Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Mencari Arjuna


__ADS_3

Bela masuk kembali ke dalam mansion, ia mengambil beberapa rendang dan juga nasi untuk nantinya mereka bawa pulang.


"Atuh a, ntong diseepkeun!"


'Yah a, jangan dihabiskan'


Sang adik kesal, karena sang kakak yang makan sendirian tanpa mempedulikan adik bungsunya. Bela menghampiri mereka kembali, ia tersenyum dan memberikan rendang yang sudah dibungkus sebelumnya.


"Ini air, dan makanannya kalian bawa saja untuk orang tua kalian di rumah." Ucap Bela, Zidan sang adik menunjukan mata yang berbinar-binar.


"Ga usah teh, ini juga udah banyak" sahut sang kakak yang bernama Zian.


"Banyak karena kamu makan sendiri, adik kamu itu engga kebagian. Mending bawa aja, kasih ke mereka juga agar mereka mau merasakan." Ungkap Bela, ia menaruh rendang dan nasi itu ke rantang.


"Terima kasih banyak, teh" ucap Zian


"Sama-sama, kamu jagain adik kamu. Kasihan dia masih kecil, apa kalian engga sekolah? Umur kamu berapa?" Tanya Bela dengan penuh penasaran.


"Aku Zian 15 tahun, ini Zidan 8 tahun. Kita engga sekolah, teh. Karna ibu engga punya uang buat biayain kita, bapa udah nikah lagi terus pergi ke kampung sebelah ikut istri barunya." Jelas Zian, Bela merasa iba untuk keduanya.


"Lalu di mana ibu kalian?" Tanya Bela sekali lagi.


"Ibu... juga pergi karna pusing mengurus kita, kita berdua tinggal digubuk dekat sawah. Kadang, nenek suka ajak kita pulang ke rumah. Tapi, kalau kita pulang nenek pasti dimarahin kakek karna kita cuma ngabisin beras."


Bela seketika itu tersadar, ia hanya kurang beruntung karna nasibnya yang menikahi Arjuna, demi memenuhi dan mengembalikan perusahaan ayahnya.


"Sudah, kalian sekarang makanlah. Kalau lapar, datang saja ke sini. Aku di sini sampai bulan depan" jelas Bela


"Wah, pasti menyenangkan bisa makan enak setiap hari!" Seru Zidan, namun Zian segera mencubit lengan kanan adiknya.


"Gak boleh gitu, Dan. Kita harus tau diri!" Tegas Zian sang kakak, yang memarahi sang adik.


"Sudah jangan bertengkar, ayo dimakan."


***


Waktu terus berputar dan berlalu, tidak usah mengatakan pada Arjuna karena ia sudah tau. Marah dan kecewa, terutama sakit yang terus menggenggam hatinya.


"Arjun..." lirih Bela, ia hanya bisa melihat Arjuna yang kian hari semakin dingin.


Tidak hanya itu, bahkan Arjuna kini seperti tak menganggap Bela seperti istrinya sendiri. Bagaiman tidak, karena hubungan Arjuna dan Afriska yang kini kian mesra.


Arjuna masuk ke dalam kamarnya, ia tidak makan malam bersama Bela dibawah. Padahal, Bela sudah menyiapkan semuanya.


Dengan berani, ia memberanikan diri untuk menghampiri Arjuna di lantai atas. Sampailah Bela di depan kamar Arjuna, ia mengetuk pintu kamar suaminya itu.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


"Mas Juna, tidak makan dulu?" Ucap Bela, ia masih tetap menunggu Arjuna di depan.


"Mas..."


Bela masih menunggu, dan mengetuk pintu itu dengan berharap Juna membuka pintu. Percuma saja, pintunya terkunci dan ia tak bisa masuk.


"Mas Juna... kamu mau makan tidak?" Ucap Bela, ia masih menunggu Bela yang terdiam.


"Dia semakin hari semakin berubah, mungkin wanita itu juga yang membuatnya berubah. Tapi, aku tidak boleh seperti ini terus. Dia suamiku bagaimana pun juga, aku harus kembali mengambil hatinya!"


Bela turun dari anak tangga, ia masuk ke kamarnya dan membuka koper miliknya.


"Dia pasti tertarik, tapi aku malu..."


