Panah Balas Dendam Arjuna

Panah Balas Dendam Arjuna
Kekhawatiran


__ADS_3

Follow IG : @stmaemunahsr 💅


Arjuna dan Arabela memilih untuk pulang. Mereka tidak ingin melanjutkan hari-hari buruknya ke pantai lagi, kejadian tadi membuat Bela seketika trauma akan lautan, ia takut jika hiu tersebut memang akan memakannya.


Namun baiknya Tuhan masih mengizinkannya untuk hidup, mungkin karena ajal Bela yang belum waktunya Juga.


"Bela..." lirih Arjuna pada sang istri yang masih berdiam diri.


Tanpa sepatah kata pun, Bela selalu diam dan tidak berbicara.


"Bela... Bicaralah sayang, kau kenapa?" tanya Arjuna, yang khawatir akan istrinya itu yang masih trauma.


"Jangan-jangan, kau kena mental! Kita pergi ke rumah sakit ya" ungkap Arjuna, Arabela pun spontan menggelengkan pelan kepalanya.


"Tidak mau, aku hanya ingin istirahat." Ungkap Arabela, Arjuna pun hanya menuruti apa yang istrinya mau.


Ia kembali lagi ke hotel, karena kakek Gunawan melarang mereka untuk kembali ke rumah besar selama 3 hari.


"Jalan-jalan ke mana lagi, ke mall? atau tidak ke teman bermain?" tutur Arjuna, ia masih menanjak Arabela untuk bersenang-senang.


"Aku ingin pulang aku ingin tidur... "


Bela membelakangi Juna yang sedang menyetir mobil, terdengar helaan nafas yang terdengar begitu jelas. Juna hanya bisa pasrah menerima istrinya yang sedang bad mood itu.


Karena bertemu dengan predator laut bukanlah hal yang biasa-biasa saja, terlebih lagi di depan matanya sendiri. Tapi ada rasa puas bagi Arjuna karena bisa membuat istri kecilnya menderita.


Hari semakin sore, kakek Gunawan takut dengan apa yang akan Arjuna perbuat pada Arabela. Terlebih lagi, Bela memang tidak salah karena dia memang bukanlah anak dari sandiaga.


"Ke mana Arjuna. Kenapa dia belum membalas pesan Whatsapp ku juga, apa dia sedang melukai Bela... Tidak, tidak mungkin tidak mungkin. Juna tidak sejahat itu. Ya, Juna tidak mungkin sejahat itu dan..." Lirih kakek Gunawan.


Ia sangat khawatir akan keselamatan Bela, terlebih lagi Arjuna mengatakan bahwa ia akan pergi ke pantai bersama Bela, dan membalaskan dendam pada ayahnya perlahan-lahan.


Pak Samin menghampiri kakek Gunawan yang tengah terlihat khawtir tersebut, ia sepertinya tidak menyangka bisa melihat kakek Gunawan khawatir selain ke tuan muda Elgara.

__ADS_1


"Tuan besar, ada apa anda menangis?" tanya Pak Samin, kakek Gunawan pun meliriknya.


"Aku mengkhawatirkan cucu menantuku, bisa-bisanya Arjuna pergi ke pantai. Walaupun dia sudah tahu jika istrinya itu tidak bisa berenang." Jawab kakek Gunawan.


Pak Samin terdiam, ia sudah mengetahui apa yang akan merencanakan tentang balas dendamnya dan juga penghianatan yang selama ini Ayahnya berikan pada ibunya.


"Saya juga khawatir, tuan besar. Terlebih lagi dengan tuan muda yang sangat-sangat berambisi untuk membalas dendam." Jawab pak Samin, mengkhawatirkan akan Bela yang kini berada di tangan Arjuna.


"Kau benar, sebaiknya aku harus menghubungi cucuku dulu."


KakekGunawan mengambil ponselnya, Ia menghubungi Arjuna dengan via telepon, dan Arjuna yang kala itu sedang menyetir mobil langsung menjawab panggilan telepon dari kakek.


"Kakek, ada apa kakek meneleponku?"


Karena penasaran dan juga takut jika ini adalah panggilan penting, Arjuna pun menjawab panggilan telepon tersebut.


Arjuna : "Halo assalamualaikum kek, ada apa meneleponku? Apa ada yang bisa aku bantu?"


Kakek Gunawan : "Ttidak ada, kakek hanya ingin tahu bagaimana kau di sana dengan istrimu?" Tanya balik kakek Gunawan.


Nohongnya, Juna tidak mungkin menceritakan pada kakek Gunawan jika Arabela hampir saja merenggang nyawanya. Terlebih lagi dengan rencana balas dendam Arjuna yang kian membara.


Ia akan memastikan Bela akan benar-benar menjadi tempat pelampiasannya, bukan tempat persinggahannya.


Kakek Gunawan : "Ya sudah, kakek khawatir jika ada apa-apa antara kau dan juga istrimu. Jaga kesehatanmu dan juga diri kalian berdua, kau akan pulang kapan ke rumah besar, kakek akan menunggu kepulangan kalian berdua di sini."


Ucap kakek Gunawan, ia seraya merindukan sang cucunya yang kini telah berumah tangga. Akan tetapi, Arjuna yang berumah tangga itu hanya untuk sekedar balas dendam, bukan untuk benar-benar ingin menikah.


Arjuna : " Ya sudah kek, jaga kesehatan kaki baik-baik jangan terlalu banyak begadang, dan makan gula" pinta Arjuna


Ia mengingat akan kesehatan sang kakak yang kian hari kian memburuk.


Kakek Gunawan : "Hmm, baiklah."

__ADS_1


Kakek tutup sambungan telepon ini, terputus secara sepihak oleh kakak Gunawan, Arjuna menaruh kembali ponselnya. Ia melihat sang istri yang sedang membelakanginya, Arjuna mencoba untuk membujuk arah Bela akan tetapi arah Bela masih diam tidak ingin mengatakan apapun.


"Bela, berbicaralah" pinta Arjuna.


Namun sang istri yang masih belum mau membuka suaranya.


"Bel, jangan seperti ini, bulan depan aku akan pergi ke Bandung untuk melakukan pengecekan proyek perusahaan cabang... " ungkap Arjuna Arabela masih diam enggan untuk berbicara.


Sampai akhirnya, mereka sudah sampai di hotel Bela segera turun dan tidak menunggu Arjuna seperti di pantai tadi. Mungkin Bela sedang merajuk kepada sang suaminya tersebut.


"Awas kau, Bela!" Arjuna segera menghampiri istrinya tersebut dengan naik ke lantai atas.


Namun adanya mendapatkan panggilan dari Marsel sang sekertarisnya tersebut.


"Haki selamat sore, bos muda. Maaf mengganggu aktivitasnya sebentar, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pada bos muda, bahwa perusahaan cabang yang sedang dibangun sudah hampir selesai, kemungkinan ketika kita ke sana nanti sekitar 87% perusahaan sudah beres." Ungkap Marsel di sela teleponnya tersebut.


Ia memberitahukan tentang info yang ia dapat dari penanggung jawab di sana.


"Baguslah, lebih cepat lebih baik." ucapan Arjuna


"Aku bisa mempersiapkan, semuanya kapan? untuk pergi ke kota Bandung? " tanya Marsel, untuk meminta klarifikasi pada Arjuna agar ia tidak keteteran tugas yang juna berikan untuk Marsel.


" siapkan Hotel, pakaian dan kebutuhanku dan kau juga Marsel. Oh iya, jangan lupa untuk mempersiapkan barang-barang dan jika kebutuhan untuk istriku. ia akan ikut bersamaku ke Bandung nanti. "


Marsel berdehem pelan menghadapi pasutri baru ini yang sedang bulan madu, Marsel sudah menduga-duga jika arjuna yang tidak ingin jauh-jauh dari istrinya tersebut.


"baik pula Bos muda Aku akan segera menyiapkan semuanya." tutup panggilan telepon ini.


Arjuna tersenyum kali ini, ia tidak ada waktu untuk membuat Arabela terkesan padanya.


Tidak ada kabar dari sandiaga, ia pulang ke rumah megah itu dan tinggal sendirian. Namun tentang perusahaannya kini masih berada di tangan Arjuna.


Entahlah bagaimana selesaia dan pertikaian kedua antara anak dan ayah ini. Mungkinkah mereka bisa berdamau, atau akan terus sampai cerita ini berakhir sepenuhnya nanti.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2