
Lekas sembuhlah hati dan jiwa yang sedang bermasalah - Arabela
Kini, Bela pergi ke villa untuk mengambil barang-barangnya. Ada rasa tak karuan dihatinya, ia tak menyangka jika ini akan terjadi dan menimbulkan luka yang begitu sakit.
"Cepat atau lambat, aku ingin kisah ini segera seleq sai" batin Bela.
Bela menelepon Jaemin, yang merupakan sahabatnya sewaktu di Amsterdam. Sudah beberapa kali ia mengatakan pada Bela, selalu berhati-hati jika mencari pasangan terutamanya suami. Qqqqaa,
Ia terus menelepon sahabaatnya itu, namun Jaemin tak kunjung menjawab dan Bela pun terus-terusan menelepon Jaemin.
"JAHE, CEPATLAH ANGKAT!" Teriak Bela, yang mengumpati sahabatnya tersebut.
Sampai kembali ke Villa, Bela segera turun dan mengucapkan terima kasih banyak pada Rahmat. Bela masuk dan mengunci rapat-rapat kamarnya, ia tak mau jika Arjuna pulang nanti ia mengamuk pada Bela.
"Arjuna belum pulang juga, dia sedang apa ya... dia pasti sangat marah padaku."
Bela melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 10 malam. Tapi, arjuna belum juga pulang sampai larut malam. Dan Bela segera menelepon Jaemin kembali, karna ia tak mungkin jika masih tinggal bersama pria yang telah menyelingkuhinya.
Karena resah juga, Jaemin pun menjawab panggilan telepon dari Arabela yang kini terus menghujani layar ponselnya.
Jaemin
"ADA APA, BELBEL. KAU TERUS MENGGANGGUKU, AKU SEDANG LEMBUR TADI!"
Bela tersenyum, akhirnya Jaemin menjawab panggilan teleponnya tersebut. Ada rasa senang dan juga bebas, akhirnya ia bisa kembali ke Kota.
Arabela
"Baguslah kau menjawab, cepat jemput aku di kota Bandung di desa XXR. Sekarang Jahe, aku ingin pulang..."
Lirih Bela, rasanya tak mungkin bagi Jaemin untuk menjemput Arabela. Apalagi ini sudah malam dan ia baru selesai lembur, mana mau Jaemin menjemput Bela.
Jaemin
"TIDAK! Kau pasti sudah gila, aku sangat lelah dan juga capek! Kau juga sudah punya suami. Minta suamimu saja yang mengantarmu untuk pulang, apa dia malas saking tidak maunya." Cibir Jaemin, ia mengemudi sambil menjawab panggilan dari Arabela.
Arabela
"Aku mohon... Aku sedang bertengkar hebat dengan suamiku... Dia, akan aku jawab setelah kau menjemputku. Aku sangat takut,
jika bukan kau siapa lagi yang harus aku minta tolong..."
__ADS_1
Lirih Arabela membuat Jaemin luluh, setidaknya jika nanti terjadi sesuatu pada sahabatnya ia akan turun tangan langsung. Tidak peduli jika ia harus bertengkar hebat dengan suami sahabatnya itu, setidaknya Jaemin melakukan hal yang benar.
Jaemin
"Baik, share lokasimu di mana sekarang. Aku akan segera datang."
Arabela menshare lokasinya, ia menunggu kedatangan Jaemin di Villa. Semalaman ia menunggu, dan ia juga berjaga. Tapi anehnya, baik Arjuna dan juga Jaemin belum ada yang datang sampai tengah malam.
"Arjuna tidak pulang, mungkinkah ia... Tidak Bela, masa bodo jika ia masih menjalin hubungan dengan siapapun, kau tidak boleh menghalanginya lagi Bela." Gerutu Bela, ia tak mungkin menghalangi Arjuna lagi.
Setelah ini, ia akan berusaha untuk bekerja dan melunasi hutang-hutang Sandiaga. Ayah angkatnya, yang kini telah menjadi ayah mertuanya. Walaupun dia adalah ayah Arjuna secara garis keturunan, tapi Arabela tetap saja berhutang budi pada sang ayah.
Arabela membuka galeri diponselnya, ia mengklik folder foto yang bertuliskan 'me and my hubby'
"Kenangan ini, begitu manis... namun saat menjalninya, begitu pahit."
