracha, ia datang ke rumah rumah mewah Sandi yang kala itu masih ada Sindi dan Arjuna yang masih kecil.
“Maaf, bu. Ibu tidak boleh masuk jika tidak ada kepentingan, lihat juga kondisi bayi ibu. Jangan menemui bapak, kemungkinan bapak sedang istirahat.” Cegah si securty, namun Naracha tidak peduli ia tetap bersikeras ingin masuk.
“Minggir, aku harus menemui Sandiaga! Karenanya, aku harus menanggung malu. Dia harus mempertanggungjawabkannya, ini adalah purtri kandungnya!” pekik Naracha
“Ibu pikir saya bodoh, pergi sebelum saya seret!”
Naracha mengambil ponselnya, ia memperlihatkan pada si securty itu foto dirinya dan juga Sandiaga yang sedang tengah bermesraan.
“Wadidaw, itu benar pak Sandiaga?” tanya securty yang satu laginya, ia mengambil ponsel milik Naracha dan melihatnya dengan seksama.
“Iya, jika kalian menghalangiku untuk masuk. Itu sama saja kalian telah melindungi penjahat, karena ia tela berbohong padaku!”
Karena merasa kasihan, kedua securty itu membiarkan Naracha masuk. Kini, tinggal selangkah lagi ia bertemu dengan pacarnya. Nara menekan pintu bel rumah mewah itu, dan menunggu ada yang membukakan pintu.
__ADS_1
“Siapa?” tanya seorang wanita yang tak lain dia adalah Sindi. “Bu, cari siapa?” tanyanya. “Saya cari pak Sandi, apa ada?” tanya kembali Naracha.
Sindi mengerutkan keningnya. “Ada, ibu ada perlu apa dengan suami saya?” tanyanya kembali yang penasaran. “Ini anaknya, bu. Dia tidak bertanggng jawab pada saya, saya ke sini ingin meminta pertanggungjawabannya.” Ungkap Nara, yang membuat spontan Sindi naik darah.
“KAMU JANGAN MENGADA-NGADA YA! SECURTY, USIR WANITA INI KELUAR!” teriak Sindi yang membangunkan Arjuna yang kala itu tengah tertidur.
Mendengar teriakan istrinya, Sandi langsung melihat apa yang sedang terjadi di luar.
“Apa apa ini, sayang. NARA!”
Sandi sama terkejutnya, ketika sang kekasih berhasil mengetahui rumahnya. Terlebih lagi, ia membawa bayi.
“Apa maksudnya ini, kamu berselingkuh di belakangku mas?!” pekik Sindi
“Iya…” lirih Sandi yang pasrah, untuk apa ia tutupi toh istrinya sudah tau yang sebenarnya sekarang.
“Ini anak kamu, kamu meninggalkanku satu tahun tanpa kabar. Kamu telah berjanji akan menikahiku, tapi kamu tidak pernah kembali setelah hari itu berakhir.” Sahut Nara, hal tersebut juga yang membuat Sindi stres.
FLASHBACK OFF
Sandi tak pernah menyangka, kenyataan pahit iniakanmembuatnya hancur. Ia telah kehilangan istri dan juga anaknya, ia bahkan sempat membuang Arjuna.
“Satu-satunya hal yang paling aku sesali adalah percaya padamu, Naracha!” pekik Sandi.
Ia tak bisa berkata apa-apa, Sandiaga sudah membencinya. Karena ulahnya juga, kini Naracha terjebak dalam permainannya sendiri.
“Bagaimana sayang? Apa kamu sudah puas dengan semuanya?” tanya Sandi yang ambigu.
Nara segera keluar dari ruangan sandi, ia tak ingin jika dirinya akan dijebloskan ke penjara gara-gara menipu suaminya tersebut. Sepertinya, Sandi memang sudah tau yang sebenarnya.
“Sial, aku harus mencari di mana gadis itu berada. Dan meminta kedua oran tuan kandungnya untuk menebus anaknya yang hilang.” Gumamnya, ia tidak tahu jika suatu saat nanti akan terjadi apa-apa padanya.
Semua sudah jelas terlihat, kini tinggal mencari tahu saja siapa sebenarnya kedua orang tua Bela. Entahlah, Arjuna bisa melindungi Bela atau tidaknya. Terlebih lagi, ternyata Bela hanya dijadikan untuk bahan balas dendam saja oleh Arjuna.
__ADS_1
BERSAMBUNG