
Sandi menceritakan keluh kesahnya pada Arjuna, dan semua itu terdengar oleh kakek Gunawan.
"Juna, ayah mau kita besok bertemu. Apa kau bisa...?" tanya Sandi
Arjuna pun mengiyakan permintaan sang ayahnya tersebut, dan hal itu pun juga terdengar oleh kakek Gunawan yang mengetahui mereka berdua akan bertemu.
"Bisa ayah, di mana dan jam berapa?" tanya Arjuna.
"Di cafe cherry dan jam 3 sore" jawab Sandi
Arjuna mengiyakannya kembali, ia akan menuruti apa yang ayahnya mau.
"Baiklah, aku akan datang sesuai dengan apa yang ayah katakan barusan" ucap Arjuna
"Baiklah, ayah akan menunggumu di tempat itu."
Sandiaga mematikan sambungan telepon itu secara tak sepihak, Arjuna menaruh kembali ponselnya di atas meja. Ia melirik sang kakek, dan memberikannya kode agar sang kakek dapat mengizinkannya untuk pergi besok.
"Kek, bolehkan aku pergi?"
Kakek Gunawan hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari cucu kesayangannya. Ia hanya mengisyaratkan dengan anggukan kepala yang pelan, itu menandakan bahwa kakek Gunawan memperbolehkan Arjuna untuk pergi, menemui sang ayah tercinta.
Arjuna tersenyum, selangkah demi selangkah rencananya telah berjalan dengan sangat sempurna.
"Kau boleh pergi, asalkan selesaikan dulu pekerjaanmu di kantor" ucap kakek Gunawan.
Arjuna mengangguk pelan, "Baik kek."
Malam berganti, Arjuna menepati perkataannya yang akan menemui sang ayah di cafe Cherry. Sesuai dengan yang mereka janjikan, Arjuna mendapatkan ayahnya yang baru datang dengan keadaan yang begitu memperihatinkan.
Sandi hanya menggunakan sandal, dan juga celana jeans yang sudah pudar warnanya. Arjuna telah mendengar tentang berita penyitaan perusahan ayahnya tersebut, dan juga penyitaan rumah megahnya itu. Sangat memperihatinkan memang, tapi Arjuna senang karena ayahnya kini sudah berada dititik bawah.
"Selamat datang Ayah, aku sudah menunggu lama, ayo duduk" sapa Arjuna yang memulai basa-basi.
__ADS_1
"Maaf, Juna. Tadi ada kemacetan saat Ayah ingin pergi ke sini, kau tidak keberatankan menunggu ayah yang lama?" tanya Sandiaga.
Tak seperti biasanya, perkataan Sandiaga yang begitu keras dan kasar kini berubah menjadi lemah lembut. Tentunya dia sudah tahu, niat sang ayah datang kepadanya untuk apa. Apalagi jika bukan untuk meminta pertolongan pada Arjuna.
"Ayah, duduklah. Apa ayah sudah makan? aku sudah memesankan beberapa roti untukmu, dan juga kopi kesukaanmu. Tenang saja, semua aku yang traktir." Jelas Arjuna, Sandiaga spontan menggelengkan pelan kepalanya.
Jujur saja, ia kini merasa gengsi dan juga mau di letakkan keman harga dirinya. Jika ia ditraktir oleh anaknya sendiri, yang dulu ia buang demi uang.
"Tidak perlu Arjuna, ayah hanya ingin mengatakan satu hal kepadamu."
Arjuna semakin tersenyum, akankah sang ayah memintanya untuk menyelamatkan perusahaannya, atau meminjam uang kepadanya.
"Katakan saja Ayah, kau adalah ayahku. Aku akn membantumu, katakanlah."
Sandi menghela nafasnya dengan berat, ia tak kuasa untuk menahan air matanya itu.
"Aku ingin kau memasukkan Arabela di perusahaanmu, bagaimanapun juga dia harus bekerja keras untuk tetap hidup. Tidak seperti ibunya, yang memanfaatkan kekayaan dari seorang pria."
Arjuna syok berat, apa yang ia dengar tidak sesuai dengan apa yang terlintas pada otaknya.
"Iya, aku menyadarinya sekarang. Meskipun Arabela bukan putri kandungku sekalipun, aku sangat menyayanginya seperti putriku sendiri."
Arjuna yang mendengar pernyataan dari sang ayahnya itu pun tertawa, tak percaya dengan apa yang ayahnya katakan tersebut. Meskipun banyak orang-orang yang sedang barada di cafe menganggap Arjuna aneh, namun Arjuna sama sekali tidak mempedulikannya sedikitpun.
"Eh, apa. Sangat menyayanginya ya? Lalu bagaimana dengan aku, yang selama ini selalu ayah abaikan dan juga ayah tidak anggap sekalipun. Tapi aku percaya, tuhan maha adil dan maha tahu. Maaf, aku tidak bisa menerima Arabela Ayah, kecuali jika Ayah mau Arabela menjadi istriku apa Ayah keberatan?"
Arjuna tetap ingin menikahi Arabela, meskipun Sandiaga sudah beberapa kali menolaknya.
"Jangan membuatku kesal Arjuna, bagaimanapun juga Bela tidak pantas untuk bersamamu!" pekik Sandiaga
"Tidak pantas? aku yang tidak pantas atau putrimu yang tidak pantas?" tanya balik Arjuna dengan penuh penekanan untuk ayahnya tersebut.
"Arjuna! Apa yang membuatmu tertarik pada Arabela, dia adikmu. Kau tidak seharusnya menikahi dia Arjuna!" Ucap Sandiaga dengan nada penuh ketegasan pada kalimatnya.
__ADS_1
"Itu karena aku mencintainya ayah. Aku mencintainya, sangat-sangat mencintainya. Tidak sepertimu yang mencintai ibuku hanya sebatas rasa penasaran semata."
Sandiaga terdiam, ia tak ingin melanjutkan pembicaraannya jika menyangkut soal almarhum istri pertamanya.
"Arjuna, maafkan ayah ketika di masa lalu. Ayah, ayah sangat menyesal..."
Kalimat itulah yang Sandiaga ucapkan terakhir kalinya, sebelum ia pergi meninggalkan Arjuna tanpa menunggu jawaban dari Arjuna.
Arjuna menghela nafasnya, dan menatap punggung sang ayah yang berjalan keluar dari dalam cafe.
"Aku sudah bilang Ayah, balas dendamku itu seperti anak panah. Aku akan melesatkan anak panahku saat aku sudah menemukan titik tepatnya," gumam Arjuna.
Ia juga akan segera pergi, tapi rasanya sangat mubazir baginya, untuk menyia-nyiakan makanan yang telah Ia pesan dan belum sempat termakan itu. Sangat lumayankan jika diberikan kepada pelayan di rumah besar, atau diberikan kepada gelandangan yang sedang mencari makan dengan susah payah.
Karena Arjuna pernah merasakan pahitnya, dan sakitnya hidup dengan mandiri tanpa siapapun.Sebelum Juna bertemu dengan kakek Gunawan, ia sangat mensyukuri hidupnya yang sekarang.
"Maafkan Juna, mungkin Arjuna durhaka pada ayah. Tapi inilah pelajaran untuk ayah," batin Arjuna.
Juna berjalan keluar Cafe, sambil menjinjing paper bag kertas yang berisikan makanan dan juga minuman yang telah ia pesan tadi. Saat Arjuna keluar dari pintu Cafe tersebut, Riska baru saja datang.
Pujaan hati Arjuna yang sempat ia sukai beberapa waktu yang lalu, namun Afriska bersikap dingin pada Arjuna, ia teringat dengan perkataan Vito yang dulu menyadarkannya Riska untuk tidak mencintai Arjuna.
Bagaimana jika nanti Arjuna tahu, jika Riska dulu adalah mantan dari Algeria.
Mata mereka saling bertemu, tapi Arjuna memilih diam dan juga begitu Afriska. Mereka seolah-olah tidak saling mengenal sebelumnya, sakit dan sesak rasanya.
"Apakah aku bersalah, karena dulu sempat ingin menikahinya jika aku sudah menjadi tuan muda Elgara kembali?" batin Arjuna.
"Pergilah menjauh tuan muda Elgara, aku tidak pantas bagimu. Telah menyakiti Algeria sudah membuatku tersadar akan posisiku" batin Afriska, nampaknya ia begitu menyesalinya.
Mereka sama-sama saling mencintai. Namun karena takdir yang tidak menginginkan mereka bersama, dan juga keadaan yang tidak mengerti cinta mereka. Mereka berdua harus berpisah oleh ego, dan juga perasaannya masing-masing.
... BERSAMBUNG ...
__ADS_1
HELLO PEMBACA YANG BUDIMAN, JANGAN LUPA KEMBANG KOPINYA. LOPE-LOPE SEKEBON CABE, BUAT YANG SERING KOMEN 😙😍