Bela membuka kembali gambar tersebut, dan ia kembali menangis. Sedari awal, Bela sudah tidak yakin jika pernikahannya ini akan langgeng.
"Arjuna, terima kasih untuk segalanya." Bela bangkit dari duduknya, ia mengambil koper dan memasukan kembali baju-baju yang awalnya sudah rapi di dalam lemari.
Ia tidak ingin terus tenggelam dalam lautan api, yang mampu membuatnya terbakar.
Sudah jam 4 pagi, kedua lelaki itu tak kunjung datang. Arabela yang menunggu semalaman pun mulai mengantuk, namun ia harus tahan karena Bela harus menunggu Jaemin datang.
Dering ponsel Bela berbunyi, ia sontak terkejut dan melihat siapa itu.
"Akhirnya, Jahe!" Seru Bela kegirangan, ia begitu senang melihatnya.
Tak mau pikir panjang, Bela menjawab panggilan dari Jaemin.
Arabela
"Halo, Jahe! Akhirnya kau meneleponku, aku sangat senang sekali..."
Jaemin
"Halo, Bel. Aku sudah di depan Villa, kau ada di dalam kan? Apa ada suamimu?" Tanya jaemin
Arabela
"Tidak... Aku sendirian saja, sedari malam aku menunggunya pulang dan ia tidak pulang. Aku langsung ingin pulang, Jahe..."
__ADS_1
Lirih Bela, dengan nada yang terisak.
Jaemin
"Haish! Sudah cepat keluar dan kita pulang. Kau tidak usah menangis, kita bisa ceritakan di mobil saja."
Arabela
"Em, iya jae... tunggu sebentar aku akan bawa koperku dulu. Kau benar-benar sudah sampai kan?"
Jaemin
"Iya, aku di luar mobil ini. Aku sengaja pulang dari lembur tidak pulang dulu, karna apa. Karna kau, Bela! Beruntung kau memilikk sahabat sepertiku"
Arabela langsung mengambil kopernya, ia keluar dari kamarnya dengan begitu tergesa-gesa. Ia sangat takut jika Arjuna nanti akan datang mendadak, apalagi sampai bertengkar dengan Jaemin.
"JAHE!" teriak Arabela, ia melihat Jaemin yang melambaikan tangannya di sana.
Bela mendatanginya, ia menangis di depan Jaemin yang begitu lelah pulang dari lembur dan pergo menjemput Bela. Bukan waktu yang sebentar memang, tapi ia harus bersabar karena Arabela sedang dalam masalah.
"Bela, taruh kopermu di bagasi. Kau yang menyetir ya, aku benar-benar sangat lelah sekali."
Mau tak mau, Bela menurutinya karena Jaemin yang begitu baik padanya.
"Iya, Jahe."
Setelah menaruh koper Bela di bagasi, Bela segera mengemudikan mobil Jaemin. Tidak lupa ia sebelum pergi tadi, sempat mengunci dan mematikan beberapa lampu di vila. Agar ketika Arjuna pulang nanti, ia berpikir jika Bela masih ada di sini.
Bela dan Jaemin saat itu juga langsung pulang kembali ke kota. Jaemin yang sudah sangat lelah itu tertidur, dengan kursi penumpang yang sengaja ia luruskan agar ia bisa tidur dengan nyenyak.
"Arjuna... Aku pulang dulu."
Baru saja empat puluh lima menit Bela menyetir, rasa kantuknya terus menghantuinya dan memberatkan matanya. Ingin sekali membangunkan Jaemin yang sedang tertidur dengan pulas, tapi Bela kembali menghentikannya.
Melihat perjuangan sahabatnya yang penuh pengorban itu, membuatnya semakin bersyukur akan hidupnya yang masih dikelilingi oleh orang baik.
Jam 7 pagi, mereka baru sampai di jalan tol. Dan Bela melajukan kendaraan dengan sangat kencang, ia menangis karena kembali mengenang rasa sakit dipipinya yang terus membekas.
"Hiks... Hiks... Hiks..."
Mendengar suara isakan tangis, Jaemin terbangun dan melihat Arabela dengan tatapan tak karuan. Diantara masih linglung, dan juga rasa kantuk yang masih menguasainya.
__ADS_1
"Bela, kau kenapa? Kenapa kau menangis, ada apa ini Bela?"
BERSAMBUNG