Bela keluar dari kamarnya, kebetulan Arjuna juga keluar dari kamarnya. Ia memakai daster yang hanya selutut panjangnya, jujur saja Bela tidak betah tapi mungkin ini bisa membuat Arjuna terpana.


"Kau kenapa berpakaian seperti itu? sama sekali tidak menarik perhatianku. Aku mau pergi, kau jangan kemana-mana dan tetap di sini" kata Arjuna


"Apa? Tapi kenapa aku tidak boleh ikut, kau mau kemana?!"


"Bukan urusanmu!" tegas kembali Juna.


"Apa yang kau sembunyikan, setidaknya beritahu aku agar aku tau!"


Arjuna menghempaskan tubuh Bela sehingga Bela terjatuh ke bawah. Dan Bela juga tidak akan menyangka jika ia akan mendapatkan perlakuan seperti ini. Juna keluar dan mengunci pintu, Bela terus membukanya namun hasilnya hanyalah nihil.


"Dia sudah benar-benar sudah berubah, tidak boleh dibiarkan! aku harus mengambil kembali mas Junaku!"


Arabela langsung kembali ke kamarnya dan mengganti pakaiannya. Ia tidak ingin dicap lemah, memang tidak tahu diri tapi Arjuna adalah suaminya. Dibandingkan harus menangisi suami yang mencoba berselingkuh, labih baik ia memgambil kembali Arjuna.


Bela membuka laci nakasnya, ia tersenyum dan mengambil kunci cadangam yang sudah ia simpan dari jauh-jauh hari.


"Jalan sudah terbuka, sekarang aku harus mencarinya ke mana?" gumamnya.


Benar juga, tidak mungkin ia bertanya pada Rahmat si Mandor. Sedangkan Bela saja tidak memiliki nomernya, ia berusaha untuk berpikir keras mencari jalan keluarnya.


"Aku harap, dia tidak mematikan titik lokasinya. Aku akan coba untuk melacak lewat aplikasi melalui nomer ponselnya."


Bela segera mencari Arjuna, ia tak ingin Arjuna pergi dari hidupnya. Satu-satunya cara agar Arjuna bisa bertahan adalah dengan mempertahankannya.


"Ketemu! Tapi jauh sekali... Kalau begitu, aku harus cari tumpangan atau ojek.''


Karena di desa belum banyak orang-orang yang memakai ojek online, justru karna adanya perusahan cabang Arjuna desa ini semakin maju.

__ADS_1


Bela keluar dari kamarnya, ia membuka pintu yang terkunci itu dan ia juga segera keluar.


"Aku harus cepat! Aku harus cepat! Mereka berdua pasti sedang bertemu, ini kan malam minggu. Awas kau mas Juna, aku akan adukan ke kakek dan ayah!"


Tak bisa dipungkiri, kabut kecemburuan menyelimutinya. Seperti istri pada umumnya, jika melihat suaminya selingkuh sudah pasti akan naik darah.


Bela pergi menggunakan baju lengan panjang berwarna soft pink. Dan juga celana kulot panjang berwarna coksu, ia harus segera mencari Arjuna sebelum Juna benar-benar pergi.


Drt.... Drt.... Drt....


Dering ponselnya berbunyi, Naracha memanggilnya dari aplikasi hijau yaitu WhatsApp.


''Mami? Ada apa mami meneleponku?"


Bela menjawab panggilan telepon dari ibunya sambil berjalan mengikuti maps.


Bela


[Halo, Mi. Ada apa?]


Naracha


[Kenapa tidak membalas pesan, mami. Apa kamu juga sudah membenci mami, sama seperti papi?]


Bela


[Tidak, tapi aku masih kesal pada mami yang meninggalkan papi dan aku begitu saja!]


Naracha


[Bela, mami sangat menyesal... Ikutlah bersama mami menemui grandpa mu, mami..."


Bela


[Tidak bisa, Mi! Bela juga sudah menikah, Bela tidak bisa ikut bersama mami]


Naracha terkejut, Arabela menikah tanpa memberitahunya sama sekali.


Naracha


[APA! KAU SUDAH MENIKAH? KAPAN DAN KENAPA TIDAK MEMBERITAHU MAMI?!]


Tak ingin menambah kesal, Arabela langsung menutup panggilan dari ibunya itu.


"Maaf, mami. Aku harus menyeret priaku dulu!" cetus Bela.